17+ Puisi tentang Bencana Alam Paling Sedih

Puisi Tentang Bencana Alam – Bencana adalah salah satu fenomena alam yang sudah pasti menimbulkan banyak kerugian, baik dari segi materi, kerusakan hingga melayangnya nyawa banyak orang.

Jenis-jenis bencana alam pun juga beraneka ragam, dan notabene ditakuti semua orang, sebut saja seperti bencana kecil layaknya banjir, angin kencang, tanah longsor hingga bencana besar seperti gempa bumi dan Tsunami.

Tidak jarang pula berbagai bencana menimpa tanah air kita, sebut saja bencana Tsunami tahun lalu di Palu, yang merenggut banyak nyawa serta kerugian yang jumlahnya tidak sedikit.

Kendati demikian, Bencana hanya menyisakan luka, duka, kesedihan serta kesadaran manusia yang datang terlambat, baik kesadaran atas takdir, maupun cobaan yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri.

Untuk mengekspresikan atau mengenang tentang bencana alam, di bawah ini telah terangkum beberapa Puisi tentang Bencana Alam Tsunami, Gempa bumi, banjir dan lainnya.

Puisi sedih untuk korban bencana di bawah ini saya ciptakan untuk mengenang mereka yang wafat dalam fenomena tersebut, termasuk penggambaran kesedihan dari orang yang ditinggalkan sanak saudara.

Puisi tentang Bencana Alam Banjir

Fenomena Banjir merupakan peristiwa dimana air sungai meluap, yang disebabkan oleh hujan deras dalam waktu cukup lama, sehingga badan sungai tidak mampu menampung arus air yang datang dari hulu, maupun dari tempat/daerah itu sendiri.

Dampak banjir akan sangat terasa bila genangannya telah memasuki rumah warga, yang menyebabkan mudahnya terkena penyakit, sehingga akan banyak dari mereka yang mengungsi.

Salah satu penyebab banjir adalah kurangnya perhatian masyarakat mengenai kebersihan sekitar sungai, terutama soal sampah. Sehingga bila banjir telah datang, yang ada hanya mengeluh dan rasa penyesalan.

Dan untuk mengekspresikan kesalahan manusia tersebut, serta untuk menyadarkan diri sendiri maupun sekitar, luapkan dengan kumpulan Puisi tentang bencana alam banjir di bawah ini :

Rintih Bermain Air

Anak kecil disamping rumah,
Dengan ceria bermain air,
Menyepak dan menyembur,
Berlari dan berenang.

Awalnya aku terpukau,
Tapi kenyataan berkata lain,
Mereka sejatinya tengah merintih,
Tertawa dalam tangisan.

Pedih, mengiris dan duka,
Penyakit mengintai mereka,
Berada di sekeliling mereka,
Bahwa itu adalah bencana.

Bersabarlah sayang,
Maafkan Mereka,
Jadilah anak yang setia,
Untuk menjaga alam semesta,
Kala kau beranjak dewasa.

Jangan kau sesali,
Aku tahu kau belum mengerti,
Aku paham kau masih buta dan tuli,
Namun inilah yang terjadi,
Jadikan cobaan alam sebagai penyadar diri.


Ketika Sungai Berang

Setiap pagi kau mandi disana,
Begitu pula sorenya,
Bila masa kau libur,
Puluhan helai kain kau cuci,
Hingga pulang menyisakan buih.

Namun, sampah itu kau biarkan,
Mengalir dan terus mengalir,
Hingga menyumbati alirannya,
Sampai masanya kau sadar,
Bahwa air telah berang.

Jangan kau sesali,
Sesungguhnya ada suatu muak,
Rasa sabar yang habis,
Tertelan keegoisan manusia,
Tanpa ada peduli dan mau menjaga.

Rasakanlah,
Kala genangan membuatmu sulit,
Untuk berpijak dan melangkah di rumah.
Belajarlah,
Bahwa apa yang tanah,
Itulah yang kan dipetik.

Ketika air sudah berang,
Meluluhlantakkan yang dilewati,
Menghancurkan yang diterpa,
Hingga bisanakan yang kau sayangi.
Belajarlah.


Menunggu Hujan Reda

Sore ini, hujan begitu deras,
Menghantam bumi dengan ganas,
Sementara di seberang jalan,
Beberapa anak menari ceria,
Menikmati anugerah Yang Kuasa.

Padahal, cerita berakhir lain,
Di kala hujan reda,
Perlahan genangan mengalir jauh,
Tanpa komando tanpa patuh,
Tanpa iba menghajar yang rapuh.

Bagaimana tidak,
Tempatnya berlalu telah tertutup,
Sebab watak manusia yang enggan,
Memberi perhatian terhadap selokan.

Maka dari itu,
Tak perlu tangisi yang terjadi,
Jangan sesali kenyataan ini,
Semua takkan terjadi, bila manusia peduli.

Hingga hujan tiba lagi,
Genangan masih mengepung,
Mencuri seisi rumah,
Menghanyutkan secuil gairah,
Dari mereka yang mengharapkan sepercik cerah.


Kurangnya Terima Kasih

Tuhan mempersembahkan semua,
Tanpa meminta balas jasa,
Lalu kenapa banyak yang berdusta,
Tidak mensyukuri nikmat dari-Nya ?

Tak henti manusia merusak,
Mencemari air dengan membabi buta,
Seakan tanpa memperdulikan akhlak,
Hanya mementingkan hasrat bejatnya.

Sampah, dan kerusakan ekosistem sungai,
Tak bisa dihenti dan diderai,
Kekeruhan air terus melukai,
Keseimbangan alam menjadi kacau.

Kurang apa lagi?
Ya, kurangnya terima kasih,
Sesaat setelah sungai meluapkan amarah,
Menembus dinding memasuki rumah,
Kau malah mencari siapa yang salah.
Tanpa mau bercermin karena ulah.

Kurangnya rasa syukur,
Hingga saat tanahmu hancur,
Bumimu melebur,
Hanya air mata yang terguyur,
Belajarlah, sadarlah.


Terabaikan

Air terus mengalir, mengikuti arusnya,
Anak kecil riang gembira,
Melompat dengan hati bahagia,
Dengan temannya mengukir cerita.

Sementara di seberang sana,
Keserakahan manusia semakin nyata,
Hancurkan alam sambil tertawa,
Menguras habis sungai dan kekayaannya.

Anak kecil tadi hanya merenung,
Bertanya-tanya dalam hati,
“Apa yang dilakukan mereka?”
“Kenapa air sungai selalu keruh?”
Lanjutkan saya berenangmu.

Semua terabaikan dengan jelas,
Hanya luka yang hadir membekas,
Terpaksa menahan sembari ikhlas,
Tunggulah Tuhan memberi balas.

Puisi tentang Bencana Alam Tsunami

Siapa sih yang tidak kenal Tsunami, terutama yang lahir di bawah tahun 2000-an, setidaknya mereka mengingat bagaimana dahsyatnya Tsunami yang menghantam Provinsi Aceh tahun 2004 silam, yang menewaskan ribuan orang.

Yap, Tsunami adalah bencana alam yang terjadi dimana air laut menciptakan gelombang ombak yang besar, sehingga menyapu wilayah disekitarnya dalam jarak yang luas.

Tidak tanggung-tanggung, gelombang tsunami akan menghancurkan apapun yang dilaluinya, mulai dari pemukiman warga hingga gedung-gedung tinggi sekalipun. Sehingga, yang tersisa selepasnya hanyalah tangisan.

Peristiwa Pilu ini sebenarnya telah terjadi beberapa kali di Indonesia, dimana bahkan puluhan ribu nyawa telah melayang. Kesedihan yang tak terbendung akhirnya membekas di hati seluruh rakyat di tanah air.

Nah, di bawah ini, telah saya rangkum beberapa Puisi tentang bencana alam Tsunami untuk kamu, baik yang pernah menjadi korban maupun tidak. Silakan di baca :

Gelombang Amarah

Aku mendengar, ribuan isak tangis,
Aku menyaksikan, muka-muka penuh haru,
Aku melihat, anak kecil menukik mencari ibunya,
Aku tersentuh, kala menyentuh tangan mereka berdebu,
Tak terasa, air mataku mengalir jatuh.

Mereka meronta, mereka belum siap,
Menerima memori yang senyap,
Ketika gelombang laut menghantam daratan,
Kemana hendak berlari?
Kemana akan sembunyi?
Pilu, begitu menyayat hati.

Mayat-mayat bergelimpangan,
Tak jelas status dan asalnya,
Begitu luka mencabik asa,
Jutaan do’a terkirim sudah,
Dari seluruh penjuru dunia.

Ya Allah, begitu berat cobaan ini,
Begitu menangis negeri ini,
Atas sisa yang diciptakan Tsunami,
Meninggalkan luka yang ternaung sepi.

Ya Allah, maafkan mereka,
Maafkan jasad yang terdampar,
Maafkan mayat yang tercerai,
Maafkanlah negeri ini,
Hanya pada-Mu, Yang Maha Pemberi.


Melebur Asa

Semua berubah,
Setelah ombak itu menggulung,
Menghantam dalam-dalam,
Menitip luka pada relung.

Semua jadi berbeda,
Selepas gelombang melanda,
Meluluhlantakkan semua cerita,
Yang tertinggal hanyalah do’a.

Semua menghilang,
Sesudah laut Tuhan murka,
Menyuruh mereka untuk pulang,
Serta meleburkan secercah asa.

Semua terlihat murung,
Menikmati pilu yang dirudung,
Menyirnakan seluruh impian,
Yang indah di masa depan.

Semua mengutuk diri,
Atas apa yang telah terjadi,
Hanya ratapan penggetar bumi,
Dari tanah Ibu Pertiwi.

Oh, Tsunami.


Teman, Kamu Dimana?

Kukunjungi rumahmu,
Tapi yang terlihat malah jalan buntu,
Kamu dimana ?
Aku merindukanmu, sobatku.

Kucari ke sudut sana,
Yang terlihat hanya sisa-sisa puing,
Bangunan yang terkeping-keping,
Apa yang terjadi disini?

Kucari ke sudut satu lagi,
Aku menemukan seorang anak,
Yang meratapi seonggok mayat,
Sambil terus meneriakkan “ibu…ibu…”.

Kucari ke sudut jauh,
Ratapan kian terdengar jelas,
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa apa dengan negeri ini?

Lantas, kamu dimana, teman ?
Aku jauh datang kemari ingin berjumpa denganmu,
Aku hendak mengulas balik kisah lalu,
Tentang cerita persahabatan kita dahulu.

Aku terus mencarimu di sela-sela reruntuhan,
Tapi tak kunjung ada jawaban,
Sudahlah, yang tersisa hanya pelajaran,
Untuk tawakkal dan selalu bersabar.

Selamat tinggal, teman,
Aku pulang.


Amarah Laut

Sore, di pantai itu,
Anak-anak bermain ria,
Senang dan bergembira,
Dengan teman-teman sebayanya.

Tak ada yang asing,
Semua seperti hari biasanya,
Mereka berkumpul kala sore tiba,
Mengisi jerah hari dan letih jiwa.

Namun entah mengapa,
Laut mengeluarkan amarahnya,
Gelombang besar terbentuk jelas,
Menghantam daratam dengan ganas.

Bagaimana tidak,
Amarah yang besar itu,
Menyapu rata tanpa permisi,
Menggulung apa yang dilalui.

Oh Laut,
Apa salah kami?
Oh Tuhan,
Maafkan kami.


Tangisan Negeri

Negeriku kembali menangis,
Berlinang air mata jatuh ke tanah,
Menyaksikan gelombang laut yang bengis,
Menenggelamkan sebagian wilayah.

Negeriku kembali berduka,
Sebab apa yang tengah melanda,
Silih berganti lara dan derita,
Menghampiri tanah air tercinta.

Negeriku kembali bersedih,
Cobaan demi cobaan mengiris pedih,
Bercerainya cinta dan kasih,
Entah kapan akan kembali pulih.

Tuhan, Maafkan Kami,
Kembalikanlah keceriaan negeri ini.


Puisi Bencana Alam Gempa Bumi

Puisi untuk korban bencana
Bangunan yang Roboh akibat Gempa Bumi | merdeka.com

Fenomena gempa bumi adalah bencana alam yang terjadi karena dua hal paling umu, yakni letusan gunung merapi (gempa vulkanik) dan pergeseran lempeng di dalam laut (gempa tektonik).

Untuk gempa tektonik, inilah jenis yang menimbulkan bencana Tsunami, karena ledakan terjadi berpotensi mengangkat air laut dan kemudian menimbulkan gelombang yang besar.

Sama seperti jenis bencana lainnya, seperti Tsunami dan Banjir, kerusakan yang diakibatkan gempa bumi juga tidak tanggung-tanggung, apalagi jika kekuatan yang dihasilkan cukup tinggi.

Misalnya yang terjadi di Kepulauan Mentawai (2 Maret 2016) dan tahun lalu di Lombok (5 Agustus 2018). Kerusakan yang dihasilkan cukup besar, mulai dari retak hingga runtuhnya rumah dan bangunan-bangunan tinggi.

Selain kerugian materi, dampak gempa juga banyak menyisakan luka yang mendalam, karena tidak sedikit dari korban yang kehilangan anggota keluarga, sanak saudara, teman dan masyarakat dekat mereka.

Untuk itu, dalam rangka mengekspresikan kesedihan yang dirasakan, di bawah ini telah saya rangkum beberapa Puisi tentang bencana alam gempa bumi di Indonesia untuk kamu semua :

Bumi Bergetar

Ketenangan malam,
Yang dingin dan mencekam,
Lampu kamar mulai padam,
Berbaring dengan mata terpejam.

Belum lama raga melayang,
Aku tersentak dengan tegang,
Merasakan bumi yang berguncang,
Kuberlari terluntang-luntang.

Bumi terasa amat menakutkan,
Dingin dan pucat menyelimuti badan,
Ke luar rumah, dari dalam ruangan,
Meluluhlantakkan segenap kedamaian.

Bumi bergetar, alam menggelegar,
Sejenak hilangnya suatu tegar,
Membayangkan asa yang kan pudar,
Bunga-bunga gagal mekar.

Oh Tuhan,
Ada apa dengan Bumiku?
Apakah dia marah?
Kenapa jadi sangar?
Oh Tuhan, Maafkan Kami.


Datang Tak Diundang

Pagi itu,
Cuaca begitu cerah,
Sinar Surya bersinar sumringah,
Hingga rasa dan selera tergugah.

Kulangkahkan kaki keluar rumah,
Menjemput rezeki dari Allah,
Meninggalkan rasa untuk menyerah,
Menuju masa depan yang cerah.

Namun, tiba-tiba saja,
Ada tamu tak diundang,
Datang kala ku ditengah perjalanan,
Bumi bergetar dan berguncang,
Sontak mengagetkan umat waktu siang.

Semua berlari terluntang-lanting,
Situasi begitu genting,
Panik, cemas dan takut,
Bercampur aduk dalam satu waktu.

Gempa bumi,
Kau adalah tamu tak diundang,
Tanpa isyarat dan tanda,
Terpaksa kami menghadang,
Meski akhirnya menyisakan luka.

Simak Juga : 10+ Puisi Taman Bunga


Tertinggal Puing

Kemaren, semua masih indah,
Hidup tentram bersama alam,
Anak-anak dan orangtua bercengkrama,
Oh damainya, bumiku terkasih.

Namun itu kemaren,
Bukan apa yang terlihat hari ini,
Hanya tersisa puing dan pecahan kaca,
Akibat kejamnya gempa bumi.

Tertinggal puing,
Pedih menusuk relung,
Tak sanggup menatap bangkai,
Dari manusia yang tengah terbengkalai.

Oh Tuhan,
Betapa pedihnya cobaan ini,
Tangisan dan ratapan hati,
Enggan pergi dari dalam diri.

Oh, Gempa bumi.


Rintihan Anak Kecil

Miris menyayat hati,
Kala terdengar rintihan diri,
Dari anak kecil yang berlari-lari,
Mencari sosok ibu kesana-kemari.

Betapa pedih merobek jiwa,
Kala tangisan kian menggema,
Aku pasrah mengelus dada,
Atas pilunya realita yang ada.

Wahai kawan, inilah cobaan diri,
Tuhan menitipkan melalui gempa bumi,
Sabarlah, relakan, kuatkan hati,
Berserah dirilah pada Ilahi.

Wahai teman, kau tak bersalah,
Tak usah pula kau menyanggah,
Sungguh Tuhan menyayangimu,
Dan rencana dibaliknya yang indah.

Bersabarlah.


Melawan Air Mata

Bagaimana lagi aku bersikap,
Ditengah hari yang amat gelap,
Bagaimana hendak aku kuat,
Sedang cobaan begitu berat.

Air mata yang tak sanggup kutahan,
Menusukkan luka yang membekas,
Mengkhayalkan gelapnya masa depan,
Diantara puing dan mayat meranggas.

Oh, betapa malangnya negeriku,
Setelah gempa bumi mengirim pilu,
Aku tersentak ditengah sendu,
Menahan air mata yang begitu haru.

Oh, air mata, berhentilah mengalir,
Meski masa amat getir.

Baca juga : 7+ Puisi Tentang Virus Corona

Puisi Tema Bencana Gunung Meletus

Selain sebagai destinasi bagi para traveler yang menyukai tantangan ekstrim, gunung tidak selamanya menyajikan pemandangan yang indah, dibalik itu, keberadaannya juga bisa menimbulkan bencana alam yang dahsyat.

Peristiwa gunung meletus memang tidak asing lagi ditelinga kita. Pasalnya, beberapa kasus tercatat dalam sejarah Indonesia, yang menceritakan kedahsyatan letusan dari berbagai gunung merapi di tanah air, misalnya gunung Krakatau dan Sinabung.

Tidak hanya merenggut nyawa, efeknya juga bisa menimbulkan banyak penyakit pada kulit dan pernafasan, baik bagi manusia maupun ekosistem hewan dan tumbuhan, akibat dari abu vulkanik.

Sesuai dengan judulnya, di bawah ini telah saya rangkum beberapa Puisi tentang Bencana Gunung meletus untuk kamu semua, silakan disimak :


Abu-mu

Abu mu,
Gelapkan siang,
Butakan malam,
Menghentikan langkah.

Abu mu,
Hantarkan penyakit,
Memberi jangkit,
Sulit dan amat pahit.

Abu mu,
Hauskan tanaman,
Keringkan mata air,
Mencuri ekosistem hewan.

Abu mu,
Kejam, sakit, pahit,
Kau tak salah,
Tak ada yang salah,
Takdir sudah tertera.

Tidak apa,
Itu memang hakikatmu,
Kami hanya bisa menahan,
Dan menanti kapan waktunya akan tiba,
Lagi.


Memecah Hening

Keheningan malam menghilang,
Seketika kau pecahkan,
Suara genderang perang datangkan,
Perasaan cemas dan tegang.

Aku tersentak dari mimpi,
Dan bertanya, apa yang terjadi,
Oh tidak, kau mulai beraksi,
Memberi teguran pada setiap diri.

Hai, gunung merapi,
Suaramu begitu besar,
Letusanmu amat menggelegar,
Menyemburkan panasnya lahar.

Hai, gunung kami,
Kau bangunkan manusia di bumi,
Dengan menghantam sunyinya sepi,
Kala orang-orang merajut mimpi.


Tak Kunjung Henti

Lagi dan lagi,
Hanya hitungan hari,
Lagi dan lagi,
Oh gunung merapi.

Tak kunjung henti,
Mengkhawatirkan seisi bumi,
Mencemaskan bencana lagi,
Belum siap mereka mati.

Takkan padam,
Ledakanmu selalu mengiris hati,
Letusanmu hancurkan asa diri,
Sungguh, ini sangat tajam.

Tak meredam,
Menyerang tak kenal siapa,
Siang maupun malam,
Yang tersisa hanya luka yang merajam.

INFO REKOMENDASI :
Lalu, bagaimana cara mengajak Manusia untuk melestarikan Alam, silakan simak Kumpulan Puisi Tentang Lingkungan Bersih ini.


Penutup

Demikianlah, ulasan kali ini mengenai Kumpulan Puisi tentang Bencana Alam Tsunami, Banjir, Gempa Bumi dan Gunung Meletus. Semoga artikel ini bisa bermanfaat, terutama dipersembahkan bagi korban bencana alam ataupun tanpa simpatisme kamu. (Ref)

Tinggalkan komentar