34 Tari Tradisional Sumatera Utara Beserta Penjelasan dan Gambar

Tari Tradisional Sumatera Utara – Pada artikel kali ini, saya akan coba mengulas mengenai tarian daerah Sumut secara lengkap, dengan bahan bacaan yang mudah dipahami serta dilengkapi penjelasan dan ulasan pendukung.

Tarian adat Sumatera Utara ini menurut saya juga cukup banyak, karena disetiap provinsi, hampir pada setiap kabupaten atau daerah kecilnya berkembang Tari legendaris masing-masing, dan terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Pada pembahasan sebelumnya, saya telah mengulas mengenai daftar tarian tradisional asal Aceh dan Sumatera Barat secara lengkap.

Dan pada kesempatan ini, Admin Senipedia beralih ke Sumatera Utara, semoga nantinya ulasan ini bisa bermanfaat dalam menambah wawasan kamu.

Daftar Tari Tradisional Sumatera Utara dan Penjelasannya

Bagi yang masih ragu, Sumatera Utara merupakan sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatera, tepatnya diantara Provinsi Aceh dan Sumbar, dengan beribukotakan Medan.

Seperti yang kita tahu, Sumut tersohor dengan cerita legendanya yakni proses terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir ditengahnya. Selain itu, ada Suku Besar Batak yang terkenal dengan Logat dan kehebatan dalam bernyanyi.

Oke, kalau begitu langsung saja, berikut adalah Nama Tari Tradisional Sumatera Utara beserta penjelasannya. Siapkan Kopi + cemilan, karena artikel ini cukup panjang.

Tari Tradisional Sumut dari Batak Toba

Gambar Penari Batak Toba

Dalam bahasa Batak, Tari disebut sebagai Tortor, yang berasal dari Kabupaten Samosir, Tapanuli Utara. Tarian asal Batak Toba juga cukup beragam dengan berbagai fungsi, antara lain adalah :

Tortor Sawan Panguras

Tari Sawan Panguras ini berasal dari cerita legenda, dimana ada seorang raja yang bermimpi bahwa akan ada salah satu kawasan yang akan runtuh, kemudian dia berniat menafsirkan mimpinya namun tidak ada yang tahu.

Setelah itu dia mengunjungi seorang dukun wanita (Sibaso Bolon) dan berharap dukun tersebut tahu. Sibaso Bolon dan 6 gadis lainnya mulai melakukan ritual untuk menghindari kejadian buruk di sekita desa.

Mereka meletakkan cawan / mangkok di atas kepala, sambil menari diiringi musik khas Batak. Sejak saat itu, tarian ini berkembang pesat dan dipercaya mampu mengusir roh jahat karena mengandung magis.

Itulah mengapa, hingga kini tarian ini dilengkapi dengan properti mangkok dijunjung, sembari diiringi musik khas Batak, serta dimainkan oleh beberapa orang wanita.

Tari Tortor Sombah

Gerakan dalam tarian ini sangat elegan dan bervariasi, tidak lepas dari musik pengiring gendang, atau masyarakat suku Simalungun menyebutnya dengan nama Gonrang Sabangunan.

Tortor Tunggal Panaluan

Tari Tunggal Panaluan sudah berusia ratusan tahun, dalam artian, sudah ada sejak dimana etnis-etnis Batak berkembang di semua daerah.

Tarian ini juga mengandung unsur spiritual yang tinggi, sehingga siapa saja yang memainkannya harus berhati bersih dulu dan tanpa niat kotor.

Tor Tor Tunggal Panaluan awalnya dijadikan sebagai media komunikasi antara manusia dengan para dewa / penguasa, dimaksudkan untuk mendapatkan bantuan keamanan dan keselamatan dari mara bahaya serta bencana.

Tortor Sipitu Sawan

Tari ini menurut saya sangat unik dan berbeda dengan Tor tor lain yang biasa kita lihat. Dalam tarian Sipitu Sawan, dibawakan oleh beberapa Wanita dengan dilengkapi properti berupa Cawan / mangkok yang diletakkan di sekujur badan.

Menurut beberapa sumber, tarian ini hanya akan diselenggarakan pada beberapa acara tertentu saja. Selain itu, hanya orang-orang terpilih yang bisa memainkannya, karena sangat sulit serta memiliki tingkat seni yang tinggi.

Tarian Daerah Sumut dari Batak Karo

Tari tradisional sumut
Tarian Adat Sumut dari Batak Karo

Dalam bahasa Karo, Tari disebut dengan Landek. Sama dengan Tari Tradisional Sumatera Utara lainnya, semua tarian Batak Karo punya maksud dan tujuan yang beragam, begitu juga dengan pamerannya ada yang umum ada pula yang khusus.

Berikut ini adalah beberapa Tarian / Landek asal Batak Karo, yang sudah terkenal dan berusia tua :

Tari Gundala-Gundala

Tari Gundala berasal dari masyarakat Suku Batak Karo. Tarian ini disebut-sebut sebagai tari pemanggil hujan, atau dalam bahasa mereka ialah Ndilo Wari Udan. Penari biasanya memakai Topeng yang terbuat dari kayu sebagai properti pelengkap.

Sejarah tari Gundala cukup panjang. Namun singkatnya, zaman dahulu ada seekor burung raksasa bernama Gurda-gurdi, sekaligus prajurit terbaik sang raja. Namun karena kesalahpahaman, raja bersama pasukan membunuh Gurda-gurdi.

Kematiannya menimbulkan kesedihan bagi semua warga, bahkan hujan pun turun seakan ikut bersedih. Sejak itulah muncul tari Gundala sebagai tarian pemanggil hujan, sekaligus mengenang kematian Gurda-Gurdi.

Tari Piso Surit

Piso Surit adalah nama seekor burung. Lalu apa hubungan sebuah tari dengan seekor burung? Nah, tarian Piso Surit ini bercerita tentang seorang wanita yang menantikan seorang kekasih, saking lama dan sedihnya.

Diibaratkan seekor burung Piso Surit yang suka memanggil-manggil, seakan sedang mencari atau menunggu seseorang, jadilah nama tarian ini Piso Surit karena memiliki kesamaan makna.

Tari Piso Surit biasanya digunakan dalam rangka menyambut tamu-tamu terhormat yang berkunjung, dimainkan oleh beberapa orang wanita dengan gerakan lemah gemulai, terkesan sedang bersedih dan merenung.

Tari Mejuah-Juah

Fungsinya tidak jauh berbeda dengan tarian Piso Surit, yakni digunakan sebagai tari sambutan terhadap tamu atau tokoh penting, bahkan rombongan-rombongan yang berkunjung ke Tanah Karo.

Tari Ndikar

Sebenarnya Kesenian Ndikar ini lebih condong kepada seni bela diri atau pencak silat di tanah Karo. Namun seiring perkembangan zaman, Ndikar dijadikan sarana hiburan bersifat umum, dengan diiringi musik tradisional khas Karo.

Tari Lima Sedangkai

Tari ini dilakukan secara berpasang-pasangan, yakni 10 orang pemuda-pemudi yang terbagi menjadi 5 pasangan. Tarian ini sudah ada sejak lebih 50 tahun yang lalu, dan selalu hadir pada acara-acara adat seperti Guro-Guro maupun kerja tahunan.

Tari Sigundari

Dalam bahasa Batak Karo, Sigundari artinya “Sekarang”. Ini adalah salah satu Tari khas Karo yang telah modern mengikuti perkembangan indusrti alat musik, karena musik pengiring telah menggunakan Keybord. Selebihnya, tidak ada pakem khusus pada tarian ini.

Tari Mbuah Page

Tari Mbuah Page biasanya diadakan saat perayaan kerja tahunan, sebagai media permohonan dan harapan agar hasil panen melimpah, serta terus meningkat pada masa-masa panen berikutnya.

Beberapa tarian khas Batak Karo lainnya antara lain adalah Kuda-Kuda, Mulih-Mulih, Baka, Begu Delleng, Muncang dan Guro-Guro Aron.

Tari Tradisional Sumut Adat Mandailing

Tari Adat Suku Mandailing
Tari Daerah Sumut dari Mandailing

Mandailing merupakan sebuah suku yang mayoritas penduduknya berada di Sumatera Utara, tepatnya di daerah Kabupaten Mandailing Natal dan Padang Lawas.

Ada sekitar 15 Marga yang diakui Sah sebagai suku mandailing, antara lain adalah Pulungan, Nasution, Lubis, Matondang, Rangkuti, Batubara, Harahap, Dalimunthe, Hutasuhut, Siregar, Hasibuan, Daulay, Pane dan Pohan.

Keanekaragaman tersebut menimbulkan budaya dan tradisi yang berbeda pula, begitu juga soal Tarian daerahnya. Nah, dibawah ini adalah beberapa Tari Tradisional Sumatera Utara asal Mandailing yang paling terkenal :

Tari Endeng-Endeng

Tari Daerah Sumut dari Mandailing yang pertama bernama Endeng-Endeng, dan berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Tarian ini bernuansa ceria yang terbambar dari Naposo Nauli Bulung (Muda-Mudi), saat menanam dan panen raya.

Dalam penampilannya, tarian ini diperankan oleh 10 orang, dengan tugas :

  • Vokalis : 2 orang
  • Pemain Keyboard : 1 orang
  • Pemain Tamborin : 1 orang,
  • Penabuh Gendang : 5 orang
  • Pemain Ketipung : 1 orang.

Umumnya, lagu yang dibawakan berbahasa asli Tapanuli Selatan. Setiap tampil, kesenian ini memakan waktu empat jam. Daya tarik kesenian ini adalah joget dan tariannya yang ceria, sesuai dengan lagu-lagu yang dibawakan.

Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung

Naposo Nauli berarti pemuda dan pemudi. Sesuai dengan namanya, tari ini dimainkan secara berpasang-pasangan, dengan 3 pasangan pria dan wanita. Nuansa tari yang ceria ini dijadikan sebagai media hiburan dan pengisi beberapa kegiatan umum.

Uniknya, dalam 3 barisan pasangan tersebut masing-masing harus memiliki marga yang berbeda. Jadi jika harian depan bermarga Nasution, maka barisan belakang harus berbeda, misalnya Lubis, dan begitu juga sebaliknya.

Tari Guro-Guro Aron Terang Bulan

Jika diartikan namanya, Guro-Guro artinya Gurau / bercanda, sedangkan Aron yakni Muda-mudi. Jadi, arti tarian ini adalah”Bersenda gurau” antara sesama anak muda dan mudi, dalam satu kelompok kerja berbentuk arisan untuk mengerjakan ladang.

Unsur pembentukan dalam tarian ini antara lain adalah gerak endek (gerak naik turun), gerak jole (gerak goyang badan), dan gerak lampir tan (gerak kelentik jari).

Tor-Tor Tepak

Jika di Minangkabau ada tari Pasambahan, maka di Mandailing terdapat Tari Tepak, yang biasanya ditampilkan saat penyambutan mempelai dalam pesta perkawinan (Datangnya pengantin/ Horja Godang untuk perkawinan).

Tortor Tepak diadakan pada pembukaan sidang adat di masyarakat. Uniknya, pada saat upacara perkawinan Horja Godang Haroan Boru, dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh.

Tari Sarama Datu

Tari Saraman Datu sangat erat kaitannya dengan Upacara ritual Paturun Sibaso, serta diiringi oleh ensambel musik Gordang Sambilan.

Sedangkan penarinya satu orang yang dinamakan Sibaso, adalah tokoh Shaman dalam religi lama orang Mandailing yang disebut Si Pelebegu.

Awalnya, tarian budaya ini diselenggarakan saat terjadi musibah seperti penyakit menular, kemarau panjang dan sebagainya, sehingga penduduk setempat meminta pertolongan roh-roh leluhur, dengan perantaraan Sibaso.

Karena menurut mereka hanya Sibaso inilah yang dapat berkomunikasi dengan Begu (hantu / makhluk halus).

Tari Adat Sumut Etnis Simalungun

Tari tradisional asal Simalungun
Tari Toping Kekayaan Simalungun

Sebagian besar etnis Simalungun mendiami wilayah Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun itu sendiri. Sama dengan Karo, tari disana disebut dengan Tortor, namun makna tari disini lebih cenderung ke nilai sosial dan kehidupan.

Beberapa Tari Tradisional Sumatera Utara asal Simalungun yang sudah cukup tersohor dan juga melegenda antara lain adalah sebagai berikut :

Tari Toping-Toping

Daerah Simalungun dahulunya dihunyi oleh beberapa kerajaan, dan tari Toping-Toping ini telah hadir saat itu, dimana biasanya digunakan untuk menghibur keluarga kerajaan.

Namun perkembangan zaman mengalih-fungsikan tarian ini menjadi sarana hiburan.

Tarian ini diiringi dengan alat-alat musik tradisional yang disebut gonrang sidua-dua. Alat musik ini terdiri sarunei bolon, mongmongan dan ogung.

Toping akan ditarikan oleh beberapa penari yang memakai kostum khusus dan mengenakan topeng besar.

Topeng yang digunakan juga bukan sembarangan, ada 3 jenis topeng yang diantaranya :

  • Topeng Dalahi (topeng menyerupai wajah pria, dipakai penari pria)
  • Topeng Daboru (topeng menyerupai wajah wanita, dipakai penari wanita)
  • Topeng huda-huda (menyerupai paruh burung enggang, dibentuk dari jalinan kain).

Tari Manduda

Jika di Sumbar ada Tari Piring, maka di Sumut ada Tari Manduda, yang bermakna sama. Dalam gerakan Tari Manduda, bercerita tentang para petani yang sedang bekerja di sawah, mulai dari proses menanam, menyiangi hingga proses panen.

Artinya, tarian ini adalah ungkapan rasa syukur dalam masa panen raya, semua gerakan yang dilakukan sangat lincah, gemulai dan bersemangat, serta dilakoni oleh pria dan wanita.

Tari Haroan Bolon

Tari ini diciptakan oleh Tuan Taralamsyah Saragih pada tahun 1959, dimana Haroan Bolon merupakan judul lagu yang sekaligus menjadi iringan dalam tarian ini.

Tidak jauh berbeda dengan Manduda, gerakan dalam tarian ini menggambarkan kegiatan petani mulai dari pembibitan, menanam benih, perawatan, panen, hingga pada proses menumbuk padi menjadi beras.

Tari Tradisional asal Nias

Tari tradisional asal Nias
Tari adat dari Tanah Nias

Nias merupakan sebuah pulau yang terletak di bagian barat pulau Sumatera, dan secara daerah berada di Provinsi Sumatera Utara. Budaya yang paling tersohor disini adalah Hombo Batu (Lompat Batu).

Selain Lompat Batu, Pulau Nias juga mempunyai beberapa objek wisata indah seperti selancar, rumah tradisional, penyelaman. Dibalik itu, Seni san Budaya mereka juga merupakan daya tarik wisatawan yang kuat.

Beberapa Tari Tradisional Sumatera Utara daerah asal Nias bisa kamu baca pada ulasan di bawah ini :

Tari Fanari Moyo

Fanari Moyo adalah tarian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Nias. Tari ini dimainkan oleh wanita. Namun tahukah kamu, arri Fanari Moyo sendiri adalah “Tari Elang”.

Meskipun kita tahu bahwa “Elang” identik dengan Pria, tapi tarian ini dimainkam oleh wanita, dimana mayoritas gerakannya seperti burung elang yang sedang terbang di angkasa.

Peniruan gerakan elang terbang ini menggambarkan kegigihan dan kekuatan seekor elang dan masyarakat Nias itu sendiri. Tari Fanari Moyo biasanya dipertontonkan pada sebelum atau sesudah acara adat.

Tari Maena

Tari Maena (Tari Massal) umumnya dilakukan oleh sekelompok orang dalam jumlah yang banyak, pria dan wanita akan menari berbaris-baris, serta dipimpin oleh seorang pembawa acara yang diawali pembawaan pantun.

Pantun yang dibawakan pembawa acara akan menyesuaikan dengan tema. Setelah itu, dilanjutkan dengan syair maena (fanehe maena) yang dilantunkan semua penari sambil menari.

Tari Fatale

Tari Fatale disebut juga sebagai Tari Perang. Dalam gerakan tarian ini akan menggambarkan keadaan perang yang sedang berkecamuk, para penari menjadi karakter yang sedang berperang, sehingga kesannya seperti peperangan asli.

Bukan hanya tari, adegan yang ditampilkan bahkan mirip seperti pertunjukkan di panggung sandiwara / Teater, dengan iring-iringan musik yang realistis serta menegangkan, dengan mengikuti naskah yang telah ditentukan.

Tari Bolihae

Tari Bolihae ini biasanya ditampilkan pada acara pernikahan, dimana kelompok penari akan mulai melakukan pertunjukkan saat perjalanan menuju ke desa dan rumah tuan rumah penyelenggara pesta.

Tarian ini juga menjadi tanda, dimana saat tuan rumah mendengar musik tarian ini dari kejauhan, maka pihak dia tahu bahwa tamu sudah dekat.

Tari Fahimba

Tarian ini juga disebut sebagai tari Humba. Ini adalah tahap kedua dari sambutan upacara yang dilakukan oleh tuan rumah ketika pengunjung tiba.

Tari Mogaele

Tari asal Nias yang satu ini dimainkan saat kedatangan tamu-tamu penting. Tari ini dimainkan oleh perempuan sambil menawarkan sekapur sirih dari tas khusus kepada tamu penting tersebut.

Tari Tradisional asal Pakpak

Tari adat asal pakpak
Kesenian Tari asal Pakpak

Pakpak merupakan sebuah Etnis yang mendiami daerah Kabupaten Pakpak Bharat, yang beribukota Kota Salak, dan terletak di kaki pegunungan Bukit Barisan. Kabupaten ini kaya akan kesenian tradisional, adat-istiadat hingga kulinernya.

Dalam bahasa Pakpak, Tari disebut sebagai Tatak. Mayoritas makna dari tarian mereka menitikberatkan hubungan antara manusia dengan alam, serta tatanan hidup yang baik dan saling ketergantungan.

Nah, dibawah ini adalah beberapa Tari Tradisional Sumatera Utara dari adat asal Pakpak untuk anda :

Tari Dembas Simanguda

Tari ini mengusung makna yang sangat menarik, dimana mendeskripsikan permintaan dan harapan para penari (sekelompok wanita) kepada Debata (Tuhan), supaya hasil panen mereka bisa melimpah.

Musik pengiringnya bernama Odong-odong, dengan lirik yang berisikan Puji-pujian kepada tuhan. Menurut beberapa sumber, Tari Dembas Simanguda paling jarang dimainkan karena gerakannya sangat sulit dan baku.

Tari Menapu Kopi

Sesuai dengan namanya, tarian ini menghambarkan para pekebun dalam bercocok tanam Kopi, mulai dari proses menumbuh sampai ke Menampi. Tarian ini dibawakan oleh pria dan wanita serta sering juga dijadikan ajang lomba.

Tari Garo-Garo

FYI, Garo-Garo meeupakan nama seekor burung yang sangat terkenal di Kabupaten Pakpak, burung ini sering terlihat sedang mengepakkan sayap di udara, dan terlihat tidak bergerak, sehingga kesannya sangat gagah dan berani.

Baca juga : Makna Tari Piring Sumbar, Fungsi dan Penciptanya

Dari kenyataan inilah Tari Garo-Garo tercipta dan berkembang. Tarian ini dimainkan oleh wanita, dengan gestur gerakan yang imitatif, anggun dan menarik.

Tari Muat Page

Arti Muat Page adalah “Memanen Padi”. Sesuai dengan namanya, gerakan dalam tarian ini menggambarkan petani yang sedang memanen hasil ladang mereka, biasanya dibawakan berpasang-pasangan, atau bisa juga pria keseluruhan maupun sebaliknya.

Tari Manulangkat

Pakpak adalah daerah yang kaya akan hasil air, sungai-sungai yang membentang menjadi sarang ikan dan salah satu mata pencarian masyarakat disana.

Manulangkat sendiri merupakan alat tradisional untuk menangkap ikan. Dari nama inilah muncul Tari Manulangkat, untuk menjunjung dan melestarikan alat tradisional yang sudah turun-temurun ini.

Selain 5 tarian diatas, beberapa tari daerah asal Pakpak lainnya antara lain adalah : Tatak Balang Cikua, Taktak Tintoa Serser, Tari Renggisa, Taktak Memuro Page, Tari Mengera-Era dan Tatak Nantampuk Emmas.

Yuk, baca juga 13 Tari Tradisional Bangka Belitung ini.

Tari Adat Suku Melayu Sumut

Tari tradisional suku Melayu
Tari adat dari Melayu

Melayu merupakan salah satu suku di Sumut yang sebagian besar masyarakatnya mendiami daerah Kabupaten Serdang Begadai, Medan, Langkat dan Kabupaten Batubara.

Selain itu, bagian perbatasan Sumut-Sumbar juga terdapat banyak orang bersuku Melayu. Beberapa Tari tradisional Sumatera Utara asal Melayu yang tersohor dan melegenda antara lain adalah :

Tari Serampangan 12

Serampang 12 (duabelas) merupakan tarian adat yang berasal dari Deli Serdang, Sumatra Utara. Gerakan tari Serampang 12 adalah perpaduan antara gerakan Portugis dan Melayu Deli, dengan dua belas macam gerakan yang dimiliki.

Tarian Serampang 12 diciptakan oleh Guru Sauti yang lahir pada tahun 1903. Pada awalnya, tarian ini hanya dimainkan oleh Pria, namun seiring perkembangan zaman akhirnya dimainkan juga oleh Wanita.

Sedangkan 12 gerakan yang dimaksudkan dalam tarian ini adalah Gerak tari permulaan, berjalan, pusinh, gila, sipat, goncat-goncet, sebelah kaki, langkah tiga, melonjak, datang-mendatangi, rupa dan gerakan tari sapu tangan.

Tari Makyong

Pada awalnya, tari Makyong dimainkan oleh masyarakat desa setelah selesai panen padi. Hingga kini, tarian ini sangat digemari bahkan dimainkan hingga ke forum-forum Internasional.

Dalam pertunjukkannya, tarian ini mengangkat beberapa unsur, antara lain upacara keagamaan, sandiwara, tari, musik dengan vokal atau instrumental, dan naskah yang sederhana.

Tari Kuda Kepang

Sebelum menyebar luas ke Melayu, tarian ini telah tumbuh subur di tanah Jawa. Tarian ini ditujukan untuk mengenang jasa para pahlawan dalam mengusir penjajah, sekaligus bentuk dukungan atas penindasan terhadap masyarakat Jawa.

Tarian ini akan sering kamu temukan dalam acara resmi apapun, baik itu pentas seni, penyambutan tamu, pesta perkawinan hingga di khalayak ramai lainnya.

Tari Mak Inang

Tarian ini minimal dimainkan satu pasang (pria dan wanita), menceritakan tentang pertemuan sepasang manusia yang kemudian menjalin kasih hingga ke jenjang pernikahan.

Baca juga :

Penutup

Demikianlah, ulasan kali ini mengenai 34 Nama Tari Tradisional Sumatera Utara lengkap dengan penjelasnnya. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan anda mengenai Tarian adat Asal Sumut yang beragam dan luas.

Referensi Tambahan : Wikipedia

Tinggalkan komentar