7+ Cerpen Tentang Ibu Tercinta, Menyentuh, Bikin Sedih

Cerpen Tentang Ibu – Selamat datang kembali di Senipedia. Pada kesempatan kali ini, Saya akan kembali merangkum contoh Cerpen dalam berbagai tema, dan pada kali ini adalah tema Cerpen Tentang Ibu terbaik.

Ibu adalah sosok seorang wanita yang melahirkan kita, berkorban segalanya dan dengan sepenuh hati merawat, menjaga dan menbesarkan kita hingga saat ini.

Kumpulan Cerpen Tentang Ibu Tercinta

Seorang ibu merupakan orang yang paling mencintai dan menyayangi kita sepenuh raga. Dengan segenap kemampuan yang dia miliki, tercurah kecintaan yang besar dan tiada henti.

Untuk itulah, kita diharuskan untuk menghargai dan menghormati ibu dengan tulus. Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam mengekspresikannya, salah satunya yakni dengan Cerita Pendek Tentang Ibu di bawah ini.

Kenapa? Karena dengan menulis dan membaca Cerpen tentang Ibu, maka akan memotivasi dan menginspirasi kita agar lebih peduli dan cinta terhadap sosok ibu.

Kumpulan beberapa contoh cerpen pengorbanan ibu di bawah ini saya dedikasikan untuk kamu semua, agar senantiasa mengingat dan kembali berpikir, agar semakin sadar akan pengorbanan ibu.

Langsung saja, silakan simak beberapa Cerpen tentang ibu di bawah ini.

Cerpen Tentang Ibu yang Hebat

Cerpen tentang ibu yang hebat
Cerpen tentang Ibu yang Hebat | Fimela.com

Judul Cerpen : Demi Sekolah Sang Anak

Hari itu, hari pertama libur sekolah. Aku tidur agak larut dan akibatnya bangunan kesiangan. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, terbangun karena teriakan ibu yang baru siap mencuci.

“Han, bangun udah jam 11. Tolong belikan beras di warung pak Tono..” teriak ibu dari dapur.

“Iya bu..” jawabku sembari bangun dan mencuci muka.

“Ini uangnya, jangan lama-lama ya, ibu mau memasak nasi. Nanti bapakmu pulang taunya nasi belum masak. Buruan..” tutur ibu.

“Baik bu..” tutupku.

Di tengah perjalanan, di samping perempatan aku melihat seorang wanita dengan penampilan agak kumuh sembari membawa kantong plastik. Perkiraanku usianya sekitar 50 tahunan.

Sontak aku langsung kasihan melihatnya. Kemudian aku memberanikan diri untuk menghampiri dan mengajaknya mengobrol.

“Bu, ibu ngapain disini..?” Tanyaku.

“Ibu tidak ada kerjaan dek, sedangkan anak ibu sebentar lagi tamat SMP dan ingin melanjutkan sekolahnya ke SMA..” Jawab ibu.

“Lalu, ibu disini ngapain? Mohon maaf, Memangnya suami ibu kemana..?” Tanyaku lagi.

“Karena tidak ada kerjaan, mau tidak mau ibu melakukan ini dek, yakni meminta-minta kepada orang. Sedangkan suami ibuk sudah menikah lagi dengan wanita lain, dan ibu ditinggalkan…” Jawab si ibu.

Mendengar jawaban tersebut, hatiku begitu tersayat dan sedih. Aku langsung membayangkan jikalau hal ini terjadi kepada aku dan kedua orangtuaku. Kemudian tanpa berpikir panjang, akupun berkata..

“Bu, jangan bersedih ya, tawakkalkan saja semuanya kepada Allah, pasti akan ada hikmah dibalik semua cobaan ini. Ini bu, ada sedikit rezeki, semoga bisa meringankan beban ibu dan anak..” ucapku sambil mengulurkan uang yang dikasih ibu untuk membeli beras.

Sesampainya di rumah, ibu heran karena aku tidak pulang dengan belanjaan apapun. Kemudian dia bertanya..

“Berasnya mana Han..?” Tanya ibu penasaran.

Kemudian kuceritakan semua yang aku lihat dan saksikan tadi. Ibu salut dan bangga mendengar perlakuanku. Kemudian dia kembali mengulurkan sejumlah uang untuk pergi membelinya lagi, sembari menitipkan makanan untuk sang ibu tadi.

*** ***

Cerpen Pengorbanan Seorang Ibu

Judul Cerpen : Demi Kesembuhan Anakku

Di sebuah desa nan terpencil, hidup sebuah keluarga yang terdiri dari seorang anak dan ibu (Marniah). Sang suami telah meninggal dunia semanjak setahun yang lalu. Sehari-hari, sang Ibu bekerja sebagai pengumpul barang bekas untuk kembali dijual.

Anaknya yang masih kelas 3 SD, sepulang sekolah selalu membantu ibunya di tempat kerja. Suatu hari sepulang sekolah, si anak menjadi korban kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit.

Mendengar berita tersebut, ibu Marniah bergegas tanpa pamit untuk melihat kondisi anaknya di Puskesmas yang letaknya juga tidak jauh dari tempat kerja. Sesampainya di sana, si ibu menangis histeris karena melihat putranya terkapar pingsan.

Kemudian Dokter datang dan berkata..

“Ibu ini ibunya anak ini..?” Tanya dokter.

“Iya pak, saya ibunya. Bagaimana keadaan anak saya dok..?” Tanya sang ibu.

“Anak ibu menjadi korban tabrak lari, keadaannya saat ini cukup parah. Dia harus menerima perawatan intensif, karena cedera bagian kepala yang menyebabkan pendarahan..” jawab Dokter.

Mendengar jawaban tersebut, sang Ibu hanya bisa bersedih dan merenung. Di sisi lain, dia juga membayangkan bagaimana mendapatkan uang untuk biaya pengobatan si anak.

Keesokan harinya, sang Ibu mengunjungi Bos tempat ia bekerja untuk meminta pertolongan dana. Pemilik usaha bersedia, namun dengan satu syarat.

“Saya akan membantu ibu dengan meminjamkan uang, namun sebagai gantinya, ibu harus bekerja disini seperti biasa, namun 80% dari gaji ibu setiap hari akan saya tarik untuk angsuran pinjaman..” ucap si pemilik usaha.

Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, untuk biaya hidup sehari-hari saja terkadang masih kurang. Namun karena memikirkan nasib anaknya, ibu Marniah pun menyetujuinya.

“Baik pak, saya setuju dengan syarat yang bapak ajukan..” jawab si ibu.

Setelah menjalani pengobatan selama 4 hari, akhirnya anaknya berangsur sembuh dan diperbolehkan untuk pulang dan sekolah kembali.

Namun sang ibu juga harus bekerja di tempat yang untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena dari tempat pekerjaan semula sudah dipotong sebesar 80% untuk pembayaran angsuran.

*** ***

Cerpen Ibuku Malaikatku

Cerpen ibuku malaikatku
Cerpen Ibuku Malaikatku | Pixabay.com

Kisah ini berawal semanjak ayahku terkena penyakit stroke setahun yang lalu, ibu seorang diri membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Aku yang masih duduk di kelas 6 SD belum bisa berbuat banyak.

Sebentar lagi, aku akan segera mengakhiri masa SD ku dan beranjak ke SMP. Banyak keperluan yang harus dipersiapkan, seperti seragam, buku dan biaya pendaftaran. Sedangkan ayah harus rutin berobat sekali sebulan.

Akhirnya, mau tidak mau ibu harus bekerja lebih keras setiap harinya. Aku bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri pendidikan formalku agar bisa membantu ibu dalam bekerja.

Ketika malam malam bersama, aku nemawarkan ide tersebut kepada ibu, namun dia langsung membentak.

“Jangan, kamu harus tetap sekolah, tidak boleh berhenti bagaimanapun keadaan ekonomi kita, kamu adalah anak satu-satu kami..” jawab ibu.

“Tapi bu, aku sangat kasihan melihat ibu yang setiap hari bekerja keras untuk semua ini. Aku tidak ingin lagi merepotkan ibu..” lirihku.

“Jangan sayang, soal itu tidak perlu kamu pikirkan. Lanjutkan saja pendidikanmu dan rajinlah belajar, agar cita-citamu bisa tercapai..” jawab ibu.

Keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah, aku mencium tangan ibu dan bapak. Aku dan ibu berbarengan berangkat, aku ke sekolah dan ibu ke ladang tetangga untuk makan gaji.

Semenjak percakapan malam itu, setiap kali pulang sekolah aku selalu pergi ke tempat ibu bekerja, untuk membantu rutinitasnya. Meskipun sebenarnya ibu terus menolak, namun aku selalu memaksa.

Dialah ibuku, sang malaikatku di dunia. Berkorban seluruh jiwa dan raganya setiap hari demi aku dan bapak. Semoga kelak di Akhirat, ibu dan bapak mendapat ganjaran setimpal dari Allah SWT.

*** ***

Cerpen Tentang Ibu Yang Menyentuh

Judul Cerpen : Maafkan Aku, Ibu..

Namaku Mira, seorang gadis Yatim yang duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Aku tinggal bersama ibu di sebuah gubuk tua, peninggalan Bapak yang wafat 2 tahun yang lalu karena penyakit jantung.

Aku sekolah dan ibu bekerja setiap hari. Kami tergolong keluarga miskin, yang dimana bila ibu tidak bekerja sehari saja, maka untuk makan sekalipun akan sangat susah. Bisa dibilang, hidup kami tergantung dari pekerjaan ibu.

Suatu hari, aku berangkat sekolah dengan pakaian yang sudah lapuk dan kusam, sementara itu resleting tas yang aku pakai sudah rusak semua, karena telah berusia 2 tahun.

Keadaan tersebut menjadi bahan bullyan teman-temanku di sekolah setiap harinya. Namun aku tetap sabar dan tabah, tanpa merasa iri maupun sakit hati.

Sore harinya, tas yang aku pakai tersangkut di sebuah paku dan akhirnya robek besar. Tentu saja, teman-teman yang melihat akhirnya menertawakanku, akupun bersedih dan menangis pulang berlari.

Sesampainya di rumah, ibu bertanya..

“Kenapa kamu menangis nak? Ada apa? Sini cerita sama ibu..” tanya ibu.

“Tadi di sekolah, teman-teman menertawakanku karena tas yang aku pakai robek bu, karena tasku robek tersangkut paku. Mereka membuatku malu di hadapan teman-teman yang lain..” ucapku yang masih menangis.

Ibu hanya tersenyum mendengar jawabanku sambil berkata..

“Tidak apa-apa nak, besok ibu akan membelikan tas sekaligus seragam baru buat kamu..” ucap ibu.

Alangkah senang hatiku mendengar jawaban ibu. Aku mengucap terima kasih yang besar sembari memeluk ibu erat-erat.

“Sekarang kamu mandi dan tidur siang ya…” Sambung ibu.

“Baik bu..” tutupku.

Setelah mandi, akupun menuju tempat tidur untuk tidur siang. Namun tanpa sengaja, tiba-tiba aku melihat ibu sedang menangis sembari menatap foto dan sebuah cincin ditangannya.

Aku tak berani menegurnya, hanya memperhatikan dari samping pintu. Namun aku bisa mendengar dengan jelas apa yang diungkapkan ibu dalam ratapannya.

“Mas, ini adalah cincin emas satu-satunya yang kamu tinggalkan sebelum wafat, cincin ini menjadi lambang cinta sejati kita dulu. Maafkan aku mas, aku terpaksa menjualnya untuk membeli seragam dan keperluan sekolah anak kita..” ucap ibu dalam rintihannya.

Pikiranku melayang jauh, air mata menetes ke dalam. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku juga tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Kemudian, aku memberanikan diri untuk mendekati ibu dan bertanya.

“Bu, maafkan aku ya..” ucapku.

“Minta maaf untuk apa sayang..?” Tanya ibu.

“Aku sudah meminta banyak hal kepada ibu, sampai-sampai ibu berniat menjual barang-barang berharga peninggalan bapak, yang sangat penting untuk kalian..” ucapku.

“Tidak apa-apa nak, ini semua kan ibu lakukan demi kamu, bukan untuk orang lain. Asalkan kamu tahu, apapun akan ibu lakukan asal kamu bahagia..” jawab ibu.

Aku menangis mendengar tuturan ibu, kemudian aku memeluknya dengan erat sembari berjanji tidak akan pernah mengecewakannya sampai kapanpun.

*** ***

Cerpen Motivasi Dari Ibu

Cerpen Motivasi Dari Ibu
Cerpen Motivasi Dari Ibu | Popmama.com

Judul Cerpen : Semangat Menuntut Ilmu

Entah kenapa, Sabtu pagi kala itu aku sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur, padahal ibu sudah membangunkanku berkali-kali, namun tetap saja rasa enggan menghampiriku.

Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 06.30, yang berarti satu jam lagi kelas akan masuk. Memang jarak antara rumah dan sekolahku hanya berkisar beberapa puluh meter saja.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku pamit kepada ibu, sedangkan ayahku sudah berangkat duluan ke kantor. Sebelum berangkat, ibu berpesan kepadaku…

“Nak, nanti setelah pulang sekolah, kamu langsung balik ke rumah ya, ada sesuatu yang mau ibu tunjukkan..” ucap ibu.

“Baik bu..” ucapku. Akupun berang ke sekolah.

Setelah lonceng pulang berbunyi, aku ingat kembali pesan ibu tadi pagi untuk segera balik ke rumah. Ketika sampai, ibu langsunv menyuruhku untuk mengganti pakaian dan menyuruhku masuk ke kamarnya.

Sesampainya di kamar ibu, dia membuka laptop ayah dan menunjukkan beberapa buah foto lama, yang sudah kurang jelas dan kusam. Ibu pun bertanya..

“Nak, kamu tahu siapa yang ada di dalam foto ini..?” Tanya ibu.

“Tidak bu, memangnya ini foto siapa? Dan kapan dipotret? Kok keliatannya udah sangat lama..?” Balikku bertanya.

“Ini adalah ibu, ketika masih sekolah di Bandung pada tahun 1985 dulu, ketika itu ibu duduk di bangku sekolah 8..” jawab ibu.

“Ibu menunjukkan foto-foto ke kemu supaya kamu termotivasi dan membangkitkan semangatmu untuk menuntut ilmu dengan giat..” sambung ibu.

“Kenapa bu..?” Tanyaku.

“Dulu ketika ibu sekolah, jarak rumah dengan sekolah adalah 3 km, dan ibu berjalan kaki setiap hari, pulang dan pergi. Sedangkan kamu, jaraknya hanya beberapa puluh meter, tapi masih saja pemalas…” Jawab ibu.

Mendengar jawaban ibu, aku sangat terkejut dan malu. Kemudian dia melanjutkan pembicaraannya..

“Zaman itu, jalanan masih menggunakan krikil, bahkan melewati hutan dan jalanan becek. Namun semangat ibu tak pernah pudar hingga berhasil tamat dengan nilai yang bagus..” tutur ibu.

Mendengar semua itu, aku benar-benar merasa bersalah dan malu. Kemudian aku langsung minta maaf kepada ibu dan berjanji akan menjadi anak yang rajin, giat belajar dan bersemangat menuntut ilmu.

*** ***

Cerpen Aku Sayang Ibu

Bagi setiap orang, sosok ibu merupakan wanita paling penting dalam hidupnya, jasa yang telah ia berikan selama ini takkan pernah bisa dibalas oleh seorang anak, meskipun ia mengorbankan nyawanya sekalipun.

Bahkan di dalam Al-Qur’an dan hadits, tidak sedikit pula yang menganjurkan manusia untuk berbakti kepada orangtua, terutama ibu. Bahkan pepatah mengatakan, Surga di bawah telapak kaki ibu.

Aku mulai menyadari betapa besarnya jasa dan kasih sayang seorang ibu, semenjak aku berusia 10 tahun, tepatnya kelas 3 SD. Sejak itu, aku sering berpikir kenapa ibuku begitu sayang padaku.

Ya, pastinya. Diusiaku yang masih 10 tahunan, belum terpikir dalam benakku mengenai sosok ibu, yang tentunya akan rela melakukan apapun untuk anak-anaknya. Itulah yang menjadi keheranan dan selalu membayang dikepalaku.

Suatu hari, aku berangkat ke sekolah agak terburu-buru karena sedikit telat bangun. Setelah sampai ke sekolah, aku baru sadar ternyata lupa membawa uang belanja, sedangkan aku belum sarapan.

Baru saja aku mau permisi ke pak satpam untuk menjemput uang tersebut, tiba-tiba ibu datang dengan berjalan kaki, berkeringat dan terlihat kecapean. Ibu menghampiriku dan berkata..

“Nak, ini uangmu, tadi ketinggalan di atas meja. Ibu khawatir kamu jadi gak bisa sarapan, yang akhirnya kekurangan energi untuk belajar…” Ucap ibu.

Ketika aku demam dan dibawa ke rumah sakit, ibu dengan rela menemaniku sepanjang waktu, menghiburku dan membelikan banyak makanan dan mainan untukku, padahal saat itu dia sedang sakit dan tidak punya uang.

Aku sangat menyayangi ibu melebihi ke siapapun. Ketika teman-temanku memiliki mainan baru yang sedang ramai, ibu yang tidak memiliki uang bahkan rela meminjam atau bekerja seharian hanya untuk membelikanku mainan tersebut.

“Ibu, maafkan anakmu yang sepanjang hidup telah sangat banyak membebani dan memberatkamu. Do’akan anakmu agar bisa menggapai cita-cita dan membahagiakanmu..” ucapku setiap hari dalam hati.

*** ***

Cerpen Terima Kasih Ibu

Cerpen terima kasih ibu
Cerpen Terima Kasih Ibu | Cosmomon.com

Namaku Rini, seorang siswi kelas IX di salah satu SMP di Tanggerang Selatan. Saat ini, murid kelas 3 tengah mengadakan sekolah sore, yang berlangsung hari senin hingga Jumat.

Cerita ini berawal ketika hari selasa, aku pulang ke rumah dan langsung tertidur selepas ganti seragam saking capeknya. Ibu menawarkanku untuk makan siang dulu, tapi aku bilang nanti saja.

Ketika terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 15.00, sedangkan sekolah sore dimulai jam 15.30. Karena waktu mepet, akhirnya aku menunda untuk makan dan langsung bergegas untuk berangkat ke sekolah.

Sebelum tertidur, aku juga sudah meminta kepada ibu biaya buku LKS yang berjumlah 10 ribu, namun uang itu tak terlihat terletak di atas meja.

Aku sudah mencarinya namun tetap tidak ketemu. Akhirnya aku memutuskan untuk langsung berangkat saja dengan rasa lapar dan jengkel. Sepulangnya dari sekolah, aku langsung menemui ibu dan bertanya.

“Bu, kok ibu tadi gak bangunin aku sih..? Hampir aja aku telat. Uang yang aku pesan tadi pun gak ada di atas meja..” ucapku dengan sedikit jengkel.

“Ibu tadi udah bangunin kamu kok, tapi kamu tunda-tunda terus. Tiba-tiba Bibi kamu ngajak ibu ke rumahnya untuk bantu memasak, karena kehamilannya sudah semakin tua. Sedangkan uang itu, ibu tarok di dalam laci ruang tamu..” jawab ibu.

Karena kesalahpahaman tersebut, aku tetap merasa sangat jengkel dan memutuskan untuk pergi ke rumah nenek sembari curhat.

Sesampainya di sana, aku menceritakan semuanya kepada nenek, sekaligus rasa jengkelku terhadap ibu. Tapi nenek malah menyalahkanku dan berbalik membela ibu. Nenek mengajakku mengobrol dengan dingin dan pelan.

“Rin, kamu tau kan kalau itu adalah ibu kamu..?” Tanya nenek.

“Tau nek..” jawabku.

“Nah, sekarang kamu tau gak, bagaimana pengorbanan seorang ibu selama hidupnya untuk seroang anak..?” Tanya nenek lagi.

“Iya nek, Rini juga tau..” ucapku.

“Jadi, kenapa kamu menjadi jengkel hanya karena masalah sepele..?” Tanya nenek kembali.

Belum selesai aku bicara, nenek tiba-tiba memotong pembicaraanku.

“Rin, bagaimanapun sikap seorang ibu, tetap tidak boleh dilawan dan dibantah, apalagi hanya karena masalah sepele seperti ini. Ingat, dulu ibumu mengandung selama 9 bulan dan meraskan sakit setengah mati saat melahirkanmu..” ucap nenek.

“…Belum lagi menyusuimu, dia tak tidur semalaman hanya karena kau menangis, memberi makanmu, merawatmu, membesarkanmu hingga kini, dan masih banyak lagi pengorbanan besarnya untukmu. Lalu, bagaimana denganmu yang tiba-tiba merasa jengkel hanya karena masalah sesepele ini..?” Sambung nenek.

Mendengar jawaban nenek tersebut, aku menyusun terdiam cukup lama dan akhirnya meneteskan air mata. Aku langsung pulang ke rumah untuk menemui ibu.

Sesampainya di rumah, aku langsung memeluknya sembari menangis, dan meminta maaf sejadi-jadinya atas kejengkelanku yang telah membuatnya bersedih.

*** ***

Cerpen Tentang Ibu Paling Sedih

Namaku Riko, aku memiliki usaha rumahan berupa tempat servis komputer dan handphone, kebetulan aku tamatan SMK jurusan elektro. Setiap hari, jasaku selalu laris dan mendapat banyak apresiasi positif dari para pelanggan.

Sudah 3 hari ini, aku melihat seorang ibu-ibu bersama dua anak kecilnya duduk di tepi perempatan jalan, mereka adalah pengemis yang tidak memiliki rumah dan sosok kepala keluarga.

Di hari ke-4, aku memberanikan diri untuk mendekati mereka dan bertanya..

“Bu, ibu tidak memiliki pekerjaan ya bu..?” Tanyaku.

“Tidak nak, ibu tidak memiliki pekerjaan, rumah dan kepala keluarga. Ibu dan dua anak ibu hidup terlantar seperti sudah 3 tahun terakhir..” jawabnya.

“Jadi, selama 3 tahun terakhir ini ibu dan anak-anak ini tinggal dimana..?” Tanyaku lagi.

Di sana nak, di samping jembatan rel kereta api itu..” jawab si ibu sembari menunjuk ke suatu arah.

Aku kemudian pamit dan kembali ke konter. Setibanya di sana, aku bermenung cukup lama. Aku membayangkan seandainya ibu tersebut adalah ibu kandungku, dan anak-anak itu adalah adik kandungku.

Tiba-tiba saja air mataku berlinang tak bisa aku tahan. Aku langsung berinisiatif untuk memberi ibu itu sedikit uang dan makanan. Aku menyuruh anak tetanggaku untuk menghantarkannya.

“Rehan, kesini sebentar..” panggilku.

“Ada apa bang..?” Tanya Rehan sambil mendekatiku.

“Tolong kamu kasihkan uang dan makanan ini ke ibu-ibu yang duduk di dekat perempatan itu ya..” suruhku.

“Ooh, siap bang..” jawab Rehan sembari bergegas pergi menghadap ke sana.

Setelah uang dan makanan tersebut diberikan kepada mereka, dari kejauhan aku melihat wajah si ibu dan anak-anaknya begitu riang dan gembira, aku juga turut senang melihatnya.

“Terima kasih ibuku, jasa, kasih sayang dan pengorbananmu begitu besar serta takkan pernah terbalas..” ucapku di dalam hati sambil membayangkan wajah ibuku.

*** ***

Penutup Cerpen Tentang Ibu

Demikianlah, ulasan kali ini mengenai cerpen tentang ibu tercinta, sedih dan haru. Semoga cerita pendek tentang ibu di atas bisa memotivasi dan menambah rasa sayang kita terhadap sosok ibu tercinta. Terima kasih. (Ref)