10+ Cerita Pendek Tentang Pendidikan Singkat : Sekolah, Lucu, Moral DLL

Cerita Pendek Tentang Pendidikan – Selamat datang kembali di website Senipedia. Pada kesempatan kali ini, saya akan kembali membagikan informasi mengenai Contoh cerpen (cerita pendek), dengan tema Pendidikan.

Namun sebelum lanjut ke pembahasan tentang contoh Cerpen Tentang Pendidikan di bawah ini, baiknya ketahui dahulu apa itu pengertian cerpen, ciri dan perbedaannya dengan cerpan (cerita panjang).

Secara umum, Defisini cerpen adalah jenis karya sasta berbentuk prosa naratif fiktif/ fiksi, yang menguraikan atau mendeskripsikan suatu objek maupun tokoh, sekaligus konflik dan penyelesaiannya, dalam gaya bahasa santai, pendek, singkat dan padat. (Wikipedia)

Untuk Tema Cerpen yang sering diangkat juga sangat bervariasi, misalnya Cerita Pendek Tentang Pendidikan, persahabatan, cerita lucu, tema islami dan sebagainya. Untuk ciri-ciri cerpen sendiri adalah sebagai berikut :

  • Jumlah kata dibawah 10.000 kata
  • Isinya hanya berisi fiktif
  • Alurnya hanya satu
  • Umumnya diangkat dari kisah sehari-hari
  • Menggunakan kata yang mudah dimengerti oleh para pembaca
  • Memuat pesan dan kesan yang mendalam, sehingga bisa segera sampai ke pikiran pembaca
  • Dll

Bagi siapa saja yang pernah duduk di bangku sekolah, pastinya pernah membuat sebuah cerpen, baik berdasarkan kisah pribadi maupun menceritakan seseorang, misalnya cerita pendek tentang pendidikan di sekolah, lingkungan sosial dan lain-lain.

Pendidikan yang saya maksud disini bukan hanya sebatas edukasi formal saja, tapi juga hubungan dengan masyarakat, rasa idealisme, nasionalisme serta kecintaan terhadap alam sekitar dan nusantara.

Nah, bagi kamu yang saat ini sedang mencari bahan bacaan berupa cerpen, di artikel ini telah saya rangkum beberapa contoh cerita pendek tema Pendidikan dengan beberapa Sub-sub menu, baik tentang pentingnya pendidikan, lucu, sedih dan lainnya.

Contoh Cerita Pendek Tentang Pendidikan berbagai Tema

Pendidikan merupakan salah satu elemen terpenting dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya pendidikan, maka segenap perkembangan dalam semua bidang tidak akan terealisasi, baik dari segi teknologi, inovasi, terobosan dan sebagainya.

Nah, menyuarakan betapa pentingnya pendidikan adalah diantaranya cara terbaik agar semua orang bisa menyadari peran pentingnya di sisi kehidupan. Salah satu cara termudah adalah dengan Cerita Pendek Tentang Pendidikan berikut ini. Selamat menyimak..

Cerita Pendek Tentang Pendidikan Singkat

Judul Cerpen : Motivasi dari Kemendikbud

Namaku adalah Rani, seorang siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri di Malang. Saat ini, Aku duduk di kelas IX. Aku berasal dari Malang dan lahir di Jakarta. Aku dan keluarga pindah ke Malang sejak tahun 2010.

Tidak lama lagi, aku akan menghadapi Ujian Nasional kelulusan. Hari Senin minggu kemarin, ketika Upacara Bendera, bapak Kepala Sekolah mengumumkan bahwasanya perwakilan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) akan mengunjungi madrasah kami.

“Murid-murid bapak sekalian, hari Jum’at mendatang kita akan kedatangan tamu dari Kemendikbud..” ujar bapak kepala sekolah.

Tujuannya adalah memberi inspirasi dan motivasi kepada anak kelas IX, sekaligus menyuarakan betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan. Aku dan teman-teman sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka.

Hari ini hari Kamis. Ketika jam istirahat berbunyi, aku dan teman-teman pergi ke kantin membeli cemilan. Di kantin, aku mengobrol dengan seorang teman bernama Mira.

“Mir, kata bapak kepala sekolah senin kemaren, perwakilan Kemendikbud akan datang hari ini kan? Kok tadi belum keliatan tanda-tanda kedatangan mereka ya…?” Bukaku.

“Iya nih, aku juga belum ngeliat, soalnya udah mantau dari tadi pagi belum ada tanda-tandanya..” Jawab Mira.

Tiba-tiba Vera datang dan menyambung..

“Kayaknya nanti deh habis istirahat, kita tunggu aja..” Sambungnya.

Ketika jam masuk berbunyi, aku dan teman-teman masuk kelas kembali. Jam pelajaran ke-3 telah usai. Namun aku melihat belum ada guru berikutnya yang masuk.

Selang beberapa lama, ada 3 orang dewasa yang masuk dengan mengenakan pakaian yang tidak biasa dipakai para guru ketika mengajar. Semua murid terlihat keheranan dan bingung.

Kemudian mereka bertiga langsung memperkenalkan diri, ternyata mereka adalah perwakilan Kemendikbud tersebut. Ketika mengetahui, kamipun menyambut kehadiran mereka dengan senang hati.

Materi yang mereka berikan sangat memotivasi sekali, begitu pula mengenai pentingnya pendidikan dalam kehidupan dan masa depan. Mereka juga memberi gambaran tentang generasi masa kini yang nasibnya kurang baik.

Setelah materi selesai, di penghujung acara aku dan seluruh murid menyalami mereka satu-persatu. Kami semua begitu merasa termotivasi untuk terus melanjutkan pendidikan dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya.

*** ***

Cerita Pendek Tentang Pendidikan Sekolah

Cerita Pendek Tentang Pendidikan Sekolah
Cerita Pendek Tentang Pendidikan Sekolah | Pixabay.com

Judul Cerpen : Ujian Semester Ganjil

Namaku Angel, seorang siswi SMA salah satu sekolah negeri di Jakarta. Aku punya seorang teman bernama Nisa yang kebetulan satu kelas dan bertetanggaan rumah. Aku dan dia sudah bersahabat sejak masih kanak-kanak.

Hari ini, sekolahku mengadakan Ujian Semester Ganjil. Aku yang Nisa yang sekarang kelas 2 akan memasuki kelas 3. Ujian ini merupakan penentu apakah naik kelas atau tidak.

Pagi harinya, aku mempersiapkan semua peralatan yang diperlukan, setelah semua selesai, aku pergi ke rumah Nisa dan berangkat ke sekolah bersama-sama. Sesampainya di sekolah, tidak lama kemudian lonceng pun berbunyi.

Sebelum ujian dimulai, aku melihat Nisa begitu sibuk dan tampak sedikit panik sambil membuka dan mengeluarkan seluruh isi tasnya. Akupun bertanya..

“Nis, kamu kenapa? Ini ujian udah mau dimulai loh..” tanyaku.

“Gawat Jel, aku lupa bawa pensil 2B, gimana nih..?” Keluhnya.

“Waduh, kok kamu lalai banget sih Nis, udah jelas-jelas pensil itu persyaratan utama, eh malah lupa bawa. Gini aja, kamu coba izin ke guru pengawas untuk keluar sebentar membeli pensil..” jawabku.

“Oke Jel, aku coba dulu.. Buk, boleh izin sebentar untuk membeli pensil gak buk? Aku lupa bawa buk..” gumam Nisa.

“Maaf nak, tidak boleh ada yang keluar lagi. Ibuk sudah memberi banyak waktu untuk mempersiapkan segala hal, jika ada yang lupa / tertinggal, itu sudah risiko dan hukuman atas kelalaian Kelian..” jawab ibu guru.

Mendengar jawaban guru pengawas, Nisa terlihat semakin panik dan mukanya tampak bersedih. Aku pun segera mencari inisiatif dan jalan keluar.

“Nis, kamu punya pisau cutter gak? Pinjam bentar..” kataku.

“Punya Jel, nih, emang buat apa..?” Tanyanya.

“Ada deh..” ujarku.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung memotong pensil 2B milikku untuk kemudian aku bagi hasil potongan itu kepadanya.

“Nih, Nis, ambil potongan pensil aku aja, gapapa kok, daripada kamu disuruh keluar dan gak dibolehin ikut ujian..” tawarku.

Aku melihat Nisa sangat senang mendapat tawaran dan segera mengambil serta meraut pensil pemberianku tersebut. Dengan senang hari, Nisa pun mengucapkan terima kasih.

“Waduh, makasih banyak ya Jel, untung ada kamu yang selalu mau dan sukarela membantu, kamu emang sahabat terbaik, sekali lagi makasih banyak ya Jel..?” jawabnya.

“Oke Nis, gapapa, santai aja..” tuntasku.

Akhirnya Aku dan Nisa serta semua teman-teman memulai ujian dengan tenang hingga selesai.

*** ***

Cerita Pendek Tentang Pentingnya Pendidikan

Judul Cerpen : Antara Masa Depan dan Keluarga

Ini adalah sepenggal cerita sedih pribadi saya sendiri, yang mengakhiri dunia perkuliahan karena terkendala biaya. Ini terjadi pada diri saya di awal tahun 2016 silam.

Saya adalah Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Padang, dan memfokuskan diri pada jurusan Manajemen Industri. Entah kenapa, sejak kecil aku sangat mendambakan untuk bisa memegang gelar Sarjana Ekonomi.

Namun semua realita tidak berjalan sesuai harapan, aku mendapati suatu kendala yang tak bisa kupungkiri, dan mengharuskanku untuk menerima semuanya dengan lapang dada. Ya, masih masalah klasik, yakni Biaya.

Kendala terbesar bukan di situ, namun keadaan kesehatan sang Ayah di kampung yang kian memburuk dari hari ke hari. Keuangan yang ada semakin menipis karena totalitas dialihkan untuk biaya pengobatan beliau.

Kisah bermula ketika tiba saatnya untuk membayar uang semester, yang seingat aku berjumlah Rp.1.800.000,- / 6 bulan. 1 minggu sebelum ambang pembatasan berakhir, ibu menelponku..

“Assalamualaikum..” buka ibu.

“Waalaikumsalam bu..” jawabku.

“Nak, ibu cuman mau bilang, kalo kesehatan ayahmu semakin memburuk. Untuk biaya SPP kuliahmu sudah ada, tapi sepertinya keadaan ayahmu mengharuskan dia untuk berobat. Sedangkan uang hanya tinggal untuk SPP kamu saja..” ungkap ibu dengan nada sedikit lirih.

Aku tidak bisa berkata banyak, selain air mata yang perlahan jatuh. Dengan berusaha tenang, aku memutuskan sesuatu yang sangat bertolak dengan keinginanku selama ini.

“Bu, kesehatan ayah lebih penting, soal SPP aku, jangan dipikirkan dulu, lebih baik alihkan uang tersebut untuk biaya pengobatan ayah..” ucapku.

“Kamu yakin? Jadi bagaimana soal perkuliahanmu? Bukannya kamu bilang kalau ambang akhir pembatasan adalah akhir Minggu ini..?” Tanya ibu.

“Iya bu, batasnya memang minggu ini. Tidak apa-apa bu, tidak perlu dipikirkan, pengobatan ayah lebih penting..” tuturku.

“Jadi, bagaimana dengan nasib perkuliahanmu..?” Tanya ibu kembali.

“Bu, aku udah memikirkan ini sejak kemarin malam, aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan pulang ke kampung berkumpul lagi dengan kalian semua…” Ucapku.

Jujur, ini adalah keputusan paling pahit yang pernah aku keluarkan sepanjang hidupku. Ibu terdiam sejenak dan kemudian menjawab..

“Nak, jika memang itu yang kamu inginkan, ibu tidak bisa berkata banyak lagi. Ibu cuman mau kamu bisa memahami bagaimana keadaan ekonomi kita sekarang..” gumam ibu.

“Iya bu, aku paham dan mengerti. Jadi jangan pikir panjang lagi soal perkuliahanmu, fokus saja untuk pengobatan ayah..” kuakhiri pembicaraan.

Setelah telepon kututup, rasa berkecamukpun muncul dikepala, aku baru saja mengeluarkan suatu keputusan terpahit, yang sejatinya sangat tidak aku inginkan.

Semenjak saat itu, aku hanya memikirkan bagaimana nasib masa depanku kelak jika tidak terlahir sebagai seorang pemuda yang punya gelar pendidikan. Namun karena keadaan memaksaku seperti ini, aku hanya bisa bersabar dan bertawakkal kepada Allah SWT.

*** ***

Cerpen Tentang Pendidikan Moral

Cerpen Tentang Pendidikan Moral
Cerpen Tentang Pendidikan Moral | Pixabay.com

Judul Cerpen : Jangan Pernah Mencuri

Hari ini, aku pulang dari tempat kerja agak cepat, karena ada sesuatu hal. Sekitar jam 15.30, aku sampai rumah dengan selamat. Setibanya di rumah. Aku melihat ibu seperti sedikit panik dan kebingungan. Aku langsung bertanya.

“Assalamualaikum bu..”
“Waalaikumsalam nak..”

“Ibu kenapa sih bu? Kok keliatannya panik dan bingung gitu..?” Tanyaku sambil membuka sepatu.

“Gini nak, ibu bingung nih, uang tukaran 100 ribu ibu yang di dalam dompek kok gak ada ya? Kamu ada liat gak..?” Tanya ibu penuh penasaran.

“Gak ada bu, coba ingat-ingat lagi, siapa tahu ibu salah tarok mungkin..” jawabku.

“Enggak nak, tadi ibu Tarok disini sebelum nyuci, tau-taunya sekarang udah gak ada lagi..” tutur ibu.

“Yaudah deh bu, ikhlaskan saja, mungkin belum rezeki kita. Ibu tenang aja, nanti aku ganti, aku ngambil uang dulu ke BRILink sebentar ya..” ucapku seraya pergi.

Di perjalanan, aku melihat Risky, adikku paling kecil yang baru duduk di kelas 3 SD. Aku melihat dia sedang main PS dengan teman-temannya. Aku langsung menghampirinya.

Kebetulan sekali, sesampainya di tempat Rental PS tersebut, aku melihat Risky memegang uang tukaran 100 ribu, yang tidak mungkin uang dia. Akupun langsung memanggilnya dan menegurnya dengan baik-baik.

“Ky, itu uang siapa? Ayo jujur! Kamu ngambil uang ibu yang di dalam dompet kan..?” Tanyaku.

“i..i..i..iya kak, aku mengambilnya, tapi buat bayar sewaan PS doang kok, cuman 2 ribu rupiah aja..” jawabnya dengan terbata-bata.

“Ayo naik ke atas motor, nanti jelasin sama ibu..” ucapku sembari membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, dia langsung jujur dan menceritakan semuanya kepada ibu. Aku dan ibu langsung menasehatinya sebaik mungkin karena telah dilakukan tindakan pencurian, dan itu adalah perbuatan yang sangat dilarang.

Aku dan ibu juga menekankan kepadanya untuk tidak pernah mencuri lagi, karena setiap hari Risky juga selalu aku kasih uang belanja. Dia hanya tertunduk malu dengan rasa bersalahnya yang terpampang jelas dari wajahnya.

Setalah dinasehati, Risky mengakui kesalahannya, meminta maaf kepada ibu dan aku, serta benar-benar berjanji untuk tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.

*** ***

Cerpen Tentang Pendidikan Sosial

Judul Cerpen : Berkat Gotong Royong

Sayup suara mikrofon dan toa terdengar terdengar jelas menuju ujung kampung. Para perangkat pemuda menginformasikan bahwasanya besok sore, akan diadakan gotong royong pembangunan selokan di ujung kampung. Namun sehabis Isya bantu malam, diadakan musyawarah terlebih dahulu.

Musim hujan seperti sekarang, air selalu menggenangi daerah perbatasan karena selokan yang berumur tua disitu, sudah beberapa tahun belakangan tersumbat, sehingga air tidak mengalir dengan mulus karena tersendat sampah.

Aku, teman-teman dan seluruh pemuda kampung sudah berkumpul di rumah Ketua RT, untuk merumuskan konsep gotong royong besok sore. Mulai dari peralatan yang harus dibawa serta pembagian tugas tiap masingmasing orang.

“Dikarenakan musim hujan yang berkepanjangan di daerah kita, selokan di ujung kampung yang sudah lama tersumbat tidak lagi sanggup menampung volume air yang besar. Untuk itu, besok sore kita mulai memperbaikinya lagi…” Buka Pak RT.

Setelah itu, beliau membagi menjadi beberapa kelompok, serta menunjuk satu orang sebagai ketua regu kelompok dan siapa-siapa yang akan membawa perlengkapan. Jam 22.00, acara musyawarah selesai dan semua balik pulang.

Keesokan harinya sehabis Isya, semua telah berkumpul di lokasi yang ditentukan, pekerjaanpun dimulai. Sampah mulai diangkat ke darat dan selokan dibersihkan sebaik mungkin.

Pada kelompok lain, beberapa orang memperbaiki tepi aliran parit yang runtuh, dengan memperlebarnya menggunakan cangkul dan pahat. Hanya berselang 2 jam saja, semua pekerjaan bisa diselesaikan.

Setelah selesai, semua berkumpul lagi, kemudian Ketua PT membuka percakapan kembali.

“Terima kasih saya ucapkan untuk semua rekan-rekan yang sudah sempat hadir dan berpartisipasi pada gotong royong ini, tanpa kehadiran rekan-rekan semua, mungkin pekerjaan kita tidak akan selesai secepatnya ini..” ucap Pak RT.

Dari Gotong royong tersebut, bisa diperik hikmah bahwa suatu pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama, akan bisa menghemat waktu dan tenaga, serta mendidik diri untuk senantiasa hidup bersosial dengan lingkungan sekitar.

*** ***

Cerpen Pendidikan Lucu

Cerpen Pendidikan Lucu
Cerpen Pendidikan Lucu | Pixabay.com

Judul Cerpen : Berbohong yang berujung Malu

Hari itu, cuaca cukup panas, ditambah lagi kantin yang terisi penuh dan akhirnya berdesak-desakan. Aku dan Huda bahkan memutuskan untuk tidak jadi berbelanja saking ramenya saat itu.

Di sisi lain, waktu jam istirahat tinggal beberapa menit lagi. Akhirnya aku dan Huda hanya membeli minuman dan mengurungkan niat untuk makan di kantin. Karena jika memaksakan makan, maka akan terlambat masuk kelas.

“Yaudah Da, kayaknya kalo dipaksain makan, kita nanti bakal telat, kita beli minuman aja. Nanti pas istirahat kedua, kita baru makan. Gimana…?” Tawarku.

Huda yang sejak dulunya hobi makan, terus memaksaku untuk makan. Dia seakan-akan tidak peduli dengan lonceng bel masuk.

“Gapapa Ri, kita makan aja, bentar itu mah, ga bakal pake lama..” sambungnya.

“Enggak ah Da, aku gak yakin soal itu, pasti nanti telat. Tapi kalo kamu emang udah lapar banget, yaudah kamu makan aja, tapi aku duluan masuk kelas yaglh..?” ucapku.

“Oke sip Ri, kamu duluan aja kalo gitu..” tuntasnya.

Akhirnya akupun lebih dulu masuk kelas. Benar saja, baru sampai pintu kelas, bel masuk telah berbunyi, aku menunggu Huda yang belum kunjung datang, sementara guru sudah masuk.

Setelah pengambilan absen, tidak lama kemudian Huda masuk dengan tergesa-gesa.

“Permisi buk, maaf saya terlambat..” ujar Huda.

“Kamu dari mana saja..?, Kamu baru selesai memanjat kelapa ya..?” Tanya guru.

“Enggak lah buk, aku barusan dari WC buk, soalnya kebelet buang air kecil..” bela Huda.

“Masa iya kamu dari WC..? Pasti kamu baru selesai memanjat kelapa nih, soalnya itu ada parutan santan kelapa di bibir kamu..” jawab guru.

Akhirnya Huda mengaku dan menghapus parutan santan kelapa yang menempel di pipinya, dan seisi kelaspun tertawa sembari Huda yang terlanjur malu.

*** ***

Cerpen Pendidikan Karakter Anak Bangsa

Judul Cerpen : Pentingnya adab dan kepribadian yang baik.

Jam dinding menunjukkan pukul 13.00, artinya 30 menit lagi kelas akan pulang. Pembahasan hari ini juga hampir selesai, dan aku melihat bu guru mata pelajaran KWN (Kewarganegaraan) sudah mulai mengemaskan peralatan belajaranya dari atas meja ke dalam tas miliknya.

Suasana kelas begitu senyap dan diam, bahkan suara sepeda motor dan mobil di jalanan yang jaraknya kisaran 100 meter pun terdengar cukup keras. Tiba-tiba saja, bu guru memecah keheningan kelas dengan mengajukan sebuah pertanyaan.

“Anak-anak, sebelum pembelajaran berakhir, ibu ingin mengajukan pertanyaan kepada kalian semua. Menurut kalian, apakah poin paling penting dalam sebuah negara..?” Pertanyaan tersebut dilontarkannya kepada kami semua.

Kemudian, temanku bernama Riska menjawab : “Pemerintah bu..” Jawabnya. Namun bu guru langsung merespon : “Salah.. ada lagi yang mau menjawab..” tanya ibu kembali.

Kemudian seorang murid bernama Andi mencoba menjawab : “Rakyatnya bu..?” Kemudiam bu guru menutur : “Sedikit lagi.. ayo berpikir lebih dalam..” tegur ibu.

Kami semua mulai kebingungan sembari berpikir menemukan jawabannya. Lalu, akupun memberanikan diri untuk menjawab : “Pengakuan dari negara lain, bu..?” Jawabku.

Namun jawabannya masih salah juga. Melihat kami semua yang sudah habis pikir dan makin bingung, kemudian bu guru memberikan jawabannya..

“Anak-anak, jawaban kalian semua itu tidak salah, alias benar. Namun, yang paling penting tersebut bukanlah itu..” jawab bu guru.

“Lalu, jawabannya apa bu..?” Tanya kami semua penuh penasaran.

“Jawabannya adalah Adab dan kepribadian setiap insan di dalam negara tersebut..” jawab bu guru.

*** ***

Cerpen Singkat Pendidikan SD

Cerpen Singkat Pendidikan SD
Cerpen Singkat Pendidikan SD | Pixabay.com

Judul Cerpen : Berita Kelulusan

Beberapa hari terakhir ini, rasa takut dan khawatir tak pernah hilang dari pikiranku. Siang dan malam selalu terbayang seperti apa jadinya bila ternyata aku tidak lulus. Aku tidak tahu harus melakukan apa, terlebih terhadap kedua orangtuaku.

Hari ini, adalah hari dimana pengumuman kelulusan itu dikeluarkan pihak sekolah. Aku berangkat diantar oleh kakak dengan seragam seperti biasa, hanya saja hari dan pikiranku yang tak seperti biasanya.

Seluruh murid kelas VI telah berkumpul di halaman sekolah, sedangkan murid kelas I-V diliburkan. Acara dimulai dengan kata sambutan bapak Kepala Sekolah, kemudian diikuti oleh beberapa wali murid.

Aku dan teman-teman sebenarnya tidak konsentrasi mendengar perkataan para guru, pikiran kami semua diselimuti rasa kecemasan, terhadap keputusan akhir yang hanya berselang beberapa menit lagi.

“Baiklah, anak-anak yang kami cintai. Sekarang, hasil kelulusan sudah di tangan bapak. Sebentar lagi akan bapak tempel di dinding kantor. Untuk itu, mohon jangan berdesak-desakan ya..” ujar Bapak Kepala Sekolah.

Mendengar ucapan tersebut, jantung berdetak semakin kencang dan tidak karuan. Bapak Kepala Sekolah perlahan menuju dinding dan menempelnya. Aku dan semua murid kelas VI berbondong-bondong menghadap dinding.

Aku sama sekali tidak melihat namaku, namun mataku lebih tertuju pada suku kata “Lulus / Tidak Lulus”. Dan benar saja, ternyata ada 1 murid yang dinyatakan “Tidak Lulus” dan itu bukan namaku, melainkan Riva Saputri, teman sekelasku.

Aku langsung mencarinya dan melihat dia sedang menangis terisak-isak, dikelilingi beberapa teman lain yang sedang membujuknya. Akupun menghampirinya dan ikut menenangkan.

“Va, aku tau kamu sedih, namun inilah hasil yang harus kita terima. Bagaimanapun, kamu harus tetap sabar dan rela dengan keputusan yang ada ya Va…” Ucapku. Dia tidak menjawab dan hanya terus menangis.

Tiba-tiba saja, suara TOA yang asalnya dari Kantor terdengar. Suara lantang Bapak Kepala Sekolah yang sedikit tergesa-gesa berkata..

“Anak-anak semua, mohon maaf atas kesalahan penulisan yang terjadi pada lembaran hasil ujian nasional yang baru saja bapak tempel. Ada kesalahan yang sangat fatal, dimana anak kami yang bernama Riva Saputri ternyata Lulus. Sekali lagi bapak minta maaf..” Ucap Bapak Kepala Sekolah.

Mendengar kalinat tersebut, senyum sumringah langsung terpancar dari bibir Riva, begitu pula aku dan semua teman-teman yang saat itu berada didekatnya. Riva langsung berdiri meloncat riang gembira.

Dia memelukku dan semua teman-teman yang didekatnya. Aku dan semua murid kelas VI dinyatakan lulus ujian nasional dengan persentase 100%. Kebahagiaan yang tak ternilai harganya..

*** ***

Cerpen Pendidikan Singkat

Judul Cerpen : Salah Daftar Ujian

Sabtu, Di perjalanan pulang, Aku (Rahmad) dan temanku Dede berjalan berbarengan. Kami berdua berbincang mengenai pembahasan di sekolah tadi. Seluruh guru melaksanakan rapat untuk membuat daftar ujian semester ganjil yang akan diselenggarakan hari Senin ini.

Setelah rapat selesai, guru Tata Usaha menempel daftar ujian lengkap beserta kelas dan jam masuk. Akupun mencatat semuanya begitu pula yang lain. Di perjalanan, aku menanyakan sesuatu Dede.

“De, kamu ada nyatat daftar ujian kan..?” Tanyaku.

“Ahh, aku mah gak usah Mad, gak perlu buat aku daftar-daftar begituan, semua udah di kepala kok..” jawab Dede dengan sedikit sombong.

Akupun sedikit terheran mendengar gumaman Dede. Karena pasalnya, hampir semua murid ikut mencatat, tapi Dede malah tidak. Akupun meyakinkan dia kembali dengan menawarkan catatan daftarku untuk disalinnya.

“Loh, kok gak dicatat De? Emang kamu yakin nih, bakal hapal semua daftar..? Mending nih catatan daftarku aja kamu catat sekarang, jangan sembarangan ngambil risiko..” tawarku.

“Gak usah Mad, kamu tenang aja..” jawabnya.

“Ooh, oke deh, yaudah..” tutupku. Perjalananpun kembali kami lanjutkan.

Hari Senin pagi, aku berangkat dengan Dede kembali ke sekolah untuk menghadapi ujian. Namun aku tidak membahas sedikitpun mengenai daftar tersebut, karena sudah yakin kalau Dede bakal tau daftar ujian hari ini.

Kebetulan, aku dan Dede beda ruangan saat pembagian nomor. Setelah ujian pertama selesai, diberi waktu istirahat 15 menit. Akupun keluar sejenak untuk bertemu Dede. Aku melihat dia sedikit kebingungan dan panik. Aku bertanya…

“Kamu kenapa De, kok panik? Ujiannya susah ya..?” Tanyaku.

“Bukan itu masalahnya Mad, ini gawat. Aku salah daftar, aku pikir ujian pertama ini Ekonomi, ternyata Geografi. Aduh,,, aku menyesal udah belagak sombong karena gak mau nyatet daftar ujian..” keluhnya.

“Nah, tu kan, apa aku bilang kemaren juga apa, kamu sih sombong gitu, sekarang baru nyesal. Yaudah nih daftarku, catat aha sekarang sebelum masuk ujian berikutnya..” tutupku.

Dede pun meminta maaf dan menyesali kecerobohannya. Karena akibatnya, dia memprediksi ujian pertama ini nilainya akan jelek, karena tidak ada belajar sedikitpun.

*** ***

Cerpen Singkat Anak Sekolah

Cerita Pendek tentang pendidikan
Cerpen Anak Sekolah Dasar | Pixabay.com

Judul Cerpen : Kejujuran Bapak Tukang Becak

Hari menunjukkan jam 14.00, aku masih menunggu kakak untuk menjemputku ke sekolah, namun belum kunjung datang. Sekolah mulai sepi, semua orang sudah pulang. Akhirnya aku mengambil inisiatif untuk berjalan kaki saja.

Sesampainya di perempatan, aku melihat seorang bapak tukang bejak, akupun menghampirinya sembari bertanya..

“Pak, bisa anterin saya ke Jl. Anggrek no. 12 gak pak..?” Tanyaku.

“Oh bisa dek, silakan naik..” kamipun berangkat.

Sesampainya di depan rumah, aku membayar biaya sewa dan bapak tukang becak kembali ke perempatan. Aku menanyakan dimana kakak kepada ibu, ibu bilang dia pergi ke kebun bersama bapak.

Keesokan harinya, kejadian yang sama terulang lagi, sehingga aku kembali memutuskan untuk berjalan kaki lagi dan melihat bapak tukang becak yang kemaren di tempat yang sama juga.

Aku kembali menggunakan jasanya untuk menghantarkanku pulang. Sesampainya di rumah dan hendak membayar, Bapak Tukang becak berkata..

“Enggak usah dibayar dek, uang adek yang kemaren ternyata berlebih, selembar uang tertas terlipat dalam lembaran yang adek kasih, jadinya adek bayar 2x lipat kemaren, makanya untuk hari ini tidak usah dibayar..” kata pak tukang becak.

Akupun terkagum menyaksikan kejujuran sang bapak. Aku kembali menawarkan bayaran tapi dia terus menolak. Akhirnya, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih ya pak, kejujuran bapak sangat saya kagumi dan hargai. Semoga rezeki bapak selalu lancar dan tetap sehat ya pak..” tutupku.

Si bapak kembali pulang ke perempatan lagi seperti semula.

Yuk, Baca Juga : Cerita Pendek Tentang Jujur

*** ***

Penutup Cerita Pendek Tentang Pendidikan

Demikianlah, beberapa kumpulan contoh Cerita Pendek Tentang Pendidikan SD / SMP / SMA terbaru dalam berbagai tema. Semoga artikel kali ini bisa memenuhi permintaan kamu yang sedang mencari cerpen singkat tentang pendidikan. Terima kasih.