25+ Pituah Minang untuk Perempuan, Laki-laki & Anak Kecil beserta Artinya

Di bawah ini, adalah Kumpulan Pitaruah Nasehat dan Pituah Minang untuk Perempuan, Anak Bujang, Anak Kecil dan khususnya generasi muda penerus bangsa ini (beserta artinya), oleh Senipedia.


Pituah Minang tentang Perempuan dan Laki-laki – Di dalam kehidupan sehari-hari, kita berbaur dengan ratusan suku dan budaya yang beranekaragam, baik dari segi kebiasaan, adat, tradisi, pemahaman dan sebagainya.

Salah satu suku terbesar di Indonesia adalah Minangkabau, mereka bisa kamu temukan di mana saja di seluruh penjuru Indonesia, ada yang berprofesi sebagai pedagang, pebisnis, pelajar, perantau, pekerja dan lain-lain.

Lalu, mengapa mereka bisa tersebar se-begitu banyak dan tetap hidup tentram ? Ternyata, sejak kecil mereka telah dibekali asupan Pituah Minang tentang kehidupan, yang berupa nasihat-nasihat dari ninik mamak, orang yang dituakan dan lainnya.

Selain itu, pituah juga dikategorikan ke dalam beberapa golongan, yang ditujukan untuk kelompok orang berbeda-beda pula, misalnya Pituah Minang untuk anak Perempuan, anak laki-laki, untuk para perantau, motivasi hidup, kebaikan dan sebagainya.

Pengertian Pituah (Petuah)

Sederhananya, Pengertian Putiah di Minangkabau (Indonesia : Petuah) adalah ajaran-ajaran kebaikan berupa nasihat, pendidikan moral dan nilai, serta termasuk perintah secara tidak langsung, yang ditujukan bagi orang banyak, dan supaya dijadikan sebagai pijakan dan salah satu pedoman dalam menjalani kehidupan.

Pituah Minang Lamo umumnya dikeluarkan oleh orang-orang alim, ulama, yang memiliki ilmu agama Islam yang tinggi, punya kedudukan baik serta terpandang di lingkungan tersebut dalam hal positif, sehingga apa yang diicapkannya bisa memberi pengaruh bagi orang banyak di kemudian hari.

Pituah tidak sama dengan Pepatah. Pituah lebih dekat dengan pantun. Contoh Pituah Bahasa Minang paling terkenal misalnya : Bakato paliharo lidah, balaku paliharo budi, yang artinya : bertutur kata periharalah lidah, berperilaku periharalah budi. Masih banyak contoh Pepatah Minang Nasehat yang akan saya uraikan di bawah ini.

Kumpulan Pituah Minang untuk Generasi Muda

Tidak perlu berlama-lama lagi, mari sama-sama kita simak beberapa Contoh Pituah Minang dan Artinya di bawah ini, semoga bisa bermanfaat bagi saya dan para pembaca semua :

1. Pituah Minang untuk Perempuan

Dalam Budaya Minangkabau, sejak dahulu kala, Posisi Perempuan di tengah-tengah masyarakat sangatlah penting dan punya status yang tinggi. Perempuan dijadikan sebagai lambang kehormatan dan kemuliaan, serta sebagai Bundo Kanduang.

Untuk itu, para tokoh agama, niniak mamak, alim ulama dan segenap petinggi tradisional masyarakat, mengeluarkan banyak sekali pituah minang untuk anak perempuan secara khusus, dan terus-menerus disiramkan kepada mereka. Beberapa contohnya antara lain adalah :

“Pabaiak lakuan, pa elok Taratik. Jikok datang laki dari jauah, sambuiklah jo muko manih, hidangkanlah minum jo makannyo.”.

Artinya :
Saat suami pulang kerja atau dari bepergian karena suatu keperluan, maka sambutlah beliau dengan muka manis, penuhi apa yang dia minta, senangkan hatinya, sediakan makan dan minumnya. Bagaimanapun, kelelahan seorang suami yang pulang mencari nafkah adalah untuk kebaikan keluarga, maka dari itu, layani dia.


“Kok upiak nak pai ka pakan, mamintak izinlah dahulu bakeh inyo. Kok upiak naiak bendi, usahlah sabendi jo urang lain nan bukan dunsanak.”.

Artinya :
Jika kamu hendak keluar rumah untuk menuju suatu tempat, jangan pergi tanpa seizin suami, semua hak yang berlaku ada ditangannya. Selain itu, jika bepergian menaiki kendaraan, jangan sampai bersinggungan duduk dengan orang yang bukan mukhrim. Usahakan untuk bersama-sama dengan sanak saudara.


“Kok padusi indak bamalu, jadi cacek saumua hiduik. Bak pintu indak bapasak, mudah rang maliang mamasukinyo. Bak parahu indak ba kamudi, biaso sasek dalam balayia.”.

Artinya :
Pituah Minang untuk Perempuan yang tidak memiliki rasa malu, dalam artian malu yang bertujuan menjaga kehormatan dan kekhasan seorang wanita muslimah, maka akan mengalami penyesalan dan kesia-siaan seumur hidup.

Ibarat sebuah pintu tanpa pengunci yang kuat, sehingga pencuri mudah masuk. Ibarat kapal tanpa nahkoda, akan terombang-ambing di tengah lautan. Maka dari itu, jangan jadi perempuan yang lemah soal akidah dan ilmu agama, haruslah menguasai dan memahami syariat-syariat Islam dengan baik.


“Oh upiak sibiran tulang, pagang bana pituah Bundo ko. Buhua dalam kabek pinggang, buruak urang dek lakunyo. Kok roman nan indak dapek diubah, tapi kok laku jo parangai lai dapek ba ubah.”.

Artinya :
Tolok ukur kualitas seseorang bisa diukur dari tingkah laku dan kepribadiannya di keluarga, lingkungan dan masyarakat. Seorang perempuan haruslah menyadari bahwa cukup rupa yang tidak bisa diubah, namun kelakuan dan perangai dapat berubah ke arah yang baik, dengan niat dan usaha yang pasti.


“Kok basuo jo urang lain, kok duduak ditangah rami atau didalam alek jamu, caliak nan usah dipatinggi,  mato usah dipailia. Pandang sakali lalu sajo, usahlah galak dipabahak.”.

Artinya :
Jika seorang perempuan tengah berada di tempat keramaian, terutama banyak kaum pria di situ, maka peliharalah mata dan sikap. Tidak perlu melirik kesana-kemari secara liar, cukup pandang sekali saja dan jangan pula bercengkrama hingga tertawa terbahak bersama mereka kamu pria yang bukan mukhrim dan saudara (family).


“Lambak nan dari pado itu, sopan dan santun tak babateh, baso jo basi tak bahinggo, bia jo laki awak bana, janlah ilang baso basi.”.

Artinya :
Pituah Minang di atas mengisyaratkan bahwa, sebagai seorang perempuan yang merupakan istri, meskipun dengan suami kita sendiri, jangan menghilangkan sikap basa-basi, namun harus tetap dalam batas wajar, dalam artian selaku menjaga sopan dan santun.


“Di pamanih muluik sarato kucindan murah juo handaknyo. Gadangkan junjungan Upiak ditangah rami, muliakan inyo dimuko rapek.”.

Artinya :
Pesan dalam Pituah di atas adalah, anjuran untuk tetap menempatkan suami pada posisinya sebagai kepala keluarga kamu yang merupakan istrinya. Meskipun berada di tengah-tengah keramaian, kumpul keluarga besar maupun di hadapan jiran dan tetangga, suami harus selalu dijunjung dan dimuliakan.


“Paliekkan muko nan janiah. Karajokan jo ati nan suci. Kok barundiang samo gadang, kalamahannyo usah dibukakkan.”.

Artinya :
Sebagai seorang istri, saat ada pertemuan dengan orang lain, baik itu tetangga, mertua, orangtua kamu dan lainnya, jangan pernah membuka aib suami, misalnya seperti kelemahan dan kekurangannya.


2. Pituah Minang untuk Laki-Laki

Nasehat untuk anak bujang minang
Silek Tuo Minangkabau

Selain Pituah Minang untuk Perempuan, Kaum Pria keturunan Minangkabau sangat dikenal dengan kepiawaian mereka dalam berdagang, berbisnis, membina rumah tangga dan bertani. Selain itu, mereka telah diajarkan bagaimana hidup mandiri, itulah mengapa banyak sekali dari mereka yang merantau.

Nah, makanya tidak heran bila tidak sedikit para niniak mamak yang mengeluarkan Pituah Minang untuk anak laki-laki dan remaja / bujangan. Diantaranya adalah sebagai berikut :

“Indak batanggang ba habih minyak 
Tak nyo bak siang ba habih hari 
Namuah batanyo rajin manyimak 
Kalau baraja sapanuah hati”.

Artinya :
Jangan malu untuk bertanya bila tidak tahu akan sesuatu, dan jangan pula enggan mendengarkan saat seseorang menjelaskan sesuatu. Maka dari itu, belajar dan tuntutlah ilmu sepenuh hati.


“Hati lapang paham tak sampik 
Pandai maninbang jo manaka 
Walau batenggang di nan rumik 
Indak bakisa di nan bana”.

Artinya :
Disaat bekerja dengan siapapun, tetaplah berpegang pada prinsip kejujuran, menjunjung norma agama, mengatahui mana yang benar dan salah serta jangan melupakan adanya Allah SWT.


“Di nan dalam tak bagalombang 
Di nan dangka nyo tak bariak  
Di sakik hiduik indak tagamang  
Ka nan kuaso inyo mamintak”.

Artinya :
Seberat dan sebesar apapun cobaan hidup yang dialami, tetaplah meminta pertolongan kepada Allah SWT, karena memang Dia-lah tempat meminta dan mengabulkan hajat, bukan malah berlaku Musrik dengan menyekutukan-Nya.


“Iman nyo taguah bapandirian 
Ba istiqamah ba tauhid pulo 
Dek kawan-kawan jadi panutan 
Rang kampuang sayang kasadoannyo”.

Artinya :
Jadilah orang yang selalu disenangi dan disukai oleh siapapun, baik itu karena kecerdasan, kebaikan, motivator dan sahabat bagi siapa saja, dalam keadaan suka maupun duka. Dengan begitu, lingkungan akan menyenangi kehadiran kamu diantara mereka.


“Indak mangecek ba hati nan kusuik 
Muko nan janiah di nampakkan 
Walau harimau di dalam paruik 
Kambiang juo nan di kaluakan”.

Artinya :
Bagaimanapun orang lain memperlakukan kamu, jadilah orang yang memiliki jiwa penyabar dan lemah lembut kepada siapapun. Meski saat itu kamu sedang berada dalam kemarahan besar, tetap perlihatkan senyuman, disertai tutur kata yang baik.


“Kalau baragiah jo mambari 
ndak maharok baleh jaso 
Jariah nan indak di kana lai 
Bia Nan Satu manilai nyo”.

Artinya :
Bila di masa mendatang, banyak hal baik yang kamu lakukan namun tidak lagi dianggao oleh orang banyak, jangan berkecil hati dan jangan pula mendendam, biarkan Allah SWT yang menilai semuanya.


“Indak barajo ka hati surang 
Basutan ka mato inyo tido 
Kayo katampek rang batenggang 
Cadiak ka bakeh rang batanyo.”

Artinya :
Bila ingin meminta bantuan soal ekonomi, carilah yang orang baik dengan harta yang baik. Begitu juga saat meminta pendapat atau bertanya suatu hal, maka carilah orang yang cerdas akan bidang tersebut.


“Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati”.

Artinya :
Jadilah laki-laki yang tegas dan bijaksana dalam bertindak, maupun saat memutuskan suatu kebijakan tertentu.


“Anak ikan dimakan ikan
gadang ditabek anak tenggiri
Ameh bukan perakpun bukan
budi saketek rang haragoi”.

Artinya :
Jika ingin dihargai oleh orang lain, maka peliharalah budi dan laku sebaik mungkin, karena tolok ukur penilaian bukanlah karena harta, tahta, emas maupun perak.


“Alah bauriah bak sipasin
kok bakiek alah bajajak
habih tahun baganti musim
sandi Adat jangan dianjak”.

Artinya :
Di tengah-tengah perkembangan zaman yang pesat ini, jadilah laki-laki yang tetap menjunjung tinggi soal adat, tradisi dan pegangan hidup selama berjalan di atas bumi ini.


3. Pituah Minang untuk Anak-Anak

Selain Pituah Minang untuk Perempuan dan Laki-laki, juga ada untuk anak kecil. Masa kecil adalah saat-saat dimana banyaknya pendidikan karakter, budi pekerti dan pendidikan diberikan. Ini dikarenakan pada masa ini, setiap anak memiliki kemampuan untuk merekam dan mengingat apa yang ia lihat maupun dengar.

Oleh karenanya, Pituah Minang untuk Anak-anak sangat sering terdengar dilantunkan kepada mereka, yang kemudian akan dijadikan sebagai pedoman, tolok ukur dan pertimbangan segala hal yang mereka hadapi nantinya. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

“Usah manjadi rajo kalah
Nan bajalan manakua-nakua
Mangecek tatagun-tagun
hilang banso punah martabat”.

Artinya :
Jadilah anak yang bisa menerima budaya luar, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dan budaya asli / tradisional, bukan malah menghapus dan menggantikannya.


“Rantangkan banang ka langik
hubuangkan diri jo Tuhan
Jalin kulindan ateh bumi
paharek buhua jo manusia”.

Artinya :
Seorang anak yang baru saja tumbuh, harus diajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, serta juga menyeimbangkan dengan hubungan yang baik antar sesama manusia.


“Manuruik sifaik jo janji-janji-Nyo, Allah itu Maha Pengampun, murah maaf, maha jo dandam. Tapi ado duo nan tak bahampunan, partamo murtad, kaduo syirik”.

Artinya :
Semasa hidup, jangan pernah menyekutukan Allah SWT, karena Dia-lah satu-satunya yang patut disembah oleh semua manusia. Dan juga, jangan pernah tergoda oleh apapun yang bisa memunculkan niat untuk Murtad, alias memutus tali hubungan dengan Islam.


“iduiklah sasuko hati, tapi ingek salamo iduik musti ka mati, karajokan apo nan taragak, tapi ingek satiok karajo akan ditanyo, cintoilah apo nan dihati, tapi ingek satiok pertemuan ado perpisahan”

Artinya :
Pada Pituah Minang untuk Anak di atas, menjelaskan kepada bahwa, hiduplah di atas dunia dengan berpegang pada pedoman yakn Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Cintai apa yang dititipkan kepada kita, namun harus juga selalu ingat, bahwa setiap kebersamaan pasti ada perpisahan.


“Dari mano datangnyo awak, sadang di mano kito kini, kamano arah ka dituju. Batanyo ka diri, untuak apo waang ko iduik? Ka manga dating ka dunia-ko? Kok indak tau jawabannyo, Tuhan manolong manjawabkan. “Wama akhlaktul jinni wal insa illa liyak buduni”.

Artinya :
Selagi kamu masih kecil, sadari satu hal yang amat penting, bahwa setiap manusia yang hidup di dunia ini, tidak diciptakan kecuali untuk menyembah Allah SWT. Maka dari itu, jadilah seorang hamba yang senantiasa berserah diri dan mengadukan segalanya, baik suka maupun duka kepada Allah SWT.

Penutup

Demikianlah, ulasan kali ini mengenai Kumpulan Putiah Minang untuk anak perempuan dan laki-laki, serta bagi anak-anak kita. Semoga ulasan tentang Pepatah Minangkabau ini bisa bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi perjalanan hidup kita. (Ref)

Selanjutnya :

Pituah Minang untuk Perempuan

Tinggalkan komentar