Pelukis Indonesia

Pelukis Indonesia – Indonesia adalah sebuah negara yang berdiri sudah sejak lama. Di dunia pendidikan dalam pelajaran Sejarah, kita diberi pengetahuan mengenai kerajaan-kerajaan Hindu, Budha dan Islam yang pernah menguasai Nusantara bahkan negara sekitarnya.

Dalam perjalanannya, tidak dipungkiri bahwa peradaban yang terjadi telah menerbitkan banyak sekali seniman atau Pelukis ternama di Indonesia, yang tersebar di berbagai penjuru negeri, dari Sabang sampai Merauke.

Tidak hanya lingkup tanah air saja, karya-karya seniman terbaik Indonesia tersebut juga telah diakui dunia, bahkan ada yang di pajang pada beberapa museum seni kenamaan dunia. Hal ini tentu menjadi kebanggaan bagi kita selaku masyarakat Indonesia.

Pelukis Indonesia Terbaik Sepanjang Masa

Hikmah yang bisa kita kutip dari Karya seni mereka bukanlah kesuksesannya semata, namun bagaimana perjalanan panjang mereka dalam mencapai itu semua, jatuh bangun, gagal dan bangkit lagi hingga sampai pada titik puncak kesuksesan.

Pada kesempatan kali ini, saya akan memberikan informasi kepada anda mengenai Daftar Pelukis Indonesia yang terkenal dan terbaik, dimana karya lukisan mereka telah diakui dan diapresiasi dunia. Check this out.

Abdullah Suriosubroto

Pelukis indonesia

Dikenal dengan sebutan Pelukis Indonesia pertama abad ke-20, Abdullah lahir pada 1878 di Semarang, dan wafat pada tahun 1941 pada usia 63 tahun. Meskipun kelulusan sekolah kedokteran, beliau akhirnya melanjutkan studinya ke Belanda.

Namun setelah menatap di Belanda, Abdullah kemudian mengubah arah nasibnya untuk mendalami dunia seni lukis. Setelah pulang kampung ke Indonesia, ilmu seninya kian diperdalam, dimana dia sering menerbitkan lukisan yang disukainya, yakni pemandangan alam.

Atas segala waktu, tenaga dan pengorbanan yang tercurah, dia berhasil menjadi seniman yang dijuluki “Mooi Indie” atau Hindia Indah. Karya yang paling mencolok yakni lukisan minyak bergambar pemandangan alam jarak jauh serta bersifat Romantik.

Hingga kini, banyak dari karyanya yang masih disimpan dan bisa dilihat secara langsung yang tersimpan rapi di museum. Beliau wafat di Yogyakarta pada tahun 1941.

Affandi Koesoema

Dalam daftar Pelopor pelukis modern Indonesia yang paling populer dan terkenal aneh, salah satunya adalah Affandi Koesoema ini, beliau dikatakan aneh dan unik karena tidak melukis menggunakan kuas.

Awalnya, beliau menumpahkan cat-cat berwarna ke dalam kanvas, tentunya akan terkesan amburadul dan acak-acakan. Kemudian, beliau akan menyikat warna-warna cat tersebut dengan jarinya, sehingga berubah 360 derajat menjadi sangat indah dan punya nilai sangat tinggi.

Segudang informasi telah digapai selama melalang buana sebagai seniman pelukis Indonesia yang handal. Salah satu bukti yakni Pada tahun 1950-an, dimana ia sering mengadakan pameran tunggal di Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara di Asia dan Eropa.

Affandi Koesoema lahir pada tahun 1907 dan wafat pada tahun 1990. Sepanjang karirnya, beliau telah menerbitkan lebih dari 2000 karya seni, yang keseluruhan punya daya dan kualitas tinggi.

Agus Djaya

Pelukis asal indonesia

Pelukis terbaik indonesia berikutnya berasal dari keluarga bangsawan Banten, yang lahir pada tahun 1913, dengan nama asli asli Raden Agus Djaja Suminta. Kecukupan materi menghantarkan dia dalam mendapatkan pendidikan yang layak.

Buktinya, setelah menyelesaikan pendidikan di Tanah Air, beliau kemudian melanjutkan studinya ke Akademi Rijks (Academy of Fine Art) Amsterdam, Belanda.

Tinggal dan menetap di Eropa lantas ia manfaatkan untuk bisa bertemu dan berdiskusi langsung dengan beberapa seniman kenamaan dunia, sebut saja Pablo Picasso, Salvador Dali dan Ossip Zadkine, yang pada masa itu sangat tersohor.

Agus Djaja juga merupakan pengelola sekaligus pendiri Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Ia memipin Persagi sejak 1938 hingga 1942. Selain itu, Persagi juga dinobatkan sebagai organisasi seniman senirupa pertama di Indonesia.

Rentang tahun 1942-1945, Agus Djaja diangkat menjadi Ketua Pusat Kebudayaan Bagian Senirupa oleh Ir. Soekarno. Beliau juga aktif sebagai Kolonel Intel dan F.P (persiapan lapangan) pada masa Revolusi Kemerdekaan.

Pameran senirupa paling diingat darinya adalah pada tahun 1976 di Taman Ismail Marzuki, dimana beliau memajang lebih dari 70 lukisan. Setelah lama di Ibukota, dia pindah ke Bali dan mendirikan Galeri Impian disana.

Barli Sasmitawinata

Barli Sasmitawinata merupakan seorang seniman asli Indonesia, beliau lahir di Bandung pada 18 Maret 1921, dan meninggal tangga 8 Februari 2007. Di usianya yang cukup panjang tersebut, dia mulai menggeluti dunia seni lukis sejak tahun 1935.

Awalnya, dia mulai belajar ilmu lukis di Studio milik Jos Pluimentz yang berada di Bandung. Setelah itu, beliau mengadukan karirnya pada Luigi Nobili, seorang pelukis asal Italia. Di studio inilah Barli mulai berkenalan dengan Affandi.

Setelah pertemuan tersebut, Barli kemudian mendirikan “kelompok Lima Bandung” bersama 4 seniman lainnya, yakni Affandi, Hendra Gunawan, Soedarso dan Wahdi Sumanta. Keikatan dan rasa persaudaraan mulai mengerat berkat kelompok yang didirikan tersebut.

Meskipun Barli telah memiliki segudang ilmu dan prestasi, dia tetap melanjutkan pendidikannya, yaitu ke Academie de la Grande Chaumiere Paris, Perancis, kemudian menuju Rijksakademie van beeldende kunsten Amsterdam, Belanda di tahun 1956.

Basuki Abdullah

Seniman terbaik di indonesia

Pelukis Ternama asal tanah berikutnya bernama Basuki Abdullah, lahir di Kota Surakarta pada 25 januari 1915, dan wafat tanggal 5 November 1993. Ia merupakan salah satu pelukis potret paling berpengaruh di Dunia.

Basuki Abdullah menempuh pendidikan di HIS Katolik dan Mulo Katolik Solo, Jawa Tengah. Setelah selesai, ia Kemudian berkesempatan untuk belajar di Academie Voor Beeldende Kunsten Den Haag, Belanda, melalui jalur beasiswa pada tahun 1933.

Dalam perjalanan karirnya yang gemilang, dia pernah diangkat sebagai pelukis Istana Kerajaan Thailand di tahun 1960-an, dan pelukis resmi Istana Merdeka di tahun 1974. Beliau juga pelukis yang tersohor dengan kehebatan melukis kemiripan wajah dan bentuk.

Alhasil, banyak tokoh-tokoh dunia kala itu yang menggunakan jasanya, sebut saja seperti seperti Ir. Soekarno, Pangeran Philip dari Inggris, Pangeran Bernard dari Belanda, Sultan Brunei hingga kaum jetset seperti Nyonya Ratna Sari Dewi.

Salah satu prestasi terbaiknya yang wajib diingat adalah, keberhasilannya dalam mengalahkan 87 pelukis kaliber Internasional, pada sebuah sayembara yang diadakan di Amsterdam, Belanda.

Tidak sampai disitu, dia juga sering mengadakan pameran di negara-negara lain, seperti Thailand, Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris dan lainnya. Bahkan tidak kurang dari 22 negera di dunia mengoleksi karyanya hingga kini.

Selengkapnya Mengenai Biografi Basuki Abdullah.

Delsy Syamsumar

Beliau adalah Pelukis terkenal dari Sumatera, bernama Delsy Syamsumar, lahir di Sumatera Utara pada tanggal 7 Mei 1935. Bukan hanya melukis, Delsy juga dikenal sebagai sebagai komikus, ilustrator, desainer dan lain-lain.

Dia benar-benar Multitalenta, bahkan sampai digadang-gadang sebagai seniman terbaik se-Asia Tenggara. Bukan tanpa sebab, sederet karya dan prestasi lah yang menghantarkan dia ke posisi itu pada masanya.

Dia juga berhasil menyabet beberapa penghargaan yang bergengsi, salah satunya adalah Asian Best Art Director melalui film yang berjudul “Holiday in Bali” yang sutradarai oleh H. Usman Ismail dalam sebuah Festival Film di Tokyo pada tahun 1962.

Tidak sampai disitu, karya lukisnya menghantarkan dia sebagai pelukis Indonesia satu-satunya yang diberi predikat Litteratures Contemporaines L’ Azie du Sud Est dan II’exellent dessinateur oleh Lembaga Seni dan Sejarah Perancis, lewat buku literatur seni dunia yang fenomenal, France Art Journal 1974.

Delsy Syamsumar wafat di Jakarta tanggal 21 Juni 2001 pada usia 66 tahun, serta meninggalkan 9 orang anak.

Dullah Suleiweh

Tokoh seni lukis

Seorang Pelukis asal Jawa bernama Dullah, lahir di Solo, Jawa Tengah pada 17 September 1919. Menurut data yang ada, beliau belajar dari 2 Maestro seni ternama tanah air yakni yaitu S. Sudjojono dan Affandi. Dia juga dikenal sebagai pelukis istana sejak 1950-1960.

Beberapa pameran lukisan yang pernah diadakannya antara lain bersama anak-anaknya di Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogya) tahun 1978, serta di Aldiron Plaza, Jakarta pada 20 Desember 1979 hingga 2 Januari 1980.

Lukisannya banyak diminati dan dikoleksi oleh pejabat-pejabat tinggi suatu negara, baik dari dalam maupun luar negeri, antara lain adalah Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Adam Malik, Eisenhower, Walter Mondale, Rudolf Menzies dan museum seni lukis di Republik Ceko.

Handra Gunawan

Pelukis Indonesia Yang Mendunia selanjutnya bernama Hendra Gunawan, lahir di Bandung tahun 1918 dan wafat di Bali pada 1983 dalam usia 65 tahun. Selain melukis, dia juga dikenal sebagai pematung yang handal.

Handra Gunawan merupakan salah satu anggota dari Lima Serangkai, dengan Affandi, Sudarso, dan Barli. Sejak itu, mereka mulai mengadakan pelatihan lebih mendalam mengenai dunia lukis di rumah Affandi bersama-sama.

Beliau juga telah mengadakan beberapa kali pameran lukisan, pertama yakni tahun 1946, pertama yakni di Gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Jl. Malioboro, Yogyakarta. Disponsori langsung oleh Ir. Soekarno, sekaligus menjadi pameran seni pertama setelah berdirinya NKRI.

Pada tahun 1950, Hendra membuat patung Jenderal Sudirman yang ada di halaman gedung DPRD Yogyakarta, sekaligus sebagai patung batu pertama sesudah Prambanan.

Beberapa patung bersejarah yang merupakan karya lainnya yakni Patung Tugu Muda di Semarang dan Patung Erlangga di Surabaya. Beliau juga tercatat sebagai salah seorang pendiri ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) di Yogyakarta tahun 1950.

Hendra Gunawan wafat di RSU Sanglah, Denpasar, Bali pada 17 Juli 1983, kemudian dimakamkan di Pemakaman Muslimin Gang Kuburan Jalan A. Yani, Purwakarta.

Sebagai penghargaan terbarunya yakni di tahun 2015 silam, Dimana Presiden Joko Widodo atas nama negara, memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma atas dedikasi Hendra Gunawan.

Henk Ngantung

Pelukis Indonesia yang mendunia

Henk Ngantung atau bernama asli Hendrik Hermanus Joel Ngantung medupakan pelukis handal asal Indonesia, lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 1 Maret 1921, dan wafat di Jakarta tanggal 12 Desember 1991 pada usia 70 tahun.

Henk Ngatung dikenal sebagai seorang pelukis kondang tanpa pendidikan formal seperti yang lain. Namun meskipun begitu, karirnya cukup baik dan diperhitungkan. Dia juga ikut serta dalam membangun organisasi ‘Gelanggang’, bersama Chairul Anwar dan Asrul Sani.

Selain berprofesi sebagai pelukis, Henk Ngantung juga pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur di bawah Soemarno, kemudian diangkat menjadi Gubernur Jakarta pada periode 1964-1965.

Setelah masa jabatannya usai, Henk Ngantung ternyata diselimuti kemiskinan hingga harus menjual rumahnya yang ada di Jakarta, untuk kemudian pindah ke perkampungan.

Tidak sampai disitu, penderitaannya berlanjut sampai ketika dia hampir mengalami kebutaan karena penyakit, serta dicap sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI), namun tidak pernah disidang, dipenjara, apalagi diadili hingga akhir hayatnya.

Namun dari segenap kepahitan tang dirasakannya, ada 1 karya beliau yang menjadi ciri khas ibukota, dan akan diingat seluruh masyarakat Indonesia, yakni Patung Selamat Datang yang berada di Bundaran Hotel Indonesia.

Desain awalnya dikerjakan saat dia menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta (1960-1964), setelah menerima ide dari Ir. Soekarno. Selain itu, beliau juga pembuat sketsa lambang DKI Jakarta dan Kostrad (Komando Strategis Angkatan Darat), meskipun kabarnya hal ini tidak diakui oleh Pemerintah.

Itji Tarmizi

Salah satu seniman lukisan yang tumbuh subur pada zaman orde lama (1950-1960-an) bernama Itji Tarmizi. Beliau lahir di Desa Tepi Selo, Lintau, Tanah Datar, Sumbar pada 21 Juli 1939, dan wafat di Jakarta 27 November 2001 pada usia 62 tahun.

Aliran seni lukis Realisme-Sosialis menjadikan dia Maestro dalam bidang tersebut. Beliau adalah lulusan Mahasiswa Luar Biasa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, sebelihnya dia belajar secara otodidak.

Beberapa karya lukis beliau yang memvisualkan kehidupan kaum papa, serta kumpulan objek orang-orang yang bekerja keras untuk kelangsungan hidup, antara lain “Perkampungan Nelayan”, “Lelang Ikan”, “Potret Pribadi”, “Melepas Gembala Kerbau” dan lain sebagainya.

Dalam perjalanan karirnya, Itji Tarmizi merupakan salah satu seniman ternama asal Indonesia kesayangan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Setelah orde baru berakhir dan berganti orde reformasi, Itji kembali muncul di Jakarta dan berkiprah lagi didunia senirupa.

Tidak lama setelah itu, beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada 27 November 2001, dan dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

I. B Said

Karya lukis I b said

Berikutnya bernama I. B. Said, yang lahir pada tanggal 28 Agustus 1934. Pelukis spesial yang satu ini diutus khusus oleh Ir. Soekarno untuk melukis wajah para tamu-tamu tanah air, hingga menyelesaikan 300 lukisan.

Beberapa karya lukis I. B. Said paling terkenal diantaranya Segitiga Senen Tinggal Kenangan dan wajah-wajah tamu negara mulai dari Josip Broz Tito, Ronald Reagan, Xanana Gusmao, Ferdinand Marcos, dan lain-lain.

Raden Saleh

Raden Saleh merupakan pelukis legendaris asal Indonesia, beliau merupakan seniman pertama yang berhasil menempuh pendidikan seni hingga ke Eropa, dia dilahirkan pada tahun 1807, dan wafat pada 1880.

Raden menjadi Maestro seni lukis pada zamannya, terbukti dari banyaknya penghargaan yang berhasil ia raih. Awalnya ia belajar di Belgia dan kemudian hijrah ke Eropa. Alirannya yakni Naturalisme dan Kritikan.

Beberapa karya lukis Raden Saleh paling terkenal diantaranya berjudul A Flood on Java, Berburu, Lion and Tiger Fighting, Arab Attacked by Lion, Berburu Singa, Fighting With a Lion, Forest Fire and Fleeing Animals, dan lain-lain.

S. Sudjojono

Contoh lukisan naturalisme

Bernama lengkap Sindu Sudjojono, adalah seorang pelukis asal Sumatera Utara, tepatnya Kisaran. Lahir pada 14 Desember 1913, dan meninggal pada 24 Maret 1985. Dia mendalami ilmu seni di Chioji Yazaki, Jepang.

Karyanya banyak bertemakan perjuangan Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Beberapa karya beliau yang tersohor diantaranya Cap go meh, Pasukan Kita, Wanita di Atas Bukit dan lain-lain.

Popo Iskandar

Pelukis Indonesia selanjutnya yakni Popo Iskandar, lahir pada 18 Desember 1926 dan meninggal tanggal 29 Januari 2000. Selain melukis, ia juga pernah menjadi dosen di IKIP Bandung (sekarang : UPI).

Dia belajar langsung dari Maestro pendahulunya yakni Hendra Gunawan dan Barli Samitawinata. Sebagai penyuka hewan, dia banyak menggambar kucing, sehingga dijuluki ‘Pelukis Kucing’ pada masanya.

Srihardi Soedarsono

Misteri lukisan terkenal

Srihardi merupakan pelukis asal Surakarta, yang lahir pada 4 Desember 1931. Tepat di tahun 1945 dalam usia 13 tahun, beliau menjadi wartawan dan akhirnya bergabung bersama organisasi Seniman Indonesia Muda, selama rentan waktu 1847-1952.

Hasil karya Srihadri Soedarsono yang fenomenal diantaranya Doa dalam Penantian, Perahu Jukung, The Warior – The Energy of Love And Peace dan lain-lain.

Djoko Pekik

Pelukis Indonesia selanjutnya bernama Djoko Pekik, lahir di Grobogan, Jawa Tengah pada 2 Januari 1937. Bakatnya yang sudah terlihat sejak kecil terhalang untuk berkembang, karena ia berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan dia tidak tamat SD.

Pada peristiwa G30/S PKI saat ia dalam tahanan, ternyata seorang peneliti bernama Astri, telah banyak membaca karya-karya Djoko. Akhirnya, ia diikutsertakan dalam sebuah pameran Lukisan yang diselenggarakan di Amerika Serikat.

Puncak kesuksesannya ialah ketika salah satu karyanya di mahar seharga 1 Milyar. Beberapa karya lukis Djoko diantaranya Celeng, Go to Hell Crocodile, Yes I am a Whore, Becak Driver is Being Baby, Bumi Tarung dan lainnya.

Jeihan Sukmantoro

Gambar lukisan mengerikan

Beliau lahir pada 26 September 1938, pelukis yang terkenal dengan paduan aura mistik timur dan mistik barat ke lukisannya. Beberapa karyanya diantaranya Nuriah, Sandra, Uni, Mimin, Nyai, Didi dan lain-lain.

Widayat

Pelukis Indonesia yang terakhir adalah Widayat, yang lahir pada tahun 1923 di Kutoarjo, Jawa Tengah. Banyak penghargaan bergengsi yang sudah ia sabet, bahkan dari pemerintah Indonesia.

Beberapa hasil karya beliau diantaranya Abstraksi Dekora, Ayam, Burung-burung di Pulau Dua, Dialog dengan Burung, Dua Turis Melihat Pertunjukan Kuda Lumping, Ikan-ikan, Taman Firdaus, Gunung Merapi Meletus dan masih banyak lagi.

Pelajaran dari Pelukis Indonesia

Sebagai Pecinta Seni, harusnya kita para generasi mampu menjaga, menghargai dan melestarikan karya-karya seni legendaris dari mereka, misalnya dengan melindungi keaslian dan keberadaannya.

Terlepas dari itu, jangan hanya melihat dari sisi kesuksesan mereka saja, namun ingat juga bagaimana perjalanan mereka, dengan mengorbankan waktu, tenaga dan materi untuk bisa berjaya dalam bidang seni.

Dari situ kita harus mampu mengambil pelajaran dan menjadikannya motivasi sekaligus inspirasi, untuk memupuk diri agar bisa lebih semangat, bergairah dan semakin cinta terhadap dunia seni.

Baca juga : Pengertian Seni Rupa Murni

Penutup Pelukis Indonesia

Demikianlah, informasi kali ini mengenai 17+ Daftar Nama Pelukis Indonesia terbaik, semoga bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita semua, serta mengambil hal positif dari para pendahulu di atas. (REF).

Tanggal Penerbitan : 6 Juni 2019
Terakhir Diperbaharui : 3 Juni 2020