15+ Puisi Tentang Senja : Islami, Romantis dan Sedih

Puisi tentang Senja – Kata “Senja” adalah istilah / sebutan dimana ketika matahari hendak terbenam di ufuk barat. Cahaya mentari yang hampir tenggelam akan menghasilkan pantulan sinar berwarna jingga, orange dan kuning tua di langit.

Inspirasi Puisi Senja akan semakin terasa manakala cuaca sedang cerah. Di sisi lain. Waktu senja merupakan waktu yang terkesan romantis, eksotis dan penuh nuansa keromantisan. Kenapa? Sejatinya saya juga kurang tahu, namun sejak dahulunya, telah dijadikan momen dalam berbagai hal, terutama yang berhau asmara dan kenangan.

Nah, karena berbicara mengenai keromantisan, pada artikel ini Senipedia telah merangkum Kumpulan Puisi tentang Senja terbaik dan puisi senja islami untuk kamu. Semoga bisa memberi manfaat dalam merefleksikan berbagai hal, serta dijadikan referensi puisi senja romantis bagi pembaca semua.

Pastinya kamu sudah tidak asing lagi dengan tema ini. Pasalnya, terdapat banyak sekali artikel maupun Puisi Sedih karya pujangga, yang mengulas mengenai Puisi senja romantis ini, misalnya puisi tentang senja di pantai. Karena sejak dahulunya, selain waktu yang sakral, senja nyatanya juga waktu yang spesial bagi sebagian kalangan, pada momen-momen tertentu.

Saya sendiri bahkan sering merangkai sajak inspirasi puisi senja islami dan kerinduan, terutama di media sosial Facebook. Dimana ketika itu bertemakan Puisi tentang senja di pantai, yang ada di daerah saya, dengan latar belakang sunset. Romantis sekali.

Kumpulan Puisi Tentang Senja Terbaik

Oke, tidak perlu berlama-lama lagi, silakan simak kumpulan Puisi Senja bikin baper, menyentuh dan penuh nuansa keromantisan di bawah ini, dengan tema kerinduan, perpisahan, galau, islami dan sebagainya.

1. Puisi Senja Romantis

Sejak dulu, pasangan suami istri maupun remaja pasti pernah menghabiskan waktu berduaan di kala senja, sembari menatap mentari terbenam di ufuk barat. Sungguh, keromantisan akan semakin terasa pada momen ini, bahkan saya sendiri pun sering mengalaminya.

Sebenernya, saya pun hingga kini tidak pernah tahu, apa yang menyebabkan waktu senja akan menambah keromantisan saat bersama pasangan, namun yang pasti, sangat berbeda jika dibandingkan dengan waktu-waktu yang lain. Simak kumpulan Puisi Senja Romantis di bawah ini :

Puisi Tentang Senja dan Kamu

Kita nikmati sisa-sisa waktu,
Sebelum sang surya kembali berlalu,
Menuju pembaringan yang kaku,
Tertidur, dan lelap dalam kelabu.

Aku dan kamu disini,
Duduk bersandingan di tepi hari,
Kita bercerita mengenai mimpi-mimpi,
Tentang kebahagiaan yang hakiki.

Kau sampaikan harapanmu,
Kusampaikan segenap asaku,
Rumput hijau menjadi saksi bisu,
Kala dua insan mengadu rindu.

Tentang Kamu dan Senja,
Ada harapan dan cita,
Diantara kamu dan matahari terbenam,
Ada rasa yang kekal bersemayam.

Berbahagialah, kasih,
Selepas mentari kembali esok pagi,
Menerpa wajahmu yang bersih,
Songsonglah kembali indahnya hari.


Saat Senja Bersamamu

Senja kembali hadir,
Sirami cadasnya hati yang getir,
Lelah letihnya jiwa yang terukir,
Hilang lenyap bak air mengalir.

Sore ini, cuaca cerah merona,
Kau disampingku dengan setia,
Temaniku kala senang dan duka,
Hibur aku saat lesu dan gelisah.

Terima kasih banyak, sayang,
Selalu sudi memberi ruang,
Aku berjanji, pada jiwa yang lapang,
Pada harapan yang besar, aku berjuang.

Jingga sore ini,
Menjadi saksi abadi,
Atas semua yang engkau beri,
Pada kerelaan yang tersudi.

Bertahanlah, lebih lama lagi,
Hingga mentari pagi datang kembali,
Biarkan rasa ini terpatri,
Lebih dalam, dan besar lagi.


Melepas Mentari Ke Ufuk Barat

Tahukah kamu,
Apa yang lebih anggun dari mekarnya bunga?
Itu saat dimana,
Kulalui senja berdua bersamamu.

Dan apa kamu tahu,
Yang lebih indah dari bintang di langit,
Yaitu takkala waktu,
Izinkan aku habiskan mentari sore disampingmu.

Entah apa yang menyebabkan,
Aku punya rasa takut yang besar,
Tentang hal yang bernama perpisahan,
Meski semua menjadi kuasa Tuhan.

Aku hanya tak ingin,
Bila nanti masanya tiba,
Melepas mentari ke ufuk barat,
Tanpa kehadiranmu disisiku lagi.

Semoga tidak,
Dan aku selalu berharap.


Penutup Hari yang Indah

Terima kasih banyak kuucapkan,
Atas terciptanya jutaan kesan,
Semua kan jadi kenangan,
Untuk cerita indah di masa depan.

Kaulah, seorang wanita,
Temaniku di kala senja,
Menutup hari dengan setia,
Disisiku, hingga tidurnya sang Surya.

Kasih, tetaplah bersamaku,
Siramilah panasnya bara di kalbu,
Sungguh, aku belum mampu,
Bila harus berjauhan denganmu.

Kita jadikan senja sebagai saksi,
Atas jalinan kasih yang suci,
Semoga kisah ini kan abadi,
Menjadi jalinan yang hakiki.


Senja dan Lantunan Gitar

Mentari menepi hadirkan jingga,
Leburkan segala lelah dalam jiwa,
Sedikit gelap, sepercik cahaya,
Menimpa raga, bangkitkan gelora asa.

Dan aku disini, disampingmu,
Menikmati senja dan bayang semu,
Ditemani sebuah gitar dan beberapa bait lagu,
Kita nyanyikan bersama, hingga jerih berlalu.

Lantunan demi lantunan pasti,
Kupetikkan dari gitar tua ini,
Menyanyikan lagu yang kamu sukai,
Sementara mentari semakin menepi.

Kulihat senyum keluar dari bibirmu,
Oh betapa indahnya, tak ingin rasanya berlalu,
Semoga tetaplah kau bersamaku,
Hingga tak lagi dimakan waktu.


2. Puisi Senja Islami

Puisi senja islami
Puisi Islami tentang Senja

Meski kita mengenal Waktu senja adalah momen yang penuh romantisme dalam hal asmara, tapi jangan lupakan juga, bahwa disana terdapat pula suatu kewajiban yang diamanahkan kepada setiap muslim di dunia, yakni kewajiban menjalankan shalat Magrib.

Nah, jadi meskipun identik dengan hubungan percintaan sesama manusia, kita juga harus mempererat kecintaan kita kepada Allah SWT, melalui beberapa puisi tentang senja islami di bawah ini :

Selang-Seling Suara Adzan

Orang-orang menutup jendela rumah,
Anak-anak balik dari lapangan,
Ditandai jingga berwarna merah,
Saatnya untuk pulang ke rumah.

Sesaat setelah mentari berbaring,
Suara panggilan mulai terdengar,
Selang-Seling Suara Adzan berkumandang,
Mengheningkan segala hingar-bingar.

Kulangkahkan kaki menuju Rumah-Mu,
Untuk menghadap Kebesaran-Mu,
Menjemput karunia dan Ridho-Mu,
Mengharap belas dan Kasih-Mu.

Pertanda senja telah tiba,
Suasana sunyi mulai terasa,
Hening, tak lagi suara bergema,
Semua leburkan letih dan lelah.


Senja dan Mengingat-Mu

Pulang menuju rumah,
Penat, letih bercampur lelah,
Usai mencari rezeki yang berkah,
Dengan semangat dan bersusah-payah.

Ketika senja perlahan mulai tenggelam,
Sore yang cerah mulai kelam,
Kusambut gemerlapnya malam,
Semangat mengingat-Mu tak pernah padam.

Kubuka malam dengan Sholat,
Atas karunia yang berlipat,
Meski raga dikerumuni penat,
Cinta pada-Mu tetaplah kuat.

Antara senja, dan mengingat-Mu,
Diiringi sayup Adzan yang memuja-Mu,
Kini hari telah berlalu,
Semoga hilang semua sembilu.


Lelah di Penghujung Hari

Bekerja banting tulang,
Seharian mencari makan,
Mengais rezeki yang dititipkan,
Kulalui dengan hati yang lapang.

Kini, senja mulai menepi,
Lelah tiba di Penghujung Hari,
Kubereskan semua asa di hati,
Menuju rumah, ada yang menanti.

Di perjalanan,
Tersentak aku dalam lamunan,
Saat mendengar panggilan Tuhan,
Lewat indahnya alunan Adzan.

Tak pernah aku berlalu,
Kusempatkan untuk mengingat-Mu,
Dari Musholla di tepi jalan itu,
Kusampaikan asa dan Maaf-Ku.


Sujud dan Terbenam

Kubentangkan asaku kembali,
Di senja hari ini,
Saat berlalunya mentari,
Aku bersujud menghadap Ilahi.

Surya-Mu terbenam,
Hadirkan kelam,
Kuketepikan semua dendam,
Yang panas mulai teredam.

Di senja Mu yang jingga ini,
Kutadahkan kedua telapak tangan,
Aku yang hina dan berlumuran dosa,
Mengharap selalu akan kebaikan.

Ya Allah, maafkan aku,
Atas segala dosa-dosaku,
Dari semua kelalaianku,
Dalam memuji Keagungan-Mu.

Senja-Mu telah usai,
Lelah dan letih mulai larai,
Aku terhanyut dalam Do’a,
Terbuai lamunan meratapi asa.


Menjemput Malam

Perlahan turun dan tenggelam,
Sepertinya Mentari akan padam,
Apakah hidup kembali suram,
Atau segera hadirkan temtram?

Ternyata benar,
Aku telah mendapat kabar,
Tenangnya senja heningkan hingar,
Malam tiba penuh sinar.

Kuletakkan kening diatas Sajadah,
Tangan perlahan kutadah,
Tak henti mengharap anugerah,
Dari Engkau, Yang Maha Pemurah.

Kujemput malam dengan Nama-Mu,
Kutelusuri kelam dan kelabu,
Lantunan Adzan hadirkan rindu,
Memberi secercah harapan baru.


3. Puisi Tentang Senja Paling Sedih

Kumpulan Puisi Sedih berlatar Senja sebenarnya bukan pertama kali saya tulis di sini saja. Sejak dulu, saya telah sering membagikan rangkaian puisi tema ini, di media sosial Facebook dan Instagram, namun berupa Caption dan gambar berlayar sunset.

Di sisi lain, waktu senja sangat cocok direpresentasikan dengan momen kesedihan, terutama dalam bentuk puisi. Karena menurut saya, arti senja sama dengan “Kepergian”, dimana suatu kepergian / perpisahan pasti berujung sedih. Nah, silakan simak puisi-puisinya di bawah ini :

Kepergianmu

Saat Mentari pulang,
Aku mulai mengingat ulang,
Segala asa yang pernah tersampaikan, dihadapanmu, kekasih kala itu.

Suara merdumu,
Yang dilantuni denting gitar biru,
Terdengar perlahan mengecil,
Seraya ufuk barat kemudian berlalu.

Bagai mimpi yang kunjung mengucut,
Seakan aku dipaksa berdiri,
Di atas takdir yang digoreskan,
Berlari sejauh mungkin,
Namun hati enggan berpaling.

Keikhlasan yang kupaksakan,
Memanglah tak seindah harapan.

Berpergilah kamu ke ujung sana,
Hingga senyumanmu lantang,
Kemudian, tak ada lagi secuilpun hasrat,
emi aku yang tertinggal di penghujung hari.


Antara Senja, Kita dan Perpisahan

Usai momen di Senja kala itu,
Semua seakan dipaksa beralih,
Layaknya Realita yang semestinya.

Aku pun mulai membidik,
Sesuatu yang baru,
Menerawangkan rasa,
Yang dulu pernah mengikatmu.
.
Aku harap,
Akan tiba “Satu Senja”,
Dii suatu hari nanti
Yang mengingatkanmu kembali,
Pada manisnya Secangkir Coklat hangat,
Yang terjepit di jari telunjukmu.

Serta alunan denting dawai gitar,
Yang membuatmu bersandar ke bahuku,
Hingga mentari pamit sembari malu.
.
Aku pastikan,
Akan banyak kenangan yang melintas,
Disebuah Senja-mu nantinya,
Dan ketika giliran kenangan bersamaku lewat,
Kamu tersenyum,

Kemudian mulai mengingat kembali,
Obrolan hangat yang memecah keheningan alam Di senja kala itu,
Di masa lalu.


Yang Tertinggal Selepas Senja

Tahukah kamu,
Apa yang tertinggal selepasnya,
Hanyalah Percikan Rindu
Yang tiada mengenal Buntu,

Dia bermukim entah berapa lama,
Tak tahu lelah meski teriris parah,
Disana, mereka temukan kenyataan bahwa,
Jingga tak pernah berjanji,
Bila esok kan tetap seperti ini jua.

Gelora rindu yang tercipta,
Sungguh tak tahu-menahu,
Entah seberapa besar batin memikul,
Ssetajam apa belati menikam,

Dan pada akhirnya,
Tarikan nafas diujung senja,
Kan menyadarkan kembali,
Tentang realita yang semestinya adanya.

Namun disini, detik ini, ditempat ini,
Kutitipkan sisa-sisa Rindu,
Bersama berlalunya Mentari,
Menuju ufuk hari.

Kutetapkan bahwa kesetiaanku,
Akan penantian semu,
Takkan pernah murung lagi,
Meski terik sepanas gurun.

Dan juga,
Kesabaran tak pernah padam
Meskipun Belati tikam mencekam.


Keteguhan Yang Terjual

Kepada Senja dan Jingga merah,
Ada secuil Alasan yang sekiranya,
Patut diperbincangkan kembali,
Dari pahitnya sebuah goresan luka.

Sayangnya,
Ditepi kurun ruang,
Yang amat timpang,
Leherku terlalu berat untuk berbalik,
Serta menoleh ke belakang.

Kubiarkan kau pergi,
Bersama angin yang menepi,
Karena tanpaku lagi,
Tkkan kau kenal apa itu sepi.

Karena disini, bersamaku,
Dkemudian hari,
Sungguh sesal tiada arti,
Bagi luka mu yang mem-belati.

Datangi Bahagiamu,
Maka ku jemput sisa asa-ku,
Biarkan kisah ini luput,
Bersama sebuah kepergian,
Keputus-asaan hasrat,
Dan harapan yang terjual.


Andai Senja Mengerti

Andai Senja mengerti,
Tentang pahitnya sebuah kepergian,
Mungkin saja dia tak ingin,
Melalui sedetikpun momen,
Ketika Fajar menyongsong.

Jika eaja Mentari bisa mendengar,
Sayup iba dari burung yang berpulang ke sarang,
Mungkin dia ingin bertahan sebentar lagi,
ebelum TUHAN-nya membangunkan kembali.

Begitulah aku,
Kepergianmu membuat haru,
Betapa aku harap kau Mengerti,
Bahwa betapa hancurnya hati ini.

Namun nyatanya,
Kau tetap pergi jua,
Menyisakan sejuta luka,
Yang tak hilang ditelan masa.


Puisi tentang Senja di Pantai

Karang-karang itu ternyata,
enantiasa tetap bertahan,
Cabikan dan sayatan ombak,
Dibendung dengan busung dada.

Rerumputan halus,
Juga Lumut yang singgah,
eakan menjadi kawan se-cengkrama-an,
Dibawah barisan Bintang yang mengintip,
Dan Mentari yang menganga.

Untuk Ombak yang tiada lelap,
Seberapa jemu-kah kamu ?
Sepantas apa selalu menghajar ?
Ataukah menyalahkan Angin yang mengomandoimu ?
Atau memang sudah Kodratmu ?

Namun hakikatnya,
Karang-karang itu (tetap) tegar,
ak Kaktus ditengah Badai Pasir,

Tetap sabar,
Bak Bulan menunggu Rotasi Mentari,
Membagi pantulannya.

Selanjutnya, Kamu bisa Baca : Puisi untuk Mantan Paling Sedih dan bikin Kangen ini.

Penutup

Perlu kiranya diketahui pembaca, bahwa koleksi puisi senja di atas adalah karya saya sendiri, tidak ada sumber lain yang dijadikan referensi. Bila kamu hendak berbagi dengan yang lain, silakan, tapi harap cantumkan sumber dari artikel ini.

Demikianlah, ulasan kali ini mengenai Puisi tentang Senja Islami, romantis, sedih dan bikin baper. Semoga kumpulan puisi sedih di atas bisa bermanfaat bagi pembaca semua. Terima kasih. (Ref)

Tinggalkan komentar