Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir

Legenda Danau Toba – Pada kesempatan kali ini, Senipedia akan menjabarkan mengenai salah satu Cerita Rakyat Sumatera Utara yang sangat terkenal, tersohor dan fenomenal, yakni Cerita terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir.

Tidak ubahnya seperti dongeng-dongeng Nusantara yang lain, Legenda Danau Toba juga sudah seringkali diangkat ke berbagai pertunjukan seperti sinetron, drama, serta dalam bentuk tulisan seperti puisi, novel Cerita Rakyat, pantun dan lain-lain.

Eksistensinya telah tersebar hingga ke pelosok negeri. Selain itu, menurut Wikipedia, Danau Toba juga merupakan Danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan total luas permukaannya sekitar 1.130 Km².

Kemegahannya tidak sampai disitu. Ditengah-tengah Danau tersebut terdapat sebuah pulau yang besar bernama Samosir.

Hingga kini, Fungsi Danau Toba sangatlah banyak, mulai dari Irigasi, Transportasi, Perikanan, PLTA, objek wisata serta pengendalian banjir bagi masyarakat setempat.

Namun seperti yang kita tahu, Proses terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir ternyata diselimuti sebuah Kisah Legendaris, yang tersebar secara turun-temurun hingga ke masa sekarang, dan telah sampai ke seluruh dunia.

Sinopsis Cerita Terbentuknya Danau Toba

Singkatnya, Sinopsis Legenda Danau Toba mengisahkan seorang pemuda lajang yang miskin di sebuah desa. Suatu hari, dia pergi memancing dan berhasil mendapatkan ikan yang ternyata seorang Dewi yang dikutuk para Dewa.

Ikan tersebut berubah menjadi Wanita cantik yang kemudian dinikahinya. Pernikahan itu disyaratkan sebuah janji, yaitu Toba harus merahasiakan asal-usul sang Istri kepada siapapun.

Singkat cerita, mereka dikaruniai seorang putra yang bernama Samosir. Ketika dewasa, Samosir menghabiskan semua makanan yang diperuntukkan bagi Ayahnya, sontak ayahnya marah dan berucap “Dasar anak ikan…”.

Tidak lama setelah itu, air menyembur dari bawah telapak kakinya, yang lama-kelamaan menjadi besar, sehingga desa-desa di sekitarnya tenggelam dan terbentuklah sebuah danau, yang ditengah-tengahnya ada pulau yang konon adalah fisik Samosir.


Nah, di atas adalah sinopsis atau gambaran singkatnya. Di bawah ini, Senipedia akan mencoba merangkum tentang Cerita Danau Toba dan Pulau Samosir secara Lengkap, beserta hikmah yang terkandung dalam cerita ini sendiri.

By the way, Silakan siapkan cemilan agar lebih santai dalam membaca dan memahami. Oke, Lanjut…

Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir Lengkap

Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil bernama Tapanuli (Sumatera Utara), hiduplah seorang pemuda lajang paruh baya, bertana Toba, sebatang kara dan tinggal di sebuah gubuk kecil. Profesinya sebagai seorang petani sayur dan buah-buahan.

Dia juga sangat suka memancing. Setelah panen, biasanya dia akan pergi memancing ikan ke sungai yang terletak tidak jauh dari kebunnya. Begitulah rutinitasnya sehari-hari.

Suatu sore, setelah memanen sebagian sayurannya di kebun, dia berangkat memancing ke sungai, dengan membawa peralatan pancing seadanya. Ketika di perjalanan, dia berbicara di dalam hati :

” Andai saja aku mempunyai istri dan anak, pasti nasibku akan berubah. Setiap pulang dari kebun, aku tidak perlu repot-repot lagi untuk memasak makanan, begitu juga saat harus memcuci pakaian. alangkah bahagianya hidup ini. “.

Setelah berandai-andai sepanjang jalan, sampailah Toba ke tepi sungai. Dia langsung mempersiapkan alat-alat pancing dan mulai memancing.

Matahari kian condong ke barat, namun belum ada seekorpun yang ia dapatkan. Hingga akhirnya, umpannya disambar. Ketika diangkat, ternyata adalah seekor ikan besar berwarna keemasan. Karena menyadari hari semakin gelap, Tobs pun memutuskan untuk pulang.

1. Cerita Danau Toba : Bertemu Wanita Cantik Jelmaan Ikan

Sesampainya di rumah, Toba langsung bergegas mengambil alat-alat dan bumbu untuk memasak ke belakang rumah, sekaligus dengan sayur-mayurnya. Dia bergumam “Aku akan makan enak sore dan malam hari ini”.

Namun betapa terkejutnya atas apa yang dia lihat, dimana ember yang dijadikan tempat membawa ikan tadi berisi kepingan emas dalam jumlah banyak. Karena penasaran, dia langsung melihat ikan yang didapat.

Kaget setengah mati, saat dia melihat sesosok wanita berparas cantik dengan rambut yang terurai panjang. Tahu pemuda itu kaget, wanita tersebut langsung memecah suasana dengan berkata :

” Tidak perlu khawatir, wahai pemuda. Aku adalah jelmaan ikan yang kau pancing tadi. Sebenarnya aku adalah seorang Dewi, namun terkena kutukan dari para Dewa, karena melanggar suatu aturan. Sehingga aku berubah menjadi seekor ikan…. “

Ditengah rasa heran dan takjub, Toba pun menjawab :

” Lalu, kenapa kau berubah menjadi seorang Manusia seperti Aku ? “

Wanita itu menuntaskan :

” Sesaat setelah aku dikutuk, para Dewa memberikan keringanan kepadaku, mengenai cara supaya aku bisa berubah lagi ke wujud semula, yaitu dimana ketika aku disentuh oleh makhluk lain….

…..Ketika kamu menyentuhku, dan kau adalah manusia, maka dari itu aku pun berubah menjadi manusia. Untuk menebus kebaikanmu, aku bersedia menikah denganmu…..

…..Namun dengan satu Syarat. Bersumpahlah bahwa Kamu tidak akan menceritakan asal-usulku kepada siapapun. Jika sumpah ini kamu langgar, baik secara sengaja ataupun tidak, maka akan datang bencana besar yang akan menghancurkan desa ini dan sekitarnya… “

2. Kisah Danau Toba : Masusia Ikan Menikah dengan Toba

Antara senang dan khawatir terpampang jelas di wajah Toba. Senang karena dia akan memiliki istri yang selama ini menjadi harapannya. Sedangkan rasa khawatir karena akan menikah dengan seorang yang bukan berasal dari manusia biasa, tapi jelmaan atau siluman.

Namun, Toba tidak memperdulikan hal tersebut lebih jauh. Dia hanya berkomitmen untuk bisa hidup bersama dengan bahagia. Setelah percakapan selesai, beberapa waktu kemudian akhirnya mereka menikah.

Hari-hari dilalui bersama dengan bahagia. Cinta semakin tumbuh diantara mereka. Perbedaan asal dan usul pun perlahan menyamar dan kemudian menghilang oleh rasa kasih serta sayang yang kian membesar.

Puncak kebahagiaan semakin terlihat tak kala sang istri melahirkan anak pertama mereka, yang diberi nama Samosir. Dia tumbuh dengan normal layaknya manusia biasa pada umumnya.

Hanya saja, keanehan mulai terlihat saat Samosir mengenal makanan. Dia tumbuh sebagai sosok yang selalu merasa lapar. Bahkan meskipun dia sudah makan banyak, tidak lama kemudian dia akan kembali lapar.

3. Dongeng Danau Toba : Pelanggaran Sumpah

Ketika Samosir menginjak usia anak-anak, yang gemar bermain bersama teman-temannya, dia juga tidak jarang membantu pekerjaan ibunya di rumah, dan ayahnya di kebun. Dalam artian, pendidikan budi pekerti telah tertanam dalam dirinya.

Suatu hari, Samosir diperintahkan ibunya untuk menghantarkan makan siang untuk sang ayah yang tengah bekerja di kebun, Samosir pun langsung meng’iya’kan dan bergegas menjenguk ayahnya.

Namun di perjalanan, penyakitnya kambuh, dia merasa sangat lapar sekali, sehingga memakan makanan yang diperuntukkan kepada Ayahnya. Sayangnya, Samosir seakan hilang ingatan bahwa bekal tersebut bukan untuk dia.

Setelah melahap sebagian besar bekal makanan tersebut, Samosir melanjutkan perjalanannya. Di sisi lain, sang Ayah ternyata sudah menunggu cukup lama, karena Samosir tak kunjung tiba.

Sesampainya ke kebun, Samosir memberikan bungkusan makan siang tersebut. Namun ketika dibuka, Toba melihat bahwa makanan itu sudah dimakan duluan, karena hanya tersisa sedikit, sedangkan dia dalam keadaan lelah dan amat lapar.

Sontak sang Ayah marah dan bertanya kepada Samosir :

” Hai Samosir, kenapa makananku hanya tinggal sedikit? Apakah karena terjatuh, atau memang ini yang disediakan ibumu untukku…? “

Dengan paras polos dan suara yang datar, Samosir pun menjawab dengan nada tenang :

” Maaf, Ayah. Tadi di perjalanan aku merasa sangat lapar, sehingga aku memakannya dan meninggalkannya sedikit. “.

Mendengar ungkapan tersebut, Toba marah besar kepada anaknya. Dia mengeluarkan kata-kata makian, hingga akhirnya terloncatlah kalimat sumpah yang tidak boleh diucapkan tersebut :

” Kelewatan sekali kamu, Samosir. Apa kamu tidak tahu bahwa aku sangat lelah dan lapar? Kenapa kamu malah memakannya? Dasar Anak Keturunan Ikan…!!! “.

Setelah menyadari apa yang ia katakan, Toba merasa sangat menyesal sekali karena tidak sengaja telah melanggar sumpahnya terhadap sang istri.

4. Terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir

Sementara, Samosir yang tidak tahu apa-apa itu langsung berlari berbalik arah untuk pulang dan menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya.

Sesampainya di rumah, sang Ibu pun bertanya :

” Wahai Anakku, Samosir. Kenapa engkau menangis? Apa yang terjadi pada dirimu? “

Di tengah isak tangis, Samosir pun menceritakan semuanya. Kaget bukan main, ketika ibunya mengetahui bahwa sang suami telah melanggar sumpahnya.

Dalam keadaan menangis, sang ibu pun menegaskan sesuatu kepada anaknya :

” Anakku, Samosir, sesungguhnya ayahmu telah berbuat begitu ceroboh, karena melanggar suatu sumpah. Untuk itu, pergilah kamu ke puncak suatu bukit, karena di desa ini akan segera datang bencana..”

Tanpa berpikir panjang lagi, Samosir segera berlari menuju bukit paling tinggi di daerah tersebut. Benar saja, tidak lama turunlah hujan dengan begitu derasnya, petir-petir menggelegar dan disertai angin badan yang sangat kencang.

Cuaca buruk ini terjadi cukup lama, air menggenangi seluruh wilayah desa dan sekitarnya, sehingga terjadilah banjir besar, sedangkan angin badai menyapu seluruh rumah dan apapun yang dilaluinya.

Air yang kian meninggi akhirnya membentuk sebuah danau yang besar. Dalam beberapa sumber, selurug masyarakat desa tewas karena terendam banjir. Samosir yang tertinggal seorang diri lama-kelamaan akbirnya wafat pula.

Desa dan wilayah yang terendam banjir itulah yang konon saat ini kita kenal dengan Danau Toba, sedangkan pulau ditengah-tengahnya adalah Pulau Samosir, yang dulu menjadi tempat pelarian saat diperintahkan ibunya.


Hikmah dari Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir

Cerita terbentuknya danau Toba

Sejatinya, tidak semua dongeng rakyat iyu hanya ditujukan sebagai petunjuk asal-usul, hiburan semata maupun hanya dongeng pengantar tidur saja, namun juga pasti ada hal yang patut dipetik didalamnya.

Nah, dibawah ini adalah beberapa Pesan Moral dalam Cerita Danau Toba dan Pulau Samosir, yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Diantaranya adalah :

1. Jangan Mengingkari Janji

Janji merupakan suatu hal yang disepakati oleh dua orang atau lebih, untuk sama-sama menjaga, dan menghormati hal yang disetujui tersebut. Begitu juga dengan Toba yang tidak boleh mengungkap identitas asli istrinya.

Namun apa daya, dia mengingkarinya dan mau tidak mau, terpaksa menerima konsekuensi yang telah ditentukan sejak awal. Sehingga, dia harus menerima dampaknya.

2. Kemarahan hanya akan mendatangkan Kerugian

Orang yang mampu menahan amarah adalah mereka-mereka yang penyabar, dan mampu menenangkan emosinya dengan baik, dan sikap seperti ini sangat disukai Allah SWT.

Selain itu, kemarahan akan lebih besar karena pengaruh iblis yang memanaskan hati, sehingga seringkali suatu kemarahan dalam keadaan tertentu tidak bisa dikontrol. Kemudian, akan berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain.

3. Jangan Memarahi Anak berlebihan

Anak adalah titipan dari Yang Maha Kuasa yang harus dijaga dan dirawat sepenuh hati. Memang wajar bila orangtua memarahi anaknya karena suatu kesalahan.

Namun cukup seadanya saja, apalagi jika mereka masih kecil, sebab sangat berdampak pada mental mereka di masa mendatang. Selain itu, seorang anak yang membuat kesalahan adalah hal yang biasa dan wajar.

Penutup

Demikianlah, artikel cerpen cerita rakyat kali ini tentang Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir Lengkap beserta makna yang terkandung didalamnya. Semoga bisa bermanfaat dan terima kasih.

Selanjutnya : Cerita Malin Kundang si-Anak Durhaka

Tinggalkan komentar