5+ Puisi Tentang Kebakaran Hutan : Renungan untuk Semua

Puisi Tentang Kebakaran Hutan – Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki Hutan tropis yang sangat luas, terutama di Kalimantan dan Sumatera, yang menjadi tempat sekaligus rumah bagi spesies hewan dan tumbuhan langka.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Luas hutan Indonesia per-April tahun 2019 adalah sekitar 125 juta hektar. Dan dari data Kadatada.id, luas hutan yang terbakar sepanjang September 2019 adalah sekitar 329 ribu hektar dan akan terus bertambah.

Puisi tentang Kebakaran Hutan Paling Sedih

Kenyataan ini tentunya merupakan salah satu hal yang amat sangat sakit untuk diterima. Bagaimana tidak, selain kerugian yang ditaksir mencapai ratusan triliun, dampak kebakaran hutan juga dirasakan oleh masyarakat setempat dan sekitar, dimana asap tebal yang menyelimuti kawasan mereka benar-benar menghambat aktivitas dan mengganggu kesehatan.

Untuk itulah, disini Senipedia telah merangkum beberapa Puisi tentang Kebakaran Hutan di Indonesia, yang bisa dijadikan pelampiasan kekesalan, penyesalan serta kesadaran kita semua, atas musibah yang tengah melanda ini.

Puisi Kebakaran Hutan terbaru ini saya ciptakan sendiri, dan saya dedikasikan untuk pembaca semua, baik yang merasakan langsung dampaknya maupun tidak, terutama sekali bagi saudara/i yang berada di Provinsi Riau dan Pulau Kalimantan.

Beberapa puisi yang saya rangkai di bawah ini lebih kepada rasa keprihatinan terhadap kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan, yang banyak terancam, apalagi yang saat ini telah berstatus langka, tentu saja sangat membahayakan populasi mereka yang sudah tinggal sedikit.

Hutanku yang Malang

Batangmu diselimuti bara,
Daunmu nyalakan api,
Akarmu kuncup tak terbata,
Pucukmu hangus ditelan mentari.

Oh hutanku, betapa malang nasibmu,
Tak tanggung manfaat yang kau beri,
Namun dengan tega mereka membunuh,
Kala kau tertidur dalam mimpi.

Oh hutanku, inilah takdirmu,
Tak lagi kita kan bertemu,
Betapa haru dan pilu hatiku,
Atas segala derita yang menimpamu.

Betapa iba hati mengingat,
Betapa panas api menyengat,
Kupadamkan dengan penuh semangat,
Meski kulitku terbakar dan pucat.

Namun tak urung semangatku,
Tak henti berpacu dengan waktu,
Angin kencang kian menggebu,
Melalap semua yang berlalu.

Oh, malangnya,
Dikala engkau mengais asa,
Hanya ada sisa-sisa bara,
Api kian membesar saja,
Engkau hangus sia-sia.


Para Pembunuh Asa

Pagi itu, aku terbangun,
Keluar rumah ingin menyentuh embun,
Ke belakang rumah menyapa kebun,
Mengusik daun-daun yang rimbun.

Sesampainya disana, aku baru teringat,
Ternyata hari-hari telah begitu pekat,
Pekat dengan kabut asap yang menyengat,
Melumpuhkan semua yang didarat.

Setega itukah para perusak,
Sesudi inikah membuat serak?
Sungguh aku tak habis pikir,
Betapa raga ini amat getir.

Bunga-bungaku layu,
Ditimpa kabut dan gumpalan debu,
Hasil hangusnya daun dan kayu,
Dari terbakarnya hutan-hutanku.

Hai, para pembunuh asa,
Tidakkah kau dengar teriakan rimba?
Tidakkah kau pedulikan rintihan manusia?
Mereka korban yang tak bersalah.


Tangisan Hewan

Teriakan semakin keras,
terdengar begitu mencadas,
Hewan-hewan memaki,
Mengutuk diri dan berlari.

Apa yang hendak dituju,
Sedang tangis kian pilu?
Kemana kau akan pergi,
Sementara sembilu menusuk hati?

Tidakkah tangisan hewan,
Mengetuk nurani kalian?
Tidakkah rintihan binatang,
Menyadarkan buruknya kehancuran?

Rumah-rumah mereka kalian bakar,
Tempat bermain dipenuhi api menjalar,
Kapan semua ini akan berakhir?
Bila lagi masanya senyum menghias bibir?

Tangisan hewan semakin menyorak,
Seduan mereka kian mengoyak,
Aku hanya bisa hening terdiam,
Mengintip takdir dari dalam kelam.


Puisi Kebakaran Hutan : Kami Rindu

Aku, dia dan mereka,
Pada satu asa yang sama,
Berharap pada mimpi bersama,
Yaitu rindua yang tiada dua.

Kami rindu langit biru,
Dimakan asap yang menggebu,
Ditelan kebakaran hutan yang mengendu,
Diselimuti debu yang memilu.

Kami rindu awan cerah,
Yang lenyap timbulkan resah,
Dengan terpaksa hadirkan gundah,
Yang sudi percikkan gelisah.

Kami rindu matahari pagi,
Kini kemana ia lari?
Dimana sinaranmu terpatri,
Nyatanya, hilang bak ditelan bumi.

Kami rindu semuanya,
Senyum, tawa dan gembira,
Kini semuanya telah sirna,
Sebab kejamnya ulah manusia jua.

Kini, yang tersisa hanya tandus,
Yang tertinggal kayu hangus,
Bagai pedang tajam menghunus,
Dengan kuat hati kamu tertembus.


Pasrah Ditengah Dendam

Tak bisa berbuat apa-apa,
Hanya diam, menunggu kobaran reda,
Belum sempat tumbuh, api telah membara,
Di hutan-hutanku tercinta.

Pasrah, hanya bisa berserah diri,
Atas apa yang melanda hari,
Gelap, berasap dan berapi,
Menghiasi segenap langit NKRI.

Terdiam dan membisu,
Menunggu angin membawanya lalu,
Menanti hujan kan mengguyur,
Semoga lekas derita melebur.

Dibalik itu,
Ada satu rasa yang amat kaku,
Yaitu dendam dihatiku,
Tak lekang dan bersarang utuh.

Ya Tuhan, tunjukkanlah kuasamu,
Berikanlah kami pertolonganmu,
Ditengah kobaran yang kian menggebu,
Kamu bosa bercengkrama dengan debu.

Ya Tuhan, haruskah aku dendam?
Haruskah asaku terus mengancam?
Padamkanlah, matikanlah,
Api-api yang semakin menjarah.


Mari Sadarkan Diri

Untuk semua yang telah berlalu,
Biarkanlah ia berlalu,
Namun, jadikan ia pelajaran,
Untuk kedepan sebagai pedoman.

Kini, marilah bersatu,
Rangkullah jemari tanganku,
Teguhkan pundakmu dan pundakku,
Hancurkan semua keraguan dihatimu.

Mari bersama bercermin diri,
Ayo bersama sadarkan hati nurani,
Untuk masa depan dimulai dari kini,
Mewujudkan lingkungan yang Harmoni.

Ratusan ribu hektar hutan musnah,
Pasti timbulkan rasa yang gelisah,
Namun yang sudah biarlah sudah,
Saatnya kita untuk berbenah.

Tancapkan niat kuat dalam hati,
Bulatkan tekat dan optimisme diri,
Mewujudkan lingkungan yang asri,
Jangan lagi biarkan tersinggung api.


Penutup

Melalui artikel Puisi kebakaran hutan di Indonesia ini, saya berharap selepasnya para pembaca semua bisa lebih tersadarkan, atas apa yang telah terjadi, serta membuat kita tergerak hatinya agar bisa menjaga, melindungi dan melestarikan hutan di Indonesia.

Bacaan selanjutnya : Puisi tentang Hewan

Demikianlah, ulasan kali ini mengenai Puisi tentang Kebakaran Hutan sebagai suatu kerusakan lingkungan yang dampaknya sangat buruk. Terima kasih dan semoga bermanfaat. (Ref)

4 pemikiran pada “5+ Puisi Tentang Kebakaran Hutan : Renungan untuk Semua”

      • Gpp. Ntar dikiranya minta backlink lagi. Hehe.
        Sy udah tembus 5k (visitor bukan pv) kemarin gan, tp pas cek penghasilan di hari itunya cuma 25k njirrr.
        Apa ada trik khusus yah, pernah nanya orang yg pv 5k dpt 50k, pv malah punya dia, bukan visitor/ip unik. Nichenya pun kurleb serupa

        • Enggak apa-apa gan, saya malah senang jika yang ngomentar pake akun WordPressnya. Atau jangan-jangan agan gak mau orang tahu URL blognya ya ? Hayoo ??

          Kalau problemnya soal beda penghasilan, dengan konteks pv/uv dan niche serupa, mungkin letak bedanya pada teknik pengoptimalan, misalnya penempatan iklan, Ad Balance, Pemblokiran, Traffic Source dll.

          Btw kok pembahasan malah ke AdSense ya? OOT banget dari materi artikel diatas wkwkwkw :V :V

Tinggalkan komentar