7+ Cerita Pendek Tentang Jujur dan Adil : Paling Menginspirasi

Cerita Pendek Tentang Jujur – Hai semuanya, Selamat datang di Blog Senipedia. Pada kesempatan kali ini, saya akan kembali mengulas mengenai Cerpen seperti pada artikel sebelumnya. Dan disini, tema yang akan saya angkat adalah Cerpen tentang Jujur dan Adil.

Perilaku jujur merupakan sifat manusia yang sangat disukai Allah. Selain mendapat ganjaran berupa pahala, bersikap jujur terhadap segala hal juga akan meningkatkan kepercayaan semua orang kepada kita.

Kumpulan Contoh Cerita Pendek Tentang Jujur yang telah saya rangkum di bawah ini, tujuannya tidak lain adalah untuk mengubah diri kita, agar bisa meningkatkan dan mempertahankan kejujuran terhadap semua hal, serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung.

Bersikap jujur juga mencakup dua hal, mulai dari bertutur kata dan berperilaku. Bahkan ada pepatah yang mengatakan “berkata jujurlah meskipun itu pahit”, karena pastinya, kebohongan hanya menyelamatkan sementara tapi mencelakakan selamanya.

Kumpulan Cerita Pendek Tentang Jujur Yang Menginspirasi

Untuk itulah, cerita pendek tentang jujur dalam kehidupan sehari-hari pada artikel ini, saya dedikasikan untuk semua pembaca, terutama anak-anak dalam membentuk karakter terbaik dan positif mereka untuk masa depan yang lebih baik nantinya.

Cerita Pendek Tentang Jujur Yang Menginspirasi

Cerpen tentang kejujuran
Cerpen Tentang Kejujuran | Thepanicchannel.com

Judul Cerpen : Mengembalikan Dompet yang Tercecer

Hari Minggu yang lalu, aku dan David memanfaatkan waktu untuk bermain PlayStation di salah satu tempat rental, dekat perempatan jalan. Jarak tempat sewa tersebut dengan rumahku hanya berkisar beberapa puluh meter saja.

Setelah bermain 1 jam, aku dan David memutuskan untuk pulang, selain itu hari juga sudah menunjukkan pukul 13.00 dan perutpun mulai lapar. Di perjalanan, tiba-tiba saja David melihat sebuah dompet yang tercecer di tepi jalan.

“Eh Ki, ada dompet ki, ini dompet siapa ya? Kita ambil gak nih? Mayan ki buat uang jajan..” Ucapnya.

“Eh jangan gitu dong Vid, ini kan bukan hak milik kita. Kalau kita ambil dan belanjakan uangnya, sama artinya dengan mencuri Vid..” Ucapku sembari melarang.

“Yaudah, sekarang kita ambil aja dulu, tapi bukan untuk dibelanjakan isinya jika ada, tapi untuk disimpan, siapa tahu nanti atau besok, pemiliknya nyari lagi ke daerah sini..” sambungku.

“Yaudah oke deh ki, kita simpan aja dulu.. Gila ki, isinya banyak men..” tutur David.

“Oalahh iya ya, kalau dihitung lebih sejuta ini..” sambungku.

Akhirnya dompet tersebut kami bawa pulang dan simpan baik-baik. Selain menunggu pemilik aslinya, tujuan kami mengambil dompet tersebut juga untuk menyelamatkannya dari orang yang berniat jahat atau ingin mencuri dan memanfaatkan uang didalamnya.

Keesokan harinya, aku dan David kembali mengunjungi tempat tersebut sembari menunggu orang yang bertanya. Namun setelah menunggu beberapa jam, tidak ada satupun orang yang terlihat kehilangan dompet.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada mobil pribadi berhenti di dekat kami. Setelah turun dari mobil, tanpa basa-basi dia langsung bertanya ke kami..

“Dek, kalian ada menemukan dompet di sekitar sini nggak..?” Ucapnya.

Kami hanya terdiam, karena takut bukan bapak ini pemilik aslinya.

“Dompet tersebut berisi uang 1 juta rupiah. Dan yang lebih penting lagi, KTP, SIM, Kartu BPJS dan ATM bapak ada disitu..” Sambungnya.

Aku semakin yakin bahwa bapak inilah pemiliknya, karena apa yang dia ucapkan sangat sesuai dengan kriteria dari isi dompet yang kami temukan. Akupun memberanikan diri untuk bermain bertanya..

“Memangnya warna luar dompet tersebut apa pak? Biar kami bantu carikan..” tawarku.

“Warnanya Abu-abu dek, bahannya dari kulit..” jawabnya.

Karena semakin yakin, akupun berbisik ke David dan kami memutuskan untuk memberikan dompet tersebut.

“Apakah ini dompet bapak..?” Tanyaku. Dia pun meminta izin untuk mengeceknya.

“Alhamdulillah, benar sekali nak, ini dompet bapak. Kalo kalian berdua belum yakin, ini ada bukti nama di Surat Nikah bapak sama persis dengan nama di KTP dalam dompet ini, begitu pula dengan fotonya..” ucapnya.

“Ya sudah, sebagai tanda terima kasih bapak, ini ada sedikit rezeki untuk kalian berdua, berkat kejujuran dan kebaikan hati kalian..” ucap sang bapak sambil tersenyum. Aku melihat dia menyodorkan uang tukaran 100 ribu sebanyak 2 lembar. Aku dan David awalnya menolak.

“Tidak apa-apa nak, ambil saja. Anggap ini adalah hadiah dari bapak, sebagai tanda terima kasih..” tuntasnya.

Akhirnya aku dan David menerima uang tersebut, dan si bapak pun pergi.

*** ***

Cerita Pendek Tentang Kejujuran

Judul Cerpen : Ini Uang Siapa?

Pagi itu, sesampainya di sekolah aku melihat Aldi berputar-putar seperti kebingungan, namun aku tidak tahu apa penyebabnya. Aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Aldi, kamu kenapa? Ada yang bilang ya..?” Tanyaku.

“Iya nih Ki, uang yang dikasih ibu 10.000 tadi pagi buat bayar LKS, jatuh entah dimana. Perasaan pas nyanpe pagar sekolah tadi masih di saku deh..” jawabnya.

Mendengar jawaban Aldi, aku merasa kasihan dan membantunya mencari uang tersebut di sekeliling kelas. Tidak lama kenudian, lonceng masuk berbunyi, sedangkan uang Aldi yang hilang belum kunjung ditemukan.

Ketika Guru masuk kelas, mula-mula kami mengucapkan salam dan berdo’a bersama-sama. Setelah itu, Pak Guru membuka pembelajaran dengan mengajukan sebuah pertanyaan.

“Anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran, bapak ingin bertanya sesuatu. Ada gak yang merasa kehilangan uang..? Bapak menemukannya di bawah meja bapak ini..” tanya Pak Guru.

Tiba-tiba saja Yoda dan Wira menjawab dengan spontan secara bersamaan..

“Saya pak..”

Setelah itu, Aldi pun menjawab.. “itu uang saya pak..”.

Karena ada 3 murid yang mengaku, akhirnya pak guru pun dibuat kebingungan.

“Baiklah, untuk membuktikan uang ini milik siapa. Coba kalian bertiga sebutkan berapa jumlah uang yang bapak temukan..” tantang pak guru.

Seketika, Wira dan Yoda terlihat bingung. Namun Aldi langsung menjawab.. “Tukaran 10.000 pak..”

Akupun menolong Aldi dengan memberi dukungan.. “Benar pak, tadi sebelum masuk, Aldi memang sempat cerita kalau dia kehilangan uang 10.000 yang digunakan untuk membayar LKS Pak…” Jawabku.

Mendengar jawaban tersebut, mata Pak Guru langsung menghadap Yoda dan Wira..

“Jadi, kalian berdua berbohong..?” Tanya Pak Guru.

“I..i..i..iya pak..” jawab mereka berdua secara bersamaan dengan sedikit gugup.

“Anak-anak, mulai sekarang, jangan pernah berkata bohong untuk meraih sesuatu yang bukan hak milik kita, berbohong adalah salah satu sifat tercela dan harus dihindari..” tuntas pak guru.

Selepas itu, Yoda dan Wira hanya bisa bertunduk malu dan merasa sangat bersalah.

*** ***

Cerita Pendek Tentang Jujur Menepati Janji

Cerpen Tentang Kejujuran Menepati Janji
Cerpen Tentang Kejujuran Menepati Janji | Pixabay.com

Judul : Hujan di Malam Minggu

Sepulangnya dari Kampus sore itu, aku dan Wira menaiki Angkot tujuan Brebes. Cuaca cukup mendung padahal masih jam 16.00, sepertinya hujan deras akan turun sore ini atau paling tidak nanti malam. Padahal, aku dan Wira sudah ada janji untuk bertemu.

Di perjalanan pulang…

“Ky, gimana nih? Kayaknya bakal hujan deh nanti malam, bisa berabe nih acara ngumpulnya kalo ujan..” ucap Wira kepadaku.

“Kita lihat aja dulu nanti. Kalaupun hujan, siapa tau cuman sebentar atau hanya gerimis doang, aku pasti dateng kok ke rumah kamu nanti malam..” ucapku sambil meyakinkan Wira.

Tidak selang beberapa lama, aku sampai ke rumah dan berpamitan dengan Wira.

Malam harinya, benar saja, hujan turun dengan lebatnya, Aku masih ragu akan jadi pergi atau tidak. Namun karena sebelumnya telah berjanji untuk datang, aku semakin bimbang mengingat cuaca yang buruk seperti ini.

Tiba-tiba Wira meneleponku…

“Ky, gimana? Jadi gak nih?..” Tanyanya.

“Tunggu Ra, aku gak bisa mastiin ya, kan kamu tau sendiri cuaca lagi gak bersahabat…” Ungkapku.

“Iya sih, yaudah deh Ky, kalo emang dirasa gak memungkinkan, gapapa, daripada nanti kamu jadi sakit. Kita ketemunya besok aja di sekolah..” tutupnya.

Kulihat jam menunjukkan pukul 20.00, sementara hujan masih tengah lebat-lebatnya. Akhirnya setelah mempertimbangkan beberapa lama, akupun memutuskan untuk pergi menggunakan mantel dan payung.

Ini juga demi menghargai janji yang telah kubuat tadi siang. Jam 08.30, aku sampai di depan rumah Wira. Dia terlihat kaget karena kenekatanku dalam menepati janji, seakan tidak memikirkan risiko yang mungkin terjadi.

“Loh Ki, kamu datang juga jadinya, kok dipaksain banget sih? Nanti sakit loh..” bukanya.

“Gapapa Ra, aku gitu orangnya kalo udah janjian, sebisa mungkin bakal aku tempati..” ucapku.

“Makasih banyak ya Ki, aku salut sama prinsip kamu dalam menepati janji. Bentar ya, aku ambilin handuk dulu..” tutupnya.

*** ***

Kisah Nyata Kejujuran Seseorang

Judul Cerpen : Goresan Mobil

Cuaca cukup panas, sang Surya seakan menggerogoti tubuh dan menusuk ke dalam. Karena hari libur, aku dan 3 temanku memutuskan untuk mandi ke sungai tempat biasa kami bermain. Dalam perjalanan, sepeda salah satu temanku menggores dinding mobil yang tengah parkir.

“Sreekkk…” Suara goresan stang sepedanya di bagian pintu depan, alhasil terlibat jelas bekas gorekan yang membekas. Aku dan 3 temanku seketika langsung panik dan kebingungan.

“Waduh, gimana dong ini? Pasti kena marah kita bro. Untung yang punya lagi gak disini.. Gimana nih…??” Ucapku seraya sedikit panik.

“Yaudah gini aja, kita pergi dulu dari sini, nanti kalo disini aja pasti orang bakal curiga..” jawab salah satu temanku.

Akhinya kami semua pergi menjauh sedikit dari tempat tersebut, sembari memperbincangkan dan mencari solusi jalan keluar.

“Gini aja bro, daripada ngambil risiko dengan lari, pasti dosa dong, dan kita pun akan merasa bersalah terus. Gimana kalo kita datangin langsung yang punya mobil, trus minta maaf karena enggak sengaja udah menyenggol mobilnya..” tawarku..

“Waduh ky, kayaknya jangan deh, sumpat aku takut banget kalo nanti dia marah..” jawab temanku yang menyenggol mobil tersebut.

Kami semua memang tidak ada niat untuk lari dari masalah ini, hanya saja sedang mencari jalan keluar yang aman.

“Oke, gimana kalo kita tulis surat di selembar kertas, trus kita tempel deh di mobil itu. Isi suratnya adalah permintaan maaf kita.. Gimana..?” Tawar salah satu teman.

Akhirnya kami semua setuju untuk memakai idenya. Setelah surat selesai ditulis, kami semua kembali menuju mobil itu dan menyelipkan surat tersebut di spion mobil.

Tiba-tiba saja, sang pemilik mobil datang dan kami semua langsung ketakutan.

“Ada apa ini? Kalian lagi ngapain? Itu kertas apa..?” Tanya pemilik mobil.

Awalnya kami semua hanya terdiam, kemudian aku memberanikan diri untuk menjawab.

“Begini om, tadi kami tidak sengaja menyenggol mobil om dan akhirnya tergores sedikit. Karena kami takut dimarahi, makanya kami tulis surat sebagai tanda permintaan maaf kami semua, dan menempelkannya disini..” jawabku.

Mendengar jawabanku tersebut, pemilik mobil rupanya langsung tersentuh dan terkagum dengan kejujuran kami.

“Ooh, begitu ceritanya. Tidak usah takut, om maafkan kok. Om juga sangat bangga dan salut dengan kejujuran kalian. Karena zaman sekarang, sangat sulit mencari pemuda-pemuda yang mau bersikap jujur dan mengakui kesalahan mereka..” tuntas pemilik mobil

Akhirnya, aku dan teman-teman semua merasa lega dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju sungai.

*** ***

Cerpen Kejujuran Hati

Cerpen Kejujuran Hati
Cerpen Kejujuran Hati | Pixabay.com

Judul Cerpen : Rasa Yang Sama

Sebenarnya, sejak duduk di bangku kelas 2 SMA dulu, aku sudah jatuh hati padanya, dia bernama Mira, teman sekelas yang cantik, baik dan pintar. Namun apa daya, mengaguminya dalam diam ternyata menjadi pilihanku.

Bukan tanpa sebab, ini bermula dari kesadaran pribadi saja. Aku merasa bukanlah sosok lelaki yang patut dan pantas untuk mendapatkan cintanya. Pesimis memang, namun begitulah realitanya.

Satu tahun lebih aku memendam rasa ini dalam-dalam, hingga pada akhirnya hari ini menjadi hari terakhir sekolah, sebelum ujian nasional yang akan diselenggarakan dua Minggu berikutnya.

Aku berinisiatif, dua minggu kedepan ini tidak akan lagi mengingat Mira, dan mengusirnya jauh-jauh dari pikiranku. Aku bertekat untuk fokus belajar demi menghadapi UN, meski sejatinya ini bukanlah perkara mudah.

Singkat cerita, UN pun selesai. Aku kembali bisa bertemu Mira di sekolah seperti biasa. Kedatangan kelas 3 ke sekolah adalah ketika melihat hasil ujian, lulus atau tidaknya. Alhamdulillah, kami lulus 100%.

Sore harinya, mayoritas anak kelas 3 mengajak untuk jalan-jalan ke pantai yang kebetulan hanya berjarak 3 km dari lokasi sekolah, dalam rangka merayakan kelulusan ini.

Tiba-tiba saja Mira mendatangiku.

“Ky, kamu ikut jalan-jalan gak sama temen-temen..?” Tanya Mira.

“Rencana sih ikut Ra, lagian ini kan dalam rangka kebersamaan juga..” ungkapku.

“Gini Ky, aku pengen ikut tapi gak ada temen. Kamu bareng aku aja ya? Mau nggak..?” Tawar Mira.

“Ohh, gapapa Ra, kamu bareng aku aja..” tuntasku dan kami semuapun berangkat.

Sepulangnya dari sana, hari mulai malam dan jam dinding menunjukkan pukul 19.00. Tiba-tiba saja Mira mengajakku untuk mampir sejenak di salah satu Cafe tepi jalan untuk minum sembari ngobrol.

Di tengah obrolan, Mira membuka percakapan yang sedikit privasi..

“Ky, ngomong-ngomong, ada gak sih, yang mau kamu ungkapin ke aku? Bukan apa sih, ini kan pertemuan terakhir kita di sekolah..” Ucapnya seraya tersenyum simpul.

Aku yang semakin salah tingkah oleh senyumnya mulai gugup..

“Ungkapin apa ya Ra, sedih sih karena kita semua bakal berpisah, setelah 3 tahun bersama..” ucapku.

“Itu doang? Masa gak ada sih yang mau diungkapin ke aku, dalam hal pribadi gitu sih.. hehe..” balasnya.

Aku merasa Mira mulai memancingku untuk mengajak ke obrolan yang sedikit personal. Di sisi lain, aku juga berfikir ada benarnya apa yang dibilang Mira. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya.

“Ra, kalo boleh jujur, sejak kelas 2 dulu, aku udah jatuh hati sama kamu. Kamu adalah orang yang selalu ada dalam pikiranku dan hatiku..” ucapku.

Belum selesai aku bicara, Mira langsung memotong pembicaraanku sambil memegang kedua tanganku.

“Iya Ky, aku ngerti dan paham banget kok, gimana perasaanmu ke aku. Sejujurnya aku juga udah lama mendam perasaan ke kamu. Tapi aku berpikir enggak mungkin aja aku yang duluan ngungkapin. Makanya aku pancing kamu biar duluan ngomong..” tuntasnya.

Mendengar jawaban Mira, tiba-tiba saja ada rasa yang amat berontak dan bergejolak dalam hatiku. Aku merasa Tuhan telah menjawab semua do’a-do’a ku.

Tanpa berlama-lama, aku mengungkapkan segala harapanku kepadanya, dan dia menerima dengan tulus. Tamat.. wkwk..

*** ***

Cerita Pendek Tentang Jujur Singkat

Judul Cerpen : Jujur membawa Berkah

Hari ini, aku pulang sekolah agak cepat, dikarenakan para guru mengadakan rapat, sehingga semua murid dipulangkan lebih awal. Sesampainya di rumah, Ayah bertanya kepadaku.

“Ky, kamu ada ngeliat duit bapak nggak? Semalam bapak tarok dalam saku celana ini..” tanya bapak seraya menunjukkan celana tersebut.

“Enggak ada pak, aku gak ada liat ataupun ngambil uang di saku celana tersebut..” tuturku.

“Oh iya, Indra mana pak? Dia udah pulang sekolah atau belum..?” Tanyaku.

“Udah tadi, tapi setelah itu dia langsung buru-buru pergi main, katanya mau ke rumah Kevin..” ucap bapak.

Mendengar jawaban tersebut, aku langsung curiga pada Indra. Karena biasanya jam segini dia belum pergi main, karena harusnya ini jam tidur siangnya.

Setelah ganti baju, aku langsung berpamitan keluar sejenak.

Sesampainya di persimpangan jalan, aku tiba-tiba melihat Indra sedang bermain PS di salah satu tempat perentalan. Aku langsung menghampiri dan memanggilnya keluar sebentar.

“Ndra, tadi Bapak bilang dia kehilangan duit, kamu ada ngeliat atau ngambil gak..?” Tanyaku dengan sedikit tegas.

Mukanya seketika terlihat langsung pucat dan sedikit ketakutan. Aku semakin curiga ditambah lagi dia hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaanku.

“Udahlah, kamu jujur aja, gak usah bohong sama abang.. Kalo kamu ngaku sekarang, abang gak bakal laporin ke bapak kok..” ucapku.

“Iya deh bang, aku yang ngambil tadi, soalnya teman-teman pada ngajakin main PS, sedangkan uangku tidak ada..” jawabnya dengan sedikit sedih.

Sesampainya di rumah, aku memang tidak mengadukan ke bapak bahwasanya Indra lah yang mencuri uang tersebut. Namun ketika makan malam, Indra tiba-tiba jujur kepada Bapak dengan spontan.

“Pak, maafin Indra ya, sebenernya Indra yang ngambil uang dalam saku celana bapak. Ini semua Indra lakukan karena ingin sekali bermain PS tadi siang bersama teman-teman Indra yah..” tutur Indra dengan muka penuh penyesalan.

“Ohh jadi kamu yang ngambil..? Kenapa tidak diminta saja langsung ke bapak, pasti bapak kasih kok. Mulai sekarang, jangan pernah mencuri lagi ya, kalau mau sesuatu itu langsung minta saja kepada bapak..” jawab Bapak.

“Iya yah, Indra gak bakal ngilanginnya lagi..” tuntas Indra.

“Nah, karena kamu udah mau jujur sama bapak, besok uang jajan sekolah kamu bapak tambah..” gumam bapak.

Terlihat wajah senang dan ceria terpancar dari wajah Indra. “Yang benar pak..? Makasih banyak pak..” jawab Indra dengan muka riang.

“Iya, sama-sama..” tutup bapak.

*** ***

Cerita Pendek Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari

Cerita Pendek Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari
Cerita Pendek Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari | Siedoo.com

Judul Cerpen : Ponsel Yang Hilang

Sore itu terasa begitu kacau, semua hadir ketika Smartphone kesayanganku hilang, tercecer entah dimana. Tempat yang aku kunjungi sebelumnya sudah aku cek kembali, namun tak kunjung bertemu.

Berulang kali aku telepon, ponsel tersebut sudah tidak aktif. Aku semakin curiga, berpikir bahwa ponsel tersebut telah ditemukan oleh seseorang, kemudian dia menonaktifkannya untuk menghindari si pemilik.

Aku menemui salah satu teman yang kebetulan sedang ngopi di kedai. Aku meminjam smartphone miliknya untuk membuat postingan Facebook, yang mengabarkan bahwasanya ponselku telah hilang, sekaligus untuk meminta pertolongan.

Baru saja aku login ke akunku, aku melihat postingan Bu Maya (tetanggaku), yang mengatakan telah menemukan sebuah ponsel tercecer di tepi jalan. Tanpa basa-basi lagi, aku segera mengunjungi rumahnya.

Sesampainya disana, aku langsung menanyakan mengenai ponsel yang ditemukannya itu.

“Bi, apa benar bibi menemukan ponsel tercecer di jalan..?” Tanyaku.

“Iya ky, ibu menemukannya di halaman rumah, tapi ponselnya mati, mungkin karena adanya sedikit benturan. Ngomong-ngomong ada apa ya ky..?” Jawab bibi Maya.

“Gini bi, aku rasa itu ponsel aku deh, soalnya kebetulan dari tadi siang ponselku hilang bi, dan kebetulan juga aku lewat di halaman rumah bibi sebelumnya..” jawabku.

Kemudian Bibi Maya menunjukkan ponsel yang ditemukannya itu. Benar saja, ternyata sama persis dengan Smartphoneku. Aku kemudian mengaktifkan ponsel tersebut untuk meyakinkan Bibi Maya bahwa itu adalah milikku yang hilang tadi.

“Makasih banyak ya bu, udah menemukan ponselku. Padahal tadi aku hampir putus asa untjk bisa mendapatkannya lagi..” ucapku.

“Enggak usah berterima kasih sama bibi ky, ponsel itu sebenernya ditemukan oleh anak-anak itu..” ucap bibi sambil menunjuk ke arah halaman rumah, yang ketika itu ada sekitar 5 orang anak-anak yang tengah bermain.

Aku langsung menghampiri mereka sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu, aku mengajak mereka semua makan nasi goreng bersama di warung pak Mamat, berkat kebanggaanku atas kejujuran mereka.

*** ***

Cerita Singkat Pemimpin Yang Adil

Judul Cerpen : Menangani Kasus Penculikan

Seisi kampung sedang heboh-hebohnya, kejadian penculikan kembali sering terjadi, setelah sekian lama tidak lagi ada. Oleh karena itu, pemuda kampung membagi tugas jadwal piket malam / kegiatan ngeronda.

Di minggu pertama, semuanya aman terkendali. Hari pertama di Minggu berikutnya adalah giliran aku dan 5 orang lainnya. Hari sudah menunjukkan pukul 02.00 dinihari, 3 temanku sudah tertidur.

Aku dan 2 lainnya berinisiatif untuk berkeliling kampung dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan, aku melihat seseorang berjalan mengendap ke arah belakang rumah, melewati gang kecil yang ada di antara rumah warga.

“Bro, kayaknya itu ada orang deh..” ucapku.

“Ah yang benar ky, perasaan gak ada siapa-siapa deh..” bantah salah satu temanku.

“Beneran bro, aku ngeliatnya langsung. Yuk kita cek..” ajakku.

Aku dan mereka pun pergi mengecek ke lokasi tersebut. Ternyata benar saja, kami menemukan seseorang yang tengah sibuk mencongkel jendela rumah warga dengan sebuah benda tajam.

Aku dan teman-teman menggiringnya ke rumah Pak RT untuk disidang pagi ini. Namun, kami belum berani membuka topeng si pencuri tersebut, dan sepakat supaya Pak RT saja yang membukanya nanti pagi.

Pada pagi harinya, banyak warga yang telah berkumpul. Kemudian, Pak RT membuka topeng pencuri itu. Sontak semua warga kaget ketika mendapati bahwa orang yang dibalik topeng itu ialah keponakan bapak RT sendiri.

Dengan tegas, Pak RT berkata..

“Meskipun kamu adalah keponakanku, jangan harap aku akan menolongmu. Hukum akan tetap aku tegakkan sebagaimana mestinya…” Tuntas Pak RT.

Mendengar ucapan tersebut, aku dan seluruh warga sangat kagum dan bangga terhadap sikap beliau. Dia telah mencerminkan keadilan dalam memimpin.

Yuk, baca juga 7+ Cerita Pendek Motivasi ini.

Penutup

Demikianlah, ulasan kali ini mengenai Kumpulan contoh cerita pendek tentang jujur dan adil. Melalui artikel ini, kami harap bisa menjadi inspirasi, motivasi dan pembelajaran bagi kita semua, tentang betapa pentingnya bersikap jujur dan adil dalam menjalani kehidupan. Terima kasih. (Referensi).