Cerita Malin Kundang Anak Durhaka : Legenda Rakyat Sumatera Barat

Berikut adalah Cerita Malin Kundang Lengkap beserta Gambar dan Hikmahnya, sebuah Dongeng Nusantara asal Sumatera Barat.


Cerita Malin Kundang – Pada kesempatan kali ini, Admin Senipedia akan menguraikan secara lengkap mengenai salah satu Cerita Rakyat paling populer di Indonesia, yang telah banyak diadaptasi ke dalam beberapa media seni, baik itu sinetron, drama hingga novel yang laris dan banyak peminat.

Cerita Malin Kundang berasal dari Sumatera Barat. Dari sekian banyak Kisah Legenda di Indonesia, Kisah si Anak Durhaka yang satu ini sangat layak untuk kita ketahui. Karena selain alur ceritanya yang maju-mundur, juga sangat mudah untuk dipahami dan diingat.

Di sisi lain, ada pesan moral dalam cerita Malin Kundang yang sangat patut untuk diaplikasikan ke diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikannya pembelajaran yang berharga dalam menjalani hidup di tengah-tengah keluarga dan masyarakat.

Bagi sebagian orang, Makna dari Cerita Malin Kundang juga punya pengaruh yang besar bila diterapkan kepada anak-anak sejak dini. Karena umumnya, mereka yang masih labil akan sangat mudah mengingat dan merekam apa yang mereka dengar saat masih kecil.

Sinopsis Cerita Malin Kundang

••••• Pantai Air Manis namanya, pesisir di sebuah daerah (saat ini: Kota Padang), hiduplah satu keluarga yang miskin, antara ayah, ibu dan anak. Tuntutan ekonomi yang makin terpuruk memunculkan niat bagi sang Ayah untuk mengadu nasib ke rantau orang.

Tidak lama setelahnya, anak semata wayang mereka si Malin Kundang mengikuti jejak ayahnya untuk merantau pula. Nasib baik pun menghampiri. Di perantauan, dia menjadi orang yang kaya dan menikah. Setelah itu, dia berhasil menjadi orang terpandang dengan gelimang harta.

Beberapa lama menikah, sang istri mengajak Malin mengunjungi suatu tempat, dan ternyata tempat tersebut adalah kampung halaman si Malin, yang disana berada rumah dan ibu kandungnya. Setelah sampai, sang ibu mendapat kabar bahwa Malin telah pulang. Betapa senangnya hati.

Namun sayang, Malin yang telah bergelimang harta dan tahta malah malu mengakui kalau si tua renta itu adalah ibu kandungnya. Dia malu kepada istri dan para awak kapal. Sang ibu pun menangis dan akhirnya murka, kemudian dia meminta kepada Allah SWT untuk memberikan hukuman setimpal kepada anaknya.

Allah SWT pun mendengar Do’a sang Ibu. Tidak lama setelah itu, Malin Kundang, Istri, para awak kapal hingga fisik kapal dan seluruh properti didalamnya berubah menjadi Batu. Itulah yang kita kenal saat ini sebagai “Batu Malin Kundang” yang ada di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat. •••••

——-

Di atas adalah Cerita Singkat Malin Kundang yang saya rangkum dalam bentuk sinopsis. Inti ceritanya, Malin adalah anak durhaka yang tidak mengakui ibu kandungnya karena merasa malu, dan akhirnya dikutuk menjadi Batu.

Nah, dari rangkaian singkat di atas, tentunya kamu sudah faham kan, bagaimana penjabaran mengenai cerita malin kundang secara singkat ? Jika belum, tenang saja, dibawah ini akan saya uraikan mengenai Cerita Legenda Malin Kundang secara Lengkap. Silakan disimak sampai selesai ya…

Cerita Malin Kundang Secara Lengkap

Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga yang miskin di tepian pesisir pantai di Sumatera Barat. Sepasang suami-istri yang mempunyai anak tunggal bernama Malin Kundang.

Seorang anak yang kuat, gigih dan pemberani. Dia sangat suka mengejar hewan terutama Ayam. Hingga di suatu hari, kakinya tersandung batu dan menyebabkan luka di lengan tangan sebelah kanan.

Suatu hari, ayahnya memutuskan untuk pergi merantau ke daerah lain, dengan harapan bisa mengubah ekonomi keluarga mereka menjadi lebih baik. Sang Istri dan anak yang masih kecil akhirnya tertinggal di desa.

Hingga Malin beranjak dewasa, sang ayah tak kunjung pulang, sedangkan si ibu terlihat semakin tua dan sering sakit-sakitan. Melihat kondisi tersebut, Malin merasa sangat kasihan.

Melihat Malin yang begitu rajin dan suka bekerja keras, akhirnya seorang Saudagar tertarik untuk mengajak Malin bekerja bersamanya di kapal miliknya. Malin pun sangat senang mendengar hal itu.

Hingga di suatu hari, setelah pulang dari hutan dan membawa kayu bakar, dengan berat hati dia katakan bahwa akan pergi merantau. Hal ini membuat hati sang ibu menjadi pedih dan akhirnya menangis.

Karena jika Malin pergi, maka dia akan tinggal sendiri di rumah. Sedangkan kondisi kesehatannnya yang semakin parah membuat dia kesusahan dalam beraktivitas mencari makan sehari-hari.

Dengan segala pertimbangan dan diiringi air mata yang mengalir. Akhirnya sang ibu memperbolehkan Malin untuk pergi merantau, dengan jangka waktu yang tidak ditentukan.

1. Malin Kundang Pergi Merantau

Keesokan harinya, berangkatlah Malin menuju Pesisir pantai, yang diakhiri dengan lambaian tangan sang ibu sambil memasuki kapal yang ditumpangi. Deraian air mata tak terbendung diantara mereka berdua.

Kasih sayang yang besar dari seorang ibu nyatanya tak bisa disembunyikan meski ketegaran sekuat gunung sekalipun. Ibunya menangis terisak sembari kapal Malin kian menjauh ke tengah laut.

Malin Kundang menumpang di sebuah kapal milik seorang Saudagar Kaya. Dia banyak belajar mengenai ilmu pelayaran dan kelautan dari para awak kapal selama di perjalanan.

Tiba-tiba saja, kapal yang dia tumpangi diserang oleh sekelompok bajak laut. Para perompak merampas semua harta benda dan segala isi kapal. Bahkan tidak sedikit dari penumpang kapal yang terbunuh.

Untungnya, Malin berhasil menyelamatkan diri dari penggeledahan para perompak karena bersembunyi di suatu ruangan. Ia bersembunyi hingga para perompak itu pergi. Akhirnya dia selamat.

Karena peristiwa tersebut, bangkai kapal tanpa awak proesional yang ditumpanginya menjadi terombang-ambing di tengah lautan, tanpa arah dan tujuan.

Sekian lama berlajar tanpa pedoman, akhirnya kapal tersebut mendarat di sebuah pantai. Malin berjalan menelusuri daratan, lalu mendapati sebuah desa yang subur, dan kaya akan sumber daya alamnya.

2. Malin Kundang Menjadi Kaya dan Menikah

Malin akhirnya tinggal dan menetap di desa tersebut bersama penduduk lainnya. Hari demi hari dilalui dengan bekerja penuh kesungguhan, giat, tanpa lelah dan terus bersemangat.

Akibat kesungguhan yang dilakukan setiap hari, lambat laun Malin pun berubah menjadi sosok yang kaya raya, punya harta berlimpah, beberapa buah kapal dan prajurit / awak kapal yang banyak pula.

Setiap hari berlalu, kekayaannya semakin bertambah, namanya pun mulai dikenal luas hingga ke luar daerah yang jauh sekalipun, sebagai seorang raja / saudagar yang kaya raya dan baik hati.

Tidak lama kemudian, dia jatuh hati pada seorang gadis dan akhirnya mempersunting gadis tersebut. Terjadilah pesta besar dengan undangan yang anat banyak. Hidupnya begitu mewah dan bahagia.

Namun di sisi lain, sang ibu yang tertinggal sendirian di kampung halaman, mendapati nasib yang amat terbalik dengan sang anak, yakni kondisi kesehatan dan ekonomi yang kian memburuk.

Setiap hari hingga matahari terbenam, ibunya selalu datang ke tepi pantai menunggu kepulangan sang anak dengan hati yang semakin bersedih. Setiap hari hingga bertahun-tahun lamanya.

Bahkan setiap ada kapal yang akan berlayar, ibunya selalu menitip pesan untuk Malin. Begitu juga saat ada kapal yang berlayar, dia selalu menanyakan dimana dan bagaimana keadaan anak tersayangnya.

Hingga suatu hari, sang ibu mendapat kabar bahwa anaknya telah sukses dan telah menikah serta hidup dengan mewah. Raut wajah sang ibu yang selalu murung dan bersedih langsung senang dan tersenyum lebar.

Setelah mendengar kabar tersebut, dia terus mendo’akan sang anak agar selalu diberi kesehatan, kesejahteraan, selalu menjalankan perintah Yang Maha Kuasa dan cepat pulang.

Selain itu, karena berita ini, si ibu semakin bersemangat mengunjungi pesisir pantai setiap hari, berharap anaknya bisa pulang ke kampung secepat mungkin.

3. Malin Kundang Mengunjungi Kampung Halaman

Suatu Hari, sang Istri mengajak Malin untuk berjalan-jalan menelusuri lautan, bersama kapal mewah dan awak yang banyak serta berpengalaman. Akhirnya, mereka berlabuh di sebuah daratan.

Tanpa disadari oleh Malin, daratan tersebut ternyata adalah kampung halamannya sendiri. Saat kapal mulai berlabuh, masyarakat desa berbondong-bondong menuju pesisir pantai.

Kedatangan Malin, istri dan seluruh awak kapal disambut dengan meriah oleh penduduk setempat. Melihat hal tersebut, Ibu Malin pun ikut berdesak-desakan mendekati kapal.

Sang ibu yakin bahwa yang datang tersebut adalah anaknya, Malin. Kemudian terlihatlah dua orang yang berdiri di atas anjungan kapal, dengan pakaian yang mewah dan terkesan bangsawan.

Belum lagi Ninik Mamak menyambut secara langsung, si ibu langsung saja memeluk pemuda kaya raya yang ternyata adalah anak kandungnya. Hati si ibu begitu senang dan gembira tiada tara.

Penantian selama bertahun-tahun akhirnya terjawab pada hari itu. Ditambah lagi saat dia melihat ada bekas luka di lengan kanan, yang sama persis dengan luka di tangan Malin sewaktu masih kecil.

Ditengah-tengah pelukan, sang ibu menatap wajah Malin sambil berkata :

“Malin, Anakku. Apakah benar kau adalah Malin ? Mengapa begitu lama kau tidak memberi kabar…?”

Malin yang belum sempat berkata apa-apa, dipotong oleh istrinya yang sambil meludah dan berkata :

“Apakah wanita tua renta ini adalah ibumu ? Mengapa dulu kau berbohong padaku ? Bukankah kau mengatakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang kaya raya…?”

Mendengar kata-kata pedas dari istrinya tersebut, Malin langsung mendorong ibunya hingga tergeletak di pasir, sambil berkata :

“Hai wanita tua !, Aku bukan anakmu, ibuku tidak tua dan miskin sepertimu…”

Ucapan anak tersayangnya tersebut membuat hatinya hancur berkeping-keping. Kebahagiaan sesaat berubah menjadi kepedihan yang begitu mendalam. Dalam tangisan, ibunya berkata :

“Malin, Aku adalah ibumu, mengapa kau menjadi seperti ini, anakku…?”

Masih dalam keadaan tergeletak, sang ibu kemudian duduk dan hendak memegang kaki Malin. Namun Malin mendorongnya sekali lagi hingga ibunya kembali tersungkur ke pasir. Malin pun berkata :

“Enyahlah, Wanita gila ! Kau bukan ibuku. Aku tidak punya ibu yang kotor dan melarat sepertimu…!”

Isak tangis yang melirih dari sang ibu semakin tidak terdengar karena kehabisan suara. Ratapan dari mulut tuanya kian mengharu menusuk hati para penduduk yang melihat peristiwa tersebut.

4. Malin Kundang dikutuk menjadi Batu

Beberapa saat kemudian, Malin dan istri bersama awak kapal kembali berlayar pulang meninggalkan desa tersebut. Para penduduk pun kembali ke aktivitas mereka masing-masing.

Sedangkan sang ibu masih tergeletak pingsan di pantai. Setelah sadar, dia menatap sekeliling Pantai Air Manis mulai sepi, dan melihat kapal Malin Kundang kian menjauh ke tengah lautan.

Rasa sakit hati, kepasrahan, kemarahan, isak tangis dan rasa tidak percaya bercampur aduk menjadi satu. Akhirnya, dengan segala kerelaan dan keputusasaan, sang ibu menadahkan tangannya ke langit, sambil berdo’a :

“Ya Tuhan, Jika dia memang bukan anakku, maka aku maafkan perbuatannya. Tapi bila memang dia adalah anakku yang bernama Malin Kundang, Ya Tuhan, sesungguhnya aku meminta keadilan yang sepantasnya dari-Mu…”

Setelah berdo’a, sang ibu pergi meninggalkan pantai. Tidak lama setelahnya, cuaca yang semula cerah berubah total menjadi mendung dan gelap, diiringi turunnya hujan yang amat lebat sekali.

Tidak ketinggalan, Petir menggelegar dan Badai besar pun menyertai, akhirnya menghantam kapal milik Malin yang sedang berlayar di tengah laut.

Seketika itu pula, kapal tersebut tidak bisa menahan gelombang air laut dan badai yang besar, sehingga kapal hancur dan karam. Lalu air menggiringnya ke tepi pantai.

Pada keesokan pagi harinya, badai dan hujan telah reda, matahari mulai mrmancarkan sinarnya. Terlihatlah di kaki bukit sebongkah batu besar yang kemarin belum ada.

Ternyata batu tersebut adalah bangkai kapal Malin Kundang. Terlihat pula didekatnya sebongkah batu yang menyerupai sesosok manusia yang seakan-akan sedang bersujud.

Batu tersebut adalah tubuh si Malin Kundang yang dikutuk menjadi Batu karena Durhaka pada ibunya semasa hidup. Di sela-sela batu Malin, terdapat ikan Teri, Belanak dan ikan Tenggiri.

Konon, ikan-ikan tersebut adalah serpihan tubuh istri Malin yang tak henti-hentinya mencari suaminya Malin.

Hingga kini setelah ratusan tahun berlalu, jika ada ombak besar yang menghantam bongkahan batu tersebut, maka akan terdengar bunyi seperti jeritan manusia yang sedang meminta tolong dan penuh penyesalan.

Dan Konon, Suatu itu berasal dari suara Malin Kundang si anak durhaka. Saat ini, lokasi tersebut telah dijadikan destinasi wisata di Sumatera Barat yang terletak di Pantai Air Manis, Kota Padang.


Itulah, Cerita Malin Kundang asal Sumatera Barat secara lengkap, seorang anak durhaka yang tidak mengakui ibu kandungnya sendiri, karena telah dibutakan oleh wanita dan harta.

Hingga kini, tidak jarang legenda dari Sumbar yang satu ini diangkat dalam beberapa acara, baik diapreaiasi dalam bentuk seni drama, novel yang laris, sinetron, puisi, pentas seni dan lain-lain.

Hikmah dari Cerita Malin Kundang untuk Kehidupan

Secara keseluruhan, cerita tentang Malin Kundang ini mengisahkan seorang anak yang membenci ibunya karena dia telah kaya, bertahta dan memiliki status tinggi, sedangkan ibunya hanya wanita tua miskin, kotor dan tidak punya apa-apa.

Kendati demikian, cerita ini mengangkat konsep “sebab-akibat” dari alur yang berjalan maju-mundur. Selain itu, banyak Pesan Moral dari cerita rakyat Malin Kundang ini. Ap sajakah itu ? Ini dia :

1. Jangan Pernah Menyakiti Orang Tua

Orangtua khususnya ibu adalah wanita yang melahirkan dan membesarkan kita sepenuh hati, tanpa mengharapkan pamrih dan balas jasa secuilpun. Dia melakukannya dengan penuh keikhlasan setiap detiknya.

Ibu Malin Kundang membesarkan dia dengan penuh perjuangan, diatas keterbatasan ekonomi dan sang suami yang tidak pernah ada kabar lagi setelah beranjak merantau. Semua dijalani dengan kesabaran yang tinggi dan harapan besar agar anaknya menjadi orang yang berguna.

Bila kita menyakiti hati mereka, maka apapun bisa terjadi, karena murka seorang ibu adalah murkanya Allah SWT. Untuk itu, tetap sayangi dan hormati dia seumur hidupmu, dalam hidup dan matinya.

2. Jangan Lupa Diri karena Gelimang Harta

Dari kisah diatas, kita mendapatkan gambaran bahwa, gila terhadap harta dan jabatan bisa melupakan segalanya, dan kenyataan ini telah berlaku sejak dahulu kala.

Apalagi jika segala yang kita punya hari ini membuat kita Lupa dan tidak menganggap ibu kandung sendiri, yang setiap hari mendo’akan yang baik-baik untuk kita dalam menjalani kehidupan.

Sebanyak apapun harta, setinggi apapun pangkat, segemilang apapun karir, ibu tetaplah ibu, sesosok wanita yang wajib disayangi, dilindungi, dihargai dan dihormati, meski bagaimanapun keadaannya disaat ini.

3. Jangan Berbohong untuk Meyakinkan Orang Lain

Pada penggalan cerita di atas, Malin Kundang berbohong kepada istri dan mertuanya, dia mengatakan bahwa dia datang dari keluarga bangsawan, sehingga dia berhasil mempersunting gadis cantik dari golongan saudagar kaya di rantau.

Berbohong hanya menyelamatkan sementara, tapi menjatuhkan dan mencelakakan selama-lamanya. Untuk itu, teruslah berkata jujur dalam hal apapun, meski harus berakhir pahit dan mendapatkan apa yang tidak dikehendaki selepasnya.

4. Laki-laki Tetaplah Milik Ibunya

Seseorang bertanya : “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah SAW menjawab, “Ibunya.” (HR. Muslim).

Ibu adalah satu-satunya orang yang akan terus memiliki anak laki-lakinya sampai dunia kiamat. Meskipun putranya telah menikah, punya anak dan cucu, tetap dia masih milik ibunya, bukan istrinya.

Rasulullah SAW bersabda,”Seandainya aku (dibolehkan) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain maka pasti aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Muslim).

Selanjutnya : Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir

Penutup

Demikianlah, ulasan mengenai Cerita Malin Kundang si anak durhaka asal Sumatera Barat. Semoga dengan adanya Cerita Rakyat Nusantara ini, bisa memberikan wawasan tambahan dan memetik hikmah yang terkandung didalamnya. Terima kasih. (Referensi).

ARTIKEL TERKAIT :

Tinggalkan komentar